- DKPP Purworejo Verifikasi CPCL SL Tembakau 2026 di Kelompok Tani Makmur Tani Desa Kambangan
- Tak Mau Kalah dengan Bapak-Bapak, KWT Sumber Barokah Praktek Membuat Silase untuk Kemudahan Beternak Kambing
- Pengendalian ‘Kresek’ pada Padi di Desa Kalimati, Libatkan Petani, PPL, dan Babinsa
- Resah dengan Serangan Hama Tikus, Petani Lakukan Pengendalian Bersama
- Teknologi UGV, Bantu Petani Kendalikan OPT dengan Mudah
- MENGHADIRI PERESMIAN PROYEK TAHUN 2025 & KENDURI AGUNG HARI JADI PURWOREJO KE-195
- Kelompok Tani Arso Basuki Sepakati MT II Serentak, Bahas Antisipasi Hama dan Penyakit Padi
- BPP Bruno dan POPT melakukan Monitoring Pertanaman Padi Gogo di KT Buwana Jaya Kambangan Bruno
- Ukur Hasil Panen, Petani Wonoroto Gelar Ubinan Jagung Bantuan Pemerintah TA 2025
- Panen Raya Jagung Kelompok Tani Suka Makmur Desa Cepedak Capai Hasil Mengembirakan
Tak Mau Kalah dengan Bapak-Bapak, KWT Sumber Barokah Praktek Membuat Silase untuk Kemudahan Beternak Kambing

Tak Mau Kalah dengan Bapak-Bapak, KWT Sumber Barokah Praktek Membuat Silase untuk Kemudahan Beternak Kambing
________
Tim Peliput BPP Kaligesing
Kaligesing, 23 Januari 2026
Pada umumnya, pekerjaan mencari rumput "ngarit" untuk pakan ternak kambig dilakukan oleh bapak-bapak / kaum lelaki. Namun tidak demikian hal nya dengan wilayah Kecamatan Kalgesing. Kecamatan yang merupakan sentra kambing ras Kalegsing yang kebanyakan kontur pegunungan ini memiliki perempuan-perempuan hebat yang tak hanya bisa bekerja di dapur saja, namun bahkan juga sanggup bergulat dengan keringat dan lihai memainkan sabit, ikut mencari rumput untuk ternak mereka. Di sela-sela kesibukan ibu-ibu dalam pekerjaan rumah tangganya, mereka harus pula berjibaku dalam hutan, berpacu dengan waktu dan kadang tak pedulikan panas dan hujan, demi mengenyangkan ternak kambing mereka. Tambah repot lagi jika tiba saat musim hujan, atau musim tetangga punya hajatan maupun saat banyak kesibukan kegiatan sosial lain. Hal itu sangat merepotkan para perempuan peternak kambing itu.
Prihatin dengan hal itu, Penyuluhan Pertanian Lapang (PPL) Kecamatan Kaligesing, Hanang Sarwono, S.P. , menyelenggarakan pelatihan pengawetan hijauan pakan ternak (HPT) untuk ibu-ibu peternak kambing, yang bertujuan supaya para peternak tersebut mempunyai simpanan pakan ternak, sehingga sewaktu-waktu kerepotan, bisa memanfaatkan awetan HPT tersebut untuk kambing mereka. Awetan HPT dibuat saat bahan tersedia melimpah, bisa disimpan hingga 6 sampai 20 bulan, dan bisa dimanfaatkan saat musim kemarau, atau saat kerepotan mencari hijauan pakan. Pelatihan ini dilaksanakan di KWT Sumber Barokah desa Hardimulyo Kecamatan Kaligesing , yang nota bene semua anggotanya merupakan ibu-ibu peternak kambing. Pelatihan itu dilaksanakan 2 hari, yakni Rabu 21 Januari 2026 yang diisi materi teori, serta penyiapan bahan hijauan nya, pencacahan serta pelayuan bahan hijauan, dan dilanjutkan hari Jumat, 23 Januari 2026 yang mempraktekkan cara pencampuran bahan dan pengemasan.
Ada beberapa metode pengawetan HPT, yakni Hay, Fermentasi dan Silase. Dalam kesempatan itu, PPL memilih metode Silase untuk pelatihan di KWT tersebut.
Silase adalah mengawetkan hijauan ternak dengan fermentasi anaerob (tanpa oksigen) dengan cara mencacah bahan HPT, mencampurnya (bisa ditambahi dedak/molase/probiotik), memadatkannya di wadah kedap udara (tong/plastik), lalu menutup rapat dan menyimpannya minimal 21 hari hingga berbau asam seperti tape dan berwarna hijau.
Bahan-bahan yang dibutuhkan :
Hijauan: HPT (dalam hal ini berbagai ramban / bahan lain yang mudah ditemukan di desa Hardimulyo)
Bahan tambahan : Dedak, bisa juga ditambahi garam dan molase dan probiotik untuk mempercepat fermentasi.
Alat-alat
Alat pencacah chopper atau parang.
Wadah kedap udara (tong plastik, drum, atau kantong plastik tebal).
Langkah-langkah pembuatan
1. Panen dan Layukan: Panen hijauan saat cukup umur, layukan sampai kadar air berkurang menjadi 35%.
2. Cacah: Potong bahan menjadi ukuran kecil (sekitar 1-3 cm) agar padat.
3. Campur : Campurkan hijauan dengan dedak/molase/probiotik hingga rata
4. Masukkan Wadah: Masukkan hijauan ke wadah secara bertahap, setiap 30 cm padatkan dengan diinjak-injak atau ditekan hingga benar-benar padat dan tidak ada rongga udara.
5. Tutup Rapat: Tutup wadah rapat-rapat dengan plastik/terpal, beri pemberat agar kedap udara.
6. Fermentasi: Diamkan minimal 21-30 hari di tempat teduh. Hindari membuka wadah terlalu sering.
Untuk menyesuaikan dengan kondisi ibu-ibu, Hanang Sarwono membuat modifikasi seperlunya, untuk menyesuaiakan dengan kondisi di Hardimulyo, baik dalam pemilihan bahan, alat maupun metode supaya semua bisa diterapkan dengan mudah oleh ibu-ibu KWT. Misalnya, pemilihan bahan yang mudah ditemui, serta penggunaan alat pencacah manual berupa parang, agar kelak semua anggota bisa melaksanakan secara mandiri.
> "Wah kalau memang mudah seperti ini cara membuatnya, kami pengin mencoba sendiri supaya besok punya simpanan pakan kambing..* tukas Nurul , salah satu anggota KWT.
KWT Sumber Barokah merupakan salah satu dari 6 KWT yang ada di desa Hardimulyo, yang rutin mengadakan pertemuan bulanan setiap Rabu Pon. Digawangi oleh Ibu Khabibah , KWT ini bergerak di bidang peternakan dan olahan hasil pertanian. Dengan dilaksanakannya pelatihan pembuatan awetan HPT itu, diharapkan ibu-ibu KWT khususnya, dan peternak kambing desa Hardimulyo pada umumnya bisa lebih mudah dalam beternak kambing, lebih efisien dalam hal tenaga maupun biaya operasionalnya, sehingga bisa meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan keluarganya.





