TIGA KWT DAPATKAN PELATIHAN PASCA PANEN DAN KEMITRAAN DARI DINAS KETAHANAN PANGAN DAN PERTANIAN KABUPATEN PURWOREJO

By DINPPKP 21 Okt 2024, 08:26:49 WIB Penyuluhan
TIGA KWT DAPATKAN PELATIHAN PASCA PANEN DAN KEMITRAAN DARI DINAS KETAHANAN PANGAN DAN PERTANIAN KABUPATEN PURWOREJO

TIGA KELOMPOK WANITA TANI (KWT) MENDAPATKAN PELATIHAN PASCA PANEN DAN KEMITRAAN DARI DINAS KETAHANAN PANGAN DAN PERTANIAN KABUPATEN PURWOREJO

Dimulai senin (14/10) berturut turut hingga rabu 16/10 bertempat di KWT Arum Sari desa Blimbing, KWT Sejahtera desa Cepedak, kemudian KWT Sekar Tani desa Blimbing telah diadakan masing masing KWT pelatihan penanganan pasca panen dan juga analisa usaha tani serta pola kemitraan usaha tani.

Pada kesempatan ini hadir dalam acara adalah anggota kelompok wanita tani, perwakilan dari pemerintah desa setempat, tim teknis P2L kabupaten Purworejo, Koordinator Penyuluh dan penyuluh wibi setempat.  Serta pemateri yang mengisi acara. Menurut Arie Sulistyani, selaku kabid Prasarana dan penyuluhan DKPP dalam sambutannya di rumah Ketua KWT Arum Sari desa Blimbing mengatakan bahwa program P2L merupakan program andalan dkpp tahun ini karena tidak hanya sebatas membudidayakan tanaman hortikultura namun demikian ini juga terkait dengan usaha pemerintah dalam rangka menurunkan angka stunting di wilayah kabupaten Purworejo. Masyarakat diharapakan dapat memenuhi kebutuhan gizi melalui pemanfaatan pekarangan yang ditanam sendiri oleh anggota KWT berupa sayuran, buah ataupun pengembangannya nanti berupa protein hewani yang dihasilkan.

Dalam pemaparannya Maryoto selaku pemateri menyampaikan bahwa penanganan panen dan pasca panen sangat penting untuk produk pertanian.  Dalam penjelasnnya diuraikan sebagai berikut

1. Pengertian Pasca Panen

Pasca panen adalah serangkaian proses yang dilakukan setelah panen untuk menjaga kualitas, memperpanjang umur simpan, dan mempersiapkan produk untuk pemasaran.

 

2. Tahapan Pasca Panen

  • Pemanenan: Teknik dan waktu pemanenan yang tepat untuk memastikan kualitas buah atau sayuran.
  • Penanganan Awal: Mengurangi kerusakan fisik dengan penanganan yang hati-hati setelah panen.
  • Pembersihan: Menghilangkan kotoran, daun, dan sisa-sisa tanaman untuk meningkatkan kualitas produk.
  • Sortasi dan Klasifikasi: Memisahkan produk berdasarkan ukuran, warna, dan kualitas untuk meningkatkan nilai jual.

3. Penyimpanan

  • Pengemasan: Menggunakan bahan yang sesuai untuk melindungi produk selama transportasi dan penyimpanan.
  • Kondisi Penyimpanan: Mengatur suhu dan kelembapan yang tepat untuk mencegah pembusukan dan menjaga kesegaran.

 

4. Pengolahan Pasca Panen

  • Pengolahan Minimal: Mempertahankan kesegaran produk dengan cara memotong atau memotong tanpa proses memasak.
  • Pengolahan Lebih Lanjut: Membuat produk jadi seperti jus, selai, atau sayuran kaleng untuk meningkatkan nilai tambah.

Sementara itu Ibu Kasihani selaku praktisi yang menyampaikan materi analisis usaha tani dan pola kemitraan pertanian menyampaikan bahwa paling tidak analisis usaha tani dan pola kemitraan merupakan dua aspek penting dalam meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan pertanian. Berikut adalah penjelasan mengenai keduanya:

Analisis Usaha Tani

1.     Identifikasi Potensi dan Sumber Daya:

    • Menilai lahan, iklim, dan sumber daya air.
    • Memperhitungkan input yang diperlukan seperti benih, pupuk, dan alat.

2.     Rencana Produksi:

    • Menentukan jenis komoditas yang akan ditanam berdasarkan permintaan pasar.
    • Membuat jadwal tanam dan panen.

3.     Analisis Ekonomi:

    • Menghitung biaya produksi, pendapatan, dan keuntungan.
    • Menganalisis titik impas untuk memahami kapan usaha mulai menguntungkan.

4.     Manajemen Risiko:

    • Mengidentifikasi risiko seperti hama, penyakit, dan fluktuasi harga.
    • Merencanakan strategi mitigasi, seperti diversifikasi tanaman atau asuransi pertanian.

Pola Kemitraan

1.     Kemitraan Petani dengan Perusahaan:

    • Perusahaan dapat memberikan akses ke teknologi, pelatihan, dan pasar.
    • Petani diuntungkan dari dukungan dalam hal pemasaran dan peningkatan kualitas produk.

2.     Kelompok Tani:

    • Pembentukan kelompok tani untuk saling berbagi pengetahuan dan sumber daya.
    • Memudahkan akses ke pembiayaan dan pelatihan.

3.     Kemitraan dengan Pihak Ketiga:

    • Kerja sama dengan lembaga pemerintah, NGO, atau institusi riset untuk mendapatkan dukungan teknis dan finansial.
    • Mengoptimalkan penggunaan teknologi modern untuk meningkatkan hasil pertanian.

4.     Model Co-Production:

    • Petani dan perusahaan bekerja sama dalam pengembangan produk, mulai dari riset hingga pemasaran.
    • Mendorong inovasi dan memperkuat daya saing.

Analisis usaha tani yang komprehensif dan pola kemitraan yang tepat dapat meningkatkan keberhasilan dan keberlanjutan usaha tani. Kolaborasi antara petani, perusahaan, dan pihak lain sangat penting untuk mencapai hasil yang optimal. Keberhasilan dalam usaha tani tidak hanya bergantung pada faktor internal, tetapi juga pada lingkungan eksternal dan kemitraan yang dibangun. Petani diharapkan mencatat semua transaksi ataupun kegiatan yang dikerjakan. Pencatatan sangat berguna untuk dapat melihat dan menganalisis kegiatan yang dilakukan.

 





Berita Purworejo

Counter Pengunjung