BPP Purworejo Gelar Gerdal Tikus Susulan di Cangkreplor, Amankan Produksi Padi MT II

By DINPPKP 03 Jun 2026, 14:40:45 WIB Penyuluhan
BPP Purworejo Gelar Gerdal Tikus Susulan di Cangkreplor, Amankan Produksi Padi MT II

BPP Purworejo Gelar Gerdal Tikus Susulan di Cangkreplor, Amankan Produksi Padi MT II



Guna mengantisipasi meluasnya serangan hama tikus yang tengah marak di musim tanam kali ini, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Purworejo kembali bergerak mendampingi petani. Melalui Gerakan Pengendalian (Gerdal) Hama Tikus, aksi nyata ini digelar bersama Kelompok Tani (KT) Sri Rejeki di lahan sawah Blok Sibodeh, Kelurahan Cangkreplor, pada Selasa (2/6/2026).

Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan DKPP Kabupaten Purworejo Wagiyanti, Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kecamatan Purworejo Setyo Widodo, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) setempat, Lurah Cangkreplor, serta sekitar 40 anggota kelompok tani yang tampak antusias mengamankan tanaman padi mereka.

Berdasarkan data DKPP Kabupaten Purworejo tahun 2026, Kecamatan Purworejo menempati peringkat kedua tertinggi dalam kasus ledakan populasi hama tikus se-Kabupaten Purworejo. Tiga wilayah kecamatan dengan tingkat kerawanan tertinggi secara berurutan adalah: Kecamatan Bayan, Kecamatan Purworejo dan Kecamatan Banyuurip.

Melihat kondisi darurat tersebut, gerdal kali ini merupakan aksi lanjutan (gerdal kedua) setelah aksi pertama sukses dilaksanakan pada 18 Mei 2026 lalu. Evaluasi dari gerdal pertama menunjukkan hasil yang sangat signifikan dengan ditemukannya banyak bangkai tikus mati. Oleh karena itu, gerdal susulan ini mutlak dilakukan demi memutus siklus perkembangbiakan tikus dan mengamankan produksi padi Musim Tanam (MT) II Tahun 2026.

Tikus merupakan hama mamalia yang memiliki kemampuan merusak luar biasa karena sifat rodensia (kerat)-nya. Tikus tidak hanya memakan bulir padi, tetapi juga memotong batang padi hanya untuk mengasah gigi depannya yang terus tumbuh. Dengan kemampuan reproduksi yang sangat cepat, sepasang tikus dalam satu musim tanam dapat berkembang biak menjadi ratusan ekor jika tidak dikendalikan secara massal dan serentak. Tujuan dari gerakan ini adalah menekan populasi tikus secara serempak di tingkat hamparan hingga di bawah Ambang Ekonomi (AE), sehingga mencegah terjadinya fuso atau gagal panen.

Dalam gerakan kali ini, BPP Kecamatan Purworejo mendistribusikan dan mengaplikasikan 10 kg Kresnakum, sebuah rodentisida (racun tikus) siap pakai berwujud blok (wax block). Kresnakum bekerja secara antikoagulan, di mana tikus yang memakan umpan ini akan mati beberapa hari kemudian di luar lubang, sehingga tidak membuat tikus lain menjadi jera umpan.

Selain pengumpanan, para penyuluh dan POPT juga memberikan bimbingan teknis berupa praktik pembuatan dan penggunaan emposan (fumigasi) secara langsung di pematang sawah.

Pada kegiatan gerdal ini petani diajarkan cara meracik bahan pengemposan tradisional yang efektif, yaitu campuran belerang bubuk dengan arang batok kelapa, KNO3, dan soda kue sebagai media bakar. Campuran ini kemudian dimasukkan ke dalam alat selongsong yang dibuat dari kertas. Selanjutnya dilakukan praktik penggunaan emposan, di mana petani bersama petugas menyisir pematang sawah untuk mencari lubang aktif tikus. Setelah ditemukan, sabut kelapa diberi belerang kemudian dibakar lalu dipompa menggunakan alat emposan agar asap beracunnya masuk ke dalam lubang. Lubang tikus kemudian langsung ditutup rapat dengan lumpur sawah agar asap belerang mengendap di dalam, mematikan tikus yang bersembunyi di dalamnya dalam hitungan menit akibat kehabisan oksigen.

Mentan Amran Sulaiman menegaskan bahwa kunci utama keberhasilan penanganan tikus sawah terletak pada aspek kebersamaan dan momentum. "Pengendalian tikus tidak bisa dilakukan perorangan karena mobilitas hama ini sangat tinggi. Harus dilakukan gerakan bersama atau gropyokan, serta pengumpanan beracun secara massal di awal musim atau saat populasi mulai meningkat," jelas Mentan.

 Koordinator PPL Kecamatan Purworejo Bakti woro Haryanti turut memberikan semangat dan optimisme para petani di tengah situasi sulit ini. Pihaknya mengingatkan bahwa tantangan tahun ini berlipat ganda akibat faktor iklim ekstrem. "Petani Purworejo tidak boleh menyerah! Serangan tikus ini memang berat, terlebih kita sedang menghadapi ancaman cuaca ekstrem Godzilla El Nino yang membuat kemarau menjadi lebih kering dan panjang. Kondisi kering seperti ini sangat disukai tikus untuk berkembang biak dengan cepat. Oleh karena itu, kekompakan kita adalah kunci. Kita harus perkuat manajemen pengairan yang efisien dan tanggap gerdal bersama-sama. Dengan gotong royong, kita pasti bisa melewati tantangan iklim dan hama ini demi mengamankan pangan keluarga kita!" tegas Koordinator PPL Kecamatan Purworejo dengan penuh semangat.

Setyo Widodo selaku POPT Kecamatan Purworejo menambahkan penjelasan teknis mengenai pentingnya kombinasi metode emposan dan pengumpanan yang benar di lapangan. "Kombinasi antara umpan lambat seperti Kresnakum dan tindakan langsung lewat emposan belerang pada lubang aktif ini terbukti sangat efektif menekan populasi secara cepat. Penggunaan Kresnakum sebanyak 10 kg ini dipasang di titik-titik strategis. Kami juga mengimbau petani untuk rutin melakukan sanitasi lingkungan sawah dan membersihkan semak-semak yang berpotensi menjadi sarang berkembang biak," papar Setyo.

Supangkat, Ketua Kelompok Tani Sri Rejeki, menyambut baik jalannya gerdal kedua ini dan melaporkan dampak positif yang dirasakan langsung oleh anggotanya. "Kami sangat merasakan manfaat dari gerakan ini. Pada gerdal pertama 18 Mei lalu, banyak sekali tikus yang mati. Dengan adanya gerdal susulan hari ini serta tambahan bantuan Kresnakum dan praktik emposan belerang, anggota kelompok tani menjadi lebih paham cara mengatasi lubang-lubang aktif. Ini sangat membantu menenangkan petani yang sebelumnya khawatir sawah Blok Sibodeh ini habis diserang tikus," ujar Supangkat.

Lurah Cangkreplor, Cahyo, yang hadir langsung memberikan dukungan penuh di lapangan dan menyampaikan apresiasinya atas langkah cepat serta kepedulian dari dinas terkait. "Kami atas nama pemerintah kelurahan dan seluruh petani di Cangkreplor mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada DKPP Kabupaten Purworejo, BPP, serta para PPL yang telah memfasilitasi dan mendampingi gerakan pengendalian hama tikus di wilayah kami. Dengan adanya pendampingan dan praktik langsung ini, kami sangat berharap tanaman padi milik warga dapat terselamatkan dari serangan hama hingga masa panen tiba dengan hasil yang maksimal," ungkap Cahyo penuh harap.

Melalui sinergi antara dinas, petugas lapangan, pemerintah kelurahan, dan kesadaran tinggi dari para petani, diharapkan target swasembada dan produktivitas padi di wilayah Purworejo pada MT II 2026 ini tetap terjaga dengan aman meskipun di bawah bayang-bayang El Nino ekstrem. (Disusun Oleh : Bakti Woro Haryanti, SP PPL Kecamatan Purworejo)

 





Berita Purworejo

Counter Pengunjung