- Banter Melaju Disosialisasikan di Kemejing, Warga Antusias Sambut Peluang Ternak Kambing Jawa Randu
- Tindaklanjut Pengaduan Warga Mengenai Peternakan Ayam
- Gapoktan Desa Pakisarum Gelar Sosialisasi eRDKK 2027, Pastikan Petani Akses Pupuk Subsidi
- Ubinan Padi Varietas Inpari 32 di Desa Gowong Tunjukkan Produktivitas Menjanjikan
- Jalan Usaha Tani (JUT) DKPP Tahun Anggaran 2026
- DKPP Lakukan Pengujian Sampel PSAT Pasca Idul Fitri 1447 H
- Refilling Nitrogen Cair untuk Mendukung Kegiatan Inseminasi Buatan Ternak
- Seleksi Hibah Ternak 2027 Dimulai, DKPP Purworejo Verifikasi Proposal dari 14 Kecamatan
- PEMKAB PURWOREJO DAN PERUM BULOG SIAP SALURKAN BANTUAN PANGAN BERAS DAN MINYAK GORENG ALOKASI FEBRUARI-MARET 2026
- Pemantauan Harga Bahan Pokok Penting Pasca HBKN Idul Fitri 1447H
Warga Cepedak Wujudkan Ketahanan Pangan Mandiri

Warga Cepedak Wujudkan Ketahanan
Pangan Mandiri
_____________
# CybersquadX BPP Bruno
# Bruno semakin menyala
_____________
Cepedak, 25 Februari 2025 –
Ketahanan pangan nasional bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga
berawal dari rumah tangga. Di Desa Cepedak, Kecamatan Bruno, pemanfaatan
pekarangan menjadi solusi nyata bagi warga untuk mencukupi kebutuhan pangan
secara mandiri.
Melalui program Pekarangan Pangan
Lestari (P2L), warga didorong untuk menanam berbagai jenis sayuran dan beternak
di lahan terbatas. Hasilnya tidak hanya memenuhi kebutuhan harian tetapi juga
berkontribusi pada ketahanan pangan lokal.
Salah satu kelompok yang aktif
dalam program ini adalah Kelompok Wanita Tani (KWT) Sejahtera. Ketua KWT, Siti
Sakinah, mengungkapkan bahwa dengan memanfaatkan pekarangan, anggotanya bisa
memenuhi kebutuhan pangan keluarga secara mandiri. “Alhamdulillah, kami bisa panen kangkung,
sawi, bayam, cabai, pepaya, dan tomat. Kami juga beternak ayam, sehingga
kebutuhan protein seperti daging dan telur terpenuhi. Bahkan, hasil panen
sering kali berlebih dan bisa dijual atau dibagikan ke tetangga,” katanya.
Tak hanya itu, pemanfaatan
pekarangan juga berdampak langsung pada penghematan pengeluaran rumah
tangga. "Hampir semua kebutuhan
dapur tersedia di pekarangan. Cabai, terong, kacang panjang, bahkan ikan dan
daging ayam bisa diperoleh sendiri. Dengan cara ini, kami bisa menghemat
minimal Rp20.000 per hari,” tambahnya.
Keberhasilan ini tidak lepas dari
peran aktif pemerintah desa dan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). Kepala Desa
Cepedak, Sugeng Haryanto, menegaskan bahwa ketahanan pangan harus dimulai dari
tingkat keluarga. “Jika setiap rumah tangga memiliki ketahanan pangan yang
kuat, maka ketahanan pangan nasional juga akan ikut terjaga,” ujarnya.
Senada dengan hal itu, Hari
Prabowo, S.TP, selaku Penyuluh Pertanian Lapangan PPL Wibi Cepedak, menjelaskan bahwa program
P2L mendorong pemanfaatan pekarangan secara berkelanjutan. “Ketahanan pangan
dapat dimulai dari skala terkecil, yaitu rumah tangga. Jika ketahanan pangan
rumah tangga kuat, maka ketahanan pangan nasional juga akan semakin kokoh,”
jelasnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan
bahwa pemanfaatan pekarangan bukan hanya sekadar untuk memenuhi kebutuhan
pangan, tetapi juga bisa menjadi sumber penghasilan tambahan.
“Sebuah keluarga yang mampu memanfaatkan
pekarangan untuk memenuhi kebutuhan pangan sekaligus meningkatkan pendapatan
rumah tangga, sesungguhnya adalah pahlawan pangan nasional,” pungkasnya.
Keberhasilan KWT Sejahtera di
Desa Cepedak menjadi bukti nyata bahwa ketahanan pangan dapat dibangun dari
lingkungan terkecil: rumah tangga. Dengan semangat gotong royong dan dukungan
program P2L, pekarangan yang dulunya hanya sebatas halaman kini berubah menjadi
sumber pangan yang menghidupi.
Dari pekarangan, warga tak hanya
memenuhi kebutuhan sendiri, tetapi juga berkontribusi untuk ketahanan pangan
nasional. Jika langkah ini diikuti oleh lebih banyak keluarga, bukan tidak
mungkin Indonesia bisa mencapai ketahanan pangan yang berdaulat dan
berkelanjutan.






