- Kunjungan Study Komparatif Komisi B DPRD Kabupaten Cilacap
- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
TIGA KWT DAPATKAN PELATIHAN PASCA PANEN DAN KEMITRAAN DARI DINAS KETAHANAN PANGAN DAN PERTANIAN KABUPATEN PURWOREJO

TIGA KELOMPOK WANITA
TANI (KWT) MENDAPATKAN PELATIHAN PASCA PANEN DAN KEMITRAAN DARI DINAS KETAHANAN
PANGAN DAN PERTANIAN KABUPATEN PURWOREJO
Dimulai senin (14/10)
berturut turut hingga rabu 16/10 bertempat di KWT Arum Sari desa Blimbing, KWT
Sejahtera desa Cepedak, kemudian KWT Sekar Tani desa Blimbing telah diadakan
masing masing KWT pelatihan penanganan pasca panen dan juga analisa usaha tani
serta pola kemitraan usaha tani.
Pada kesempatan ini
hadir dalam acara adalah anggota kelompok wanita tani, perwakilan dari
pemerintah desa setempat, tim teknis P2L kabupaten Purworejo, Koordinator
Penyuluh dan penyuluh wibi setempat. Serta
pemateri yang mengisi acara. Menurut Arie Sulistyani, selaku kabid Prasarana
dan penyuluhan DKPP dalam sambutannya di rumah Ketua KWT Arum Sari desa
Blimbing mengatakan bahwa program P2L merupakan program andalan dkpp tahun ini
karena tidak hanya sebatas membudidayakan tanaman hortikultura namun demikian
ini juga terkait dengan usaha pemerintah dalam rangka menurunkan angka stunting
di wilayah kabupaten Purworejo. Masyarakat diharapakan dapat memenuhi kebutuhan
gizi melalui pemanfaatan pekarangan yang ditanam sendiri oleh anggota KWT
berupa sayuran, buah ataupun pengembangannya nanti berupa protein hewani yang
dihasilkan.
Dalam pemaparannya Maryoto
selaku pemateri menyampaikan bahwa penanganan panen dan pasca panen sangat
penting untuk produk pertanian. Dalam
penjelasnnya diuraikan sebagai berikut
1.
Pengertian Pasca Panen
Pasca
panen adalah serangkaian proses yang dilakukan setelah panen untuk menjaga
kualitas, memperpanjang umur simpan, dan mempersiapkan produk untuk pemasaran.
2.
Tahapan Pasca Panen
- Pemanenan: Teknik dan waktu pemanenan yang tepat untuk
memastikan kualitas buah atau sayuran.
- Penanganan Awal: Mengurangi kerusakan fisik dengan penanganan yang
hati-hati setelah panen.
- Pembersihan: Menghilangkan kotoran, daun, dan sisa-sisa tanaman
untuk meningkatkan kualitas produk.
- Sortasi dan Klasifikasi: Memisahkan produk berdasarkan ukuran, warna, dan
kualitas untuk meningkatkan nilai jual.
3.
Penyimpanan
- Pengemasan: Menggunakan bahan yang sesuai untuk melindungi produk
selama transportasi dan penyimpanan.
- Kondisi Penyimpanan: Mengatur suhu dan kelembapan yang tepat untuk
mencegah pembusukan dan menjaga kesegaran.
4.
Pengolahan Pasca Panen
- Pengolahan Minimal: Mempertahankan kesegaran produk dengan cara memotong
atau memotong tanpa proses memasak.
- Pengolahan Lebih Lanjut: Membuat produk jadi seperti jus, selai, atau sayuran
kaleng untuk meningkatkan nilai tambah.
Sementara itu Ibu Kasihani selaku praktisi yang
menyampaikan materi analisis usaha tani dan pola kemitraan pertanian
menyampaikan bahwa paling tidak analisis usaha tani dan pola kemitraan
merupakan dua aspek penting dalam meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan
pertanian. Berikut adalah penjelasan mengenai keduanya:
Analisis Usaha Tani
1.
Identifikasi Potensi dan Sumber Daya:
- Menilai
lahan, iklim, dan sumber daya air.
- Memperhitungkan
input yang diperlukan seperti benih, pupuk, dan alat.
2.
Rencana Produksi:
- Menentukan
jenis komoditas yang akan ditanam berdasarkan permintaan pasar.
- Membuat
jadwal tanam dan panen.
3.
Analisis Ekonomi:
- Menghitung
biaya produksi, pendapatan, dan keuntungan.
- Menganalisis
titik impas untuk memahami kapan usaha mulai menguntungkan.
4.
Manajemen Risiko:
- Mengidentifikasi
risiko seperti hama, penyakit, dan fluktuasi harga.
- Merencanakan
strategi mitigasi, seperti diversifikasi tanaman atau asuransi pertanian.
Pola Kemitraan
1.
Kemitraan Petani dengan Perusahaan:
- Perusahaan
dapat memberikan akses ke teknologi, pelatihan, dan pasar.
- Petani
diuntungkan dari dukungan dalam hal pemasaran dan peningkatan kualitas
produk.
2.
Kelompok Tani:
- Pembentukan
kelompok tani untuk saling berbagi pengetahuan dan sumber daya.
- Memudahkan
akses ke pembiayaan dan pelatihan.
3.
Kemitraan dengan Pihak Ketiga:
- Kerja
sama dengan lembaga pemerintah, NGO, atau institusi riset untuk
mendapatkan dukungan teknis dan finansial.
- Mengoptimalkan
penggunaan teknologi modern untuk meningkatkan hasil pertanian.
4.
Model Co-Production:
- Petani
dan perusahaan bekerja sama dalam pengembangan produk, mulai dari riset
hingga pemasaran.
- Mendorong
inovasi dan memperkuat daya saing.
Analisis usaha
tani yang komprehensif dan pola kemitraan yang tepat dapat meningkatkan
keberhasilan dan keberlanjutan usaha tani. Kolaborasi antara petani,
perusahaan, dan pihak lain sangat penting untuk mencapai hasil yang optimal.
Keberhasilan dalam usaha tani tidak hanya bergantung pada faktor internal,
tetapi juga pada lingkungan eksternal dan kemitraan yang dibangun. Petani diharapkan
mencatat semua transaksi ataupun kegiatan yang dikerjakan. Pencatatan sangat
berguna untuk dapat melihat dan menganalisis kegiatan yang dilakukan.






