- Halal bi Halal: Tradisi Bersilaturahmi dan Mempererat Persaudaraan
- Hari Terakhir Pelayanan Keswan di Bulan Suci Ramadhan INi
- Upaya Percepatan Penurunan Stunting di Wilayah Cangkrep Lor Kabupaten Purworejo
- Gerdal OPT Walangsangit di KT Semi Gintungan, Gebang
- Rakor Pemantapan Ketahana Pangan DKPP Bersama KADISHANPAN JATENG
- Meski Sedang Puasa, Pelayanan Keswan DKPP Tetap Berjalan
- Menjaga Keamanan Bahan Pangan Asal Hewan, DKPP Laksanakan Pengawasan
- KTNA Kecamatan Purworejo Perkuat Barisan: Susun Pengurus Baru dan Rencana Kerja Strategis 2026
- Antisipasi Kemarau Panjang, Krandegan Tambah Pompa Tenaga Surya 15 PK
- Dari Petak 2,5 Meter, Terbaca Potensi Panen Padi Petani Kedungpomahankulon
POPT Tangani Pohon Kelapa yang diserang Oryctes renoceros (kwangwung)

Berbagai faktor dapat menyebabkan
turunnya produksi tanaman Kelapa. Faktor tersebut dapat berupa Dampak Perubahan
Iklim, Kebakaran lahan, serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Organisme
Pengganggu Tanaman yang menyerang tanaman kelapa dapat berupa serangan Oryctes rhinoceros; Sexava sp., Artona
catoxantha, Bronstispa longissima, Setora nitens, tungau merah (Oligonychus),
sedangkan penyakit yang sangat merugikan adalah penyakit busuk pucuk (PBP) dan
penyakit gugur buah (PGB) yang disebabkan Phytophthora sp.
Hama O. rhinoceros merupakan hama yang menyerang tajuk dan
sangat berbahaya. Serangan hama O. rhinoceros secara langsung dapat merugikan
tanaman kelapa baik tanaman belum menghasilkan
(TBM) maupun tanaman menghasilkan (TM). Kumbang dewasa O. rhinoceros akan membuat lubang gerekan ke dalam pangkal
pelepah muda dan kemudian memakan tunas muda beserta calon tunasnya. Hal
tersebut dapat mengakibatkan kerusakan pada bagian inti batang dan serangan
yang secara terus-menerus akan menyebabkan kematian pada tanaman. Persentase
serangan kumbang tanduk tergolong tinggi yakni 80% pada tanaman umur 3 tahun
dan 100% pada umur 1-1.5 tahun.
Oleh karena itu maka tindakan
pengendalian sangat diperlukan untuk meminimalisir penurunan produksi tanaman
kelapa. Pengendalian dapat dilakukan secara kimia maupun secara biologi.
Pengendalian secara kimia dapat menimbulkan efek residu, serta dapat juga
menjadi tidak optimal. Pengendalian yang tidak optimal akan mendorong tingginya
serangan kumbang tanduk. Secara umum pengendalian kumbang tanduk selama ini
secara kimiawi belum memberikan hasil yang memuaskan. Pada saat ini dianjurkan
pengendalian secara terpadu (PHT) yaitu dengan cara pengendalian biologi/hayati
dan seks feromon, karena disamping tidak merusak lingkungan juga meminimalisir
efek residu pestisida.
Selain penggunaan Seks Feromon
dapat juga dikendalikan dengan menggunakan jamur entomopatogen yaitu
menggunakan jamur Metarhizium anisopliae. Jika dilapangan ditemukan adanya
larva Oryctes rhinoceros yang mati dan telah terinfeksi M. anisopliae maka
larva terinfeksi ini dapat dimanfaatkan. Larva O. rhinoceros yang ditemukan mati atau terinfeksi jamur M.
anisopliae dikumpulkan secara terpisah. Larva O. rhinoceros tersebut kemudian
diblender atau dihancurkan, lalu ditambahkan air 100 kali berat larva O.
rhinoceros yang ditemukan terinfeksi.
Larutan larva O. rhinoceros tersebut
kemudian disiramkan kembali ke tempat/sarang O. rhinoceros agar larva O. rhinoceros pada sarang tersebut juga terinfeksi oleh M.
anisopliae.
Pada hari Selasa, 20 Agustus 2024
dilakukan gerakan pengendalian hama Oryctes rhinoceros di Poktan Lestari Desa
Aglik Kecamatan Grabag. Pengendalian ini merupakan kegiatan yang bersumber dana
dari APBN melalui Balai Perlindungan Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan
Provinsi Jawa Tengah. Bahan pengendali yang digunakan adalah Ory Lure (umpan
perangkap hama dan feromon cair) dengan bahan aktif ethyl 4-methyl butanoate
sebanyak 100 sachet beserta perangkapnya serta Metarhizium anisopliae sebanyak
126 kg. Kegiatan ini dilaksanakan oleh 25 petani dan dihadiri oleh Petugas dari
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kab. Purworejo, POPT Wilayah Kerja Grabag,
BPP Kecamatan Grabag serta Perangkat Desa Aglik.






