Dari Petak 2,5 Meter, Terbaca Potensi Panen Padi Petani Kedungpomahankulon

By DINPPKP 12 Mar 2026, 13:43:11 WIB Penyuluhan
Dari Petak 2,5 Meter, Terbaca Potensi Panen Padi Petani Kedungpomahankulon

Dari Petak 2,5 Meter, Terbaca Potensi Panen Padi Petani Kedungpomahankulon

KEMIRI KEREN NEWS — Upaya mengetahui potensi hasil panen padi secara cepat dan akurat dapat dilakukan melalui kegiatan ubinan padi yang dilaksanakan pada Selasa, 10 Maret 2026 (10/3), di lahan sawah milik Pak Marman yang berlokasi di Desa Kedungpomahankulon, Kecamatan Kemiri. Kegiatan ini menjadi bagian dari pendampingan penyuluh pertanian kepada petani dalam memantau perkembangan tanaman sekaligus memperkirakan hasil panen sebelum panen raya dilakukan.

Kegiatan ubinan dipandu langsung oleh Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Kemiri, Umul Khasunah, S.P., M.A.P. yang memberikan edukasi kepada petani mengenai pentingnya metode ubinan dalam menghitung perkiraan produktivitas padi per hektar secara cepat dan cukup akurat.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Wibi Afni Rositawati, S.Pt. dan Agus Nugroho, S.P., serta petani setempat Pak Sumitro yang ikut menyaksikan sekaligus belajar langsung proses pengambilan sampel di lahan sawah.

Ubinan merupakan metode pengukuran produksi padi dengan mengambil sampel tanaman pada luasan tertentu. Dalam kegiatan ini, sampel diambil dari petak sawah berukuran 2,5 meter x 2,5 meter. Tanaman padi pada petak tersebut dipanen secara langsung, kemudian gabah yang dihasilkan ditimbang untuk mengetahui berat hasil panen dari luasan tersebut.

Koordinator BPP Kecamatan Kemiri, Umul Khasunah, menjelaskan bahwa kegiatan ubinan memiliki peran penting dalam memberikan gambaran awal kepada petani mengenai potensi produksi lahan yang mereka kelola.

“Ubinan menjadi salah satu cara sederhana yang dapat digunakan untuk mengetahui perkiraan produktivitas padi per hektar tanpa harus menunggu seluruh lahan dipanen. Dari sini petani bisa mendapatkan gambaran awal mengenai hasil yang akan diperoleh sekaligus melakukan evaluasi terhadap teknik budidaya yang sudah diterapkan,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa agar hasil perhitungan lebih valid dan mendekati kondisi sebenarnya, pengambilan sampel ubinan sebaiknya dilakukan di beberapa titik yang berbeda di dalam satu hamparan sawah. Hasil timbangan dari masing-masing titik tersebut kemudian dirata-ratakan sehingga dapat menggambarkan kondisi tanaman secara keseluruhan.

“Kalau ubinan hanya dilakukan di satu titik saja, hasilnya bisa kurang mewakili kondisi lahan. Oleh karena itu, biasanya diambil di beberapa titik lalu dirata-ratakan agar hasilnya lebih representatif,” tambahnya.

Dari hasil pengambilan sampel ubinan di lahan sawah milik Pak Sumitro, diperoleh hasil timbangan gabah sebanyak 2,3 kilogram. Hasil timbangan ini kemudian dikalikan dengan bilangan konversi 1,6, sehingga diperoleh perkiraan produktivitas sebesar 3,68 ton per hektar.

Namun demikian, hasil tersebut dinilai masih belum optimal jika dibandingkan dengan potensi produksi padi pada umumnya di wilayah Kecamatan Kemiri. Berdasarkan pengamatan di lapangan, kondisi ini dipengaruhi oleh serangan hama yang cukup tinggi pada tanaman padi, sehingga berdampak pada pertumbuhan tanaman dan jumlah bulir gabah yang dihasilkan.

PPL Wibi Afni Rositawati menyampaikan bahwa kondisi tanaman yang terdampak hama dapat terlihat dari beberapa rumpun yang pertumbuhannya kurang maksimal.

“Di lapangan terlihat ada beberapa tanaman yang terdampak serangan hama, sehingga pertumbuhan dan pengisian bulirnya kurang optimal. Kondisi ini tentu berpengaruh terhadap jumlah gabah yang dihasilkan saat ubinan,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi bahan evaluasi bersama antara penyuluh dan petani agar pada musim tanam berikutnya dapat dilakukan pengendalian hama yang lebih efektif melalui penerapan pengendalian hama terpadu (PHT).

Sementara itu, Pak Kasidi, salah satu petani yang hadir dalam kegiatan tersebut, mengaku kegiatan ubinan sangat bermanfaat karena memberikan gambaran nyata mengenai potensi hasil panen yang akan diperoleh.

“Dengan adanya ubinan seperti ini, kami petani jadi tahu kira-kira berapa hasil panen nanti. Kami juga bisa mengetahui kendala yang terjadi di sawah, misalnya serangan hama yang mempengaruhi hasil,” ungkapnya.

Ia juga berharap kegiatan pendampingan seperti ini terus dilakukan karena petani dapat belajar langsung di lapangan mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan budidaya padi.

Melalui kegiatan ubinan ini, para penyuluh pertanian tidak hanya menghitung potensi produksi, tetapi juga memberikan edukasi kepada petani mengenai pentingnya pengamatan tanaman secara rutin, pemeliharaan yang tepat, serta pengendalian hama sejak dini agar produktivitas lahan dapat meningkat.

Koordinator BPP Kecamatan Kemiri menegaskan bahwa kegiatan ubinan akan terus menjadi bagian dari pendampingan penyuluh kepada petani sebagai langkah evaluasi budidaya sekaligus upaya meningkatkan hasil produksi padi di tingkat petani.

Dengan metode sederhana melalui petak ubinan berukuran 2,5x2,5 meter, petani kini dapat membaca gambaran besar potensi hasil panen sekaligus tantangan yang dihadapi di lahan pertanian merekaTop of FormBottom of Form. Semoga.–





Berita Purworejo

Counter Pengunjung