Tingkatkan Hasil Panen, BPP Purworejo Dampingi Petani Lakukan Gerakan Pengendalian Hama Tikus

By DINPPKP 05 Nov 2025, 10:14:57 WIB Penyuluhan
Tingkatkan Hasil Panen, BPP Purworejo Dampingi Petani Lakukan Gerakan Pengendalian Hama Tikus

Tingkatkan Hasil Panen, BPP Purworejo Dampingi Petani Lakukan Gerakan Pengendalian Hama Tikus

 

Tikus sawah (Rattus argentiventer) merupakan hama padi utama di Indonesia, kerusakan yang ditimbulkan cukup luas dan hampir terjadi setiap musim. Tikus menyerang semua stadium tanaman padi, baik vegetatif maupun generatif, sehingga menyebabkan kerugian ekonomis yang berarti. Tikus sawah mampu merusak 15–30% hasil panen setiap tahun, bahkan bisa mencapai kerugian total hingga 100% jika dibiarkan. Mereka menyerang padi sejak masa semai, tumbuh, hingga pascapanen, bahkan merusak gabah di gudang. Serangan paling menghancurkan terjadi saat fase generatif, saat tanaman tak lagi mampu membentuk anakan baru. Untuk itu, diperlukan pengendalian dengan strategi yang tepat, terpadu, dan dimulai sejak awal musim tanam.

Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Purworejo menunjukkan komitmennya dalam menjaga ketahanan pangan daerah melalui pendampingan intensif pada Gerakan Pengendalian Hama Tikus (Gerdal Tikus) pada awal November 2025. Kegiatan ini dilaksanakan bersama Kelompok Tani Tani Mulyo di Kelurahan Cangkrepkidul, Kecamatan Purworejo. Fokus utama gerakan ini adalah mengamankan tanaman padi yang saat ini telah memasuki umur 85 Hari Setelah Tanam (HST). Fase ini merupakan periode kritis menjelang panen, di mana serangan hama tikus dapat menyebabkan kerugian hasil panen yang signifikan.

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan POPT Kecamatan Purworejo hadir langsung di lokasi persawahan untuk memberikan edukasi dan arahan kepada anggota Kelompok Tani Tani Mulyo. Dalam upaya pengendalian kali ini, petani diarahkan untuk menggunakan Rodentisida Sidarat sebagai umpan beracun.

Bakti Woro Haryanti selaku PPL Kecamatan Purworejo menyampaikan tikus sawah dapat menurunkan hasil panen karena merusak tanaman padi di berbagai fase, mulai dari persemaian hingga pematangan, dan dapat menyebabkan kerugian yang signifikan hingga gagal panen total jika tidak dikendalikan secara efektif. Tikus menyerang batang, menggerogoti gabah, dan memakan bibit padi muda. “Cara tikus sawah menurunkan hasil panen yaitu merusak bibit dan tanaman muda, merusak batang saat fase generatif,  mengakibatkan kehilangan gabah, merusak gabah saat penyimpanan: Tikus juga dapat merusak gabah yang sudah dipanen dan disimpan di gudang”, tandasnya.

Wagiyanti selaku POPT menekankan pentingnya penggunaan rodentisida secara tepat dan serentak (gerakan massal) untuk memutus rantai perkembangbiakan dan migrasi hama tikus. “Pengendalian hama tikus harus dilakukan secara serempak dan berkelanjutan. Dengan menggunakan Rodentisida Sidarat, kita berharap populasi tikus dapat ditekan sebelum kerusakan meluas dan mengancam panen. Kami juga terus mengingatkan agar penempatan umpan dilakukan di jalur-jalur tikus dan lubang aktif,” ujarnya.

Selanjutnya petani diberikan arahan aplikasi Sidarat oleh POPT Kecamatan Purworejo. SIDARAT 0,005 BB adalah umpan beracun antikoagulan berupa blok berwarna kebiru-biruan siap pakai yang sudah mengandung bahan aktif brodifakum 0,005%. SIDARAT 0,005 BB mampu menghambat koagulasi/penggumpalan darah tikus (antikoagulan) dan memecah pembuluh darah kapiler di dalam organ. Cara aplikasi SIDARAT 0,005 BB adalah dengan meletakkan 1-2 buah umpan dalam jalur/jalan tikus atau di depan lubang aktif, atau dengan dosis 100-200 buah umpan per ha setara dengan 0,4 – 0,8 kg umpan jadi per ha.

Cara pengumpanan SIDARAT 0,005 BB pada pertanaman padi dilakukan saat padi bera hingga menjelang bunting. Pada saat bera pengumpanan dilakukan bila ditemukan tanda-tanda kehadiran tikus (jejak, jalan tikus, kotoran, liang tikus) dan berdasarkan sensus populasi yaitu bila 20% umpan dimakan. Pada saat belum ada pertanaman, sensus dilakukan dengan memasang 5 titik umpan per hektar. Pada fase vegetatif sensus populasi digunakan 20 titik umpan per hektar. Pengumpanan SIDARAT 0,005 BB dihentikan bila padi sudah bunting. Umpan diletakkan dengan jarak antar umpan 5 – 10 meter sebanyak 1 – 2 umpan di pematang, tanggul irigasi, tepi jalan dan tempat lain yang diduga sebagai sarang/tempat persembunyian atau jalan tikus.

Dalam melakukan pengumpanan SIDARAT 0,005 BB perlu diperhatikan jangan sampai umpan tersentuh tangan atau badan lainnya secara langsung, karena tikus tidak mau memakan umpan yang telah tersentuh oleh kulit kita. Dan dianjurkan pengumpanan SIDARAT 0,005 BB dilakukan bersama-sama secara serentak di seluruh lokasi serangan (Gou Huan).

Tanaman padi yang sudah berumur 85 HST berada pada tahap pengisian bulir hingga matang susu, menjadikannya sasaran empuk bagi hama tikus. Oleh karena itu, langkah cepat dan kolektif dari seluruh anggota kelompok tani sangat diperlukan. Gerakan pengendalian ini tidak hanya bertujuan untuk menanggulangi serangan tikus saat ini, tetapi juga merupakan bagian dari strategi BPP Purworejo untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen di wilayah tersebut. Pendampingan oleh BPP Purworejo diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran dan kemampuan petani dalam mengaplikasikan teknologi pengendalian hama secara terpadu, sehingga keberhasilan panen padi dapat tercapai secara optimal.

Dengan mengurangi serangan tikus, petani dapat mencegah penurunan hasil panen yang signifikan, yang bisa mencapai 20–50% atau bahkan lebih parah, dan menjaga kualitas produk. Hal ini senada dengan pernyataan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mendorong pengendalian hama tikus sawah melalui berbagai cara, termasuk pengendalian terpadu yang mengutamakan metode ramah lingkungan seperti Trap Barrier System (TBS) dan gropyokan, serta penggunaan racun tikus seperti Tiran jika diperlukan. Kementan juga menggalakkan penanaman dan panen serempak, sanitasi lingkungan, serta perlindungan musuh alami tikus seperti burung hantu

Disusun Oleh : Bakti Woro Haryanti, SP (PPL Kecamatan Purworejo)

 

 

 





Berita Purworejo

Counter Pengunjung