POPT Tangani Pohon Kelapa yang diserang Oryctes renoceros (kwangwung)

By DINPPKP 21 Agu 2024, 08:56:57 WIB Kegiatan POPT
POPT Tangani Pohon Kelapa yang diserang Oryctes renoceros   (kwangwung)

Berbagai faktor dapat menyebabkan turunnya produksi tanaman Kelapa. Faktor tersebut dapat berupa Dampak Perubahan Iklim, Kebakaran lahan, serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Organisme Pengganggu Tanaman yang menyerang tanaman kelapa  dapat berupa serangan  Oryctes rhinoceros; Sexava sp., Artona catoxantha, Bronstispa longissima, Setora nitens, tungau merah (Oligonychus), sedangkan penyakit yang sangat merugikan adalah penyakit busuk pucuk (PBP) dan penyakit gugur buah (PGB) yang disebabkan Phytophthora sp.

Hama O. rhinoceros  merupakan hama yang menyerang tajuk dan sangat berbahaya. Serangan hama O. rhinoceros secara langsung dapat merugikan tanaman kelapa  baik tanaman belum menghasilkan (TBM) maupun tanaman menghasilkan (TM). Kumbang dewasa O. rhinoceros  akan membuat lubang gerekan ke dalam pangkal pelepah muda dan kemudian memakan tunas muda beserta calon tunasnya. Hal tersebut dapat mengakibatkan kerusakan pada bagian inti batang dan serangan yang secara terus-menerus akan menyebabkan kematian pada tanaman. Persentase serangan kumbang tanduk tergolong tinggi yakni 80% pada tanaman umur 3 tahun dan 100% pada umur 1-1.5 tahun.

Oleh karena itu maka tindakan pengendalian sangat diperlukan untuk meminimalisir penurunan produksi tanaman kelapa. Pengendalian dapat dilakukan secara kimia maupun secara biologi. Pengendalian secara kimia dapat menimbulkan efek residu, serta dapat juga menjadi tidak optimal. Pengendalian yang tidak optimal akan mendorong tingginya serangan kumbang tanduk. Secara umum pengendalian kumbang tanduk selama ini secara kimiawi belum memberikan hasil yang memuaskan. Pada saat ini dianjurkan pengendalian secara terpadu (PHT) yaitu dengan cara pengendalian biologi/hayati dan seks feromon, karena disamping tidak merusak lingkungan juga meminimalisir efek residu pestisida.

Selain penggunaan Seks Feromon dapat juga dikendalikan dengan menggunakan jamur entomopatogen yaitu menggunakan jamur Metarhizium anisopliae. Jika dilapangan ditemukan adanya larva Oryctes rhinoceros yang mati dan telah terinfeksi M. anisopliae maka larva terinfeksi ini dapat dimanfaatkan. Larva O. rhinoceros  yang ditemukan mati atau terinfeksi jamur M. anisopliae dikumpulkan secara terpisah. Larva O. rhinoceros tersebut kemudian diblender atau dihancurkan, lalu ditambahkan air 100 kali berat larva O. rhinoceros  yang ditemukan terinfeksi. Larutan larva O. rhinoceros  tersebut kemudian disiramkan kembali ke tempat/sarang O. rhinoceros  agar larva O. rhinoceros  pada sarang tersebut juga terinfeksi oleh M. anisopliae.

Pada hari Selasa, 20 Agustus 2024 dilakukan gerakan pengendalian hama Oryctes rhinoceros di Poktan Lestari Desa Aglik Kecamatan Grabag. Pengendalian ini merupakan kegiatan yang bersumber dana dari APBN melalui Balai Perlindungan Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah. Bahan pengendali yang digunakan adalah Ory Lure (umpan perangkap hama dan feromon cair) dengan bahan aktif ethyl 4-methyl butanoate sebanyak 100 sachet beserta perangkapnya serta Metarhizium anisopliae sebanyak 126 kg. Kegiatan ini dilaksanakan oleh 25 petani dan dihadiri oleh Petugas dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kab. Purworejo, POPT Wilayah Kerja Grabag, BPP Kecamatan Grabag serta Perangkat Desa Aglik.





Berita Purworejo

Counter Pengunjung