- VERIFIKASI DAN EVALUASI PROPOSAL PERMOHONAN BANTUAN KEGIATAN PEMBANGUNAN PRASARANA PERTANIAN TAHUN 2027
- PASTIKAN KETAHANAN PANGAN AMAN, DKPP PURWOREJO PANTAU STOK CPPD DI GUDANG PENYIMPANGAN
- LAPORAN HASIL VERIFIKASI LAPANGAN PERMOHONAN BANTUAN BIBIT JERUK PURUT DESA KEMANUKAN
- Banter Melaju Disosialisasikan di Kemejing, Warga Antusias Sambut Peluang Ternak Kambing Jawa Randu
- Tindaklanjut Pengaduan Warga Mengenai Peternakan Ayam
- Gapoktan Desa Pakisarum Gelar Sosialisasi eRDKK 2027, Pastikan Petani Akses Pupuk Subsidi
- Ubinan Padi Varietas Inpari 32 di Desa Gowong Tunjukkan Produktivitas Menjanjikan
- Jalan Usaha Tani (JUT) DKPP Tahun Anggaran 2026
- DKPP Lakukan Pengujian Sampel PSAT Pasca Idul Fitri 1447 H
- Refilling Nitrogen Cair untuk Mendukung Kegiatan Inseminasi Buatan Ternak
TEMU USAHA AGRIBISNIS TEMBAKAU DESA PACEKELAN PURWOREJO

TEMU
USAHA AGRIBISNIS TEMBAKAU
DESA
PACEKELAN PURWOREJO
Temu
Usaha Agribisnis Tembakau merupakan pertemuan antara petani tembakau yang
tergabung dalam APTI (Asosiasi Petani Tembakau Indonesia) Kabupaten Purworejo
dengan Perusahaan PT Wirata Merabu yang bergerak sebagai suplayer tembakau
bahan baku rokok ke pabrik.
Temu
Usaha Agribisnis Tembakau diselenggarakan oleh Dinas Ketahanan Pangan dan
Pertanian (DKPP) Kabupaten Purworejo melalui Bidang Prasarana dan Penyuluhan
Pertanian, dengan kegiatan Pengembangan Kapasitas Kelembagaan Petani di
Kecamatan dan Desa.
Acara
ini dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 25 Februari 2025 di Aula Kantor
Kepala Desa Pacekelan Kecamatan Purworejo, yang dihadiri oleh Forkopimcam
(Perwakilan dari Koramil dan Polsek Purworejo), Penyuluh Pertanian KJF DKPP,
Koordinator BPP dari enam kecamatan, antara lain Kecamatan Purworejo,
Banyuurip, Purwodadi, Bagelen, Kemiri dan Kutoarjo, Kepala Desa Pacekelan
sekaligus sebagai Ketua APTI Purworejo, serta petani pelaku usaha komoditas
tembakau yang tergabung dalam APTI Purworejo.
Temu
Usaha Agribisnis Tembakau diawali dengan Sambutan Selamat Datang oleh Ketua
APTI Purworejo. Pak Mulyanto menyampaikan bahwa selama ini petani tembakau
melakukan budidaya tembakau lokal yang diserap oleh industri lokal, dimana
penyerapannya masih rendah, sehingga masih banyak hasil produksi yang harus
dicarikan pasarnya. Oleh karena itu, APTI memberikan solusi untuk mengatasi
permasalahan pemasaran dengan mempertemukan para pelaku usaha/petani tembakau
dengan PT Wirata Merabu. Harapannya, petani bersedia untuk melakukan kerja sama
dengan PT Wirata Merabu melalui pola kemitraan.
Sambutan
berikutnya perwakilan dari DKPP selaku penyelenggara kegiatan, yang dalam hal
ini disampaikan oleh Febtory Setyo Harsanti, selaku Penyuluh Pertanian. Febtory
mengucapkan terima kasih kepada Ketua APTI Purworejo yang telah menjembatani
pertemuan antara pelaku usaha tembakau dengan PT Wirata Merabu dalam acara Temu
Usaha. Temu usaha ini mendapat anggaran dari DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai
Hasil Tembakau) yang memiliki dua sasaran, yaitu bagi kelompok tani yang masih baru
berbudidaya tembakau akan diberi pelatihan mulai dari pengenalan budidaya
sampai dengan pasca panen; kemudian bagi kelompok tani yang sudah lama menekuni
usaha tani tembakau akan diberi pendampingan mulai dari budidaya sampai
kemitraan dengan perusahaan. Tetapi tidak menutup kemungkinan, jika ada
kelompok tani yang masih baru berbudidaya tembakau tertarik untuk ikut bermitra
dengan perusahaan agar ada kepastian pasarnya, Disampaikan juga kondisi
existing saat ini, petani menanam tembakau lokal dengan biaya produksi tinggi,
tinggi tanaman hanya 12 – 14 daun, produktivitas masih rendah, yaitu 7 - 9
kuintal per hektar. Sedangkan jika petani bersedia kemitraan dengan perusaan,
maka diharapkan pendapatan petani meningkat karena adanya penerapan GAP (Good
Agricultural Practices) yang mengikuti perusahaan, biaya produksi bisa
ditekan, produktivitas meningkat. Di sinilah petani yang tergabung dalam APTI
benar-benar didampingi agar ada perubahan pola pikir, sikap, pengetahuan dan
keterampilan yang lebih baik. Oleh karena itu, DKPP mendukung penuh kegiatan
APTI, salah satunya diadakannya temu usaha ini yang bertujuan mempertemukan
para petani dengan perusahaan untuk memperoleh kesepakatan yang menguntungkan
kedua belah pihak. Harapannya ada tindak lanjut dari hasil pertemuan ini.
Acara
inti disampaikan oleh Pak Seno dari PT Wirata Merabu yang memberikan informasi
mengenai model kemitraan yang dijalankan oleh perusahaan bersama petani
tembakau daerah Temanggung, Magelang, Wonosobo dan wilayah Jawa Timur. Pada
waktu menyampaikan materinya, Pak Seno mengatakan bahwa kemitraan adalah kerja
sama usaha antara usaha kecil dengan usaha menengah atau usaha besar disertai
dengan pembinaan dan pengembangan oleh usaha menengah atau usaha besar dengan
memperhatikan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat, dan saling
menguntungkan, sesuai Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil.
Disampaikan
juga bahwa saat ini petani/pelaku usaha tembakau dihadapkan pada kondisi
kenaikan biaya produksi, trend harga rokok murah, kenaikan cukai hasil
tembakau, sehingga petani perlu melakukan efisiensi biaya produksi,
implementasi dan pengembangan teknologi, menjaga kualitas, dan produksi
tembakau mengikuti pasar yang terbuka. Konsep kemitraan yang dikembangkan
adalah adanya konsistensi produksi yang berkualitas, sehingga mengutamakan kelangsungan
usaha dan kesejahteraan bersama.
Perbedaan
penerapan petani dalam budidaya tembakau secara konvensional dengan penerapan
petani melalui kemitraan adalah adanya penerapan GAP secara tepat. Petani akan
didampingi PT Wirata Merabu bagaimana dalam penggunaan bibit yang baik dan
sehat, pemupukan tepat dosis, tepat waktu, tepat aplikasi, penggunaan Prime
Plus untuk rempel/wiwilan, dan pengelolaan panen dan pasca panen yang baik dan
benar, sehingga target produktivitas 2 ton/ha bisa tercapai.
Setelah
paparan dari PT Wirata Merabu, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang
dipandu oleh Ketua APTI Purworejo. Penanya pertama adalah Pak Sarwono dari Desa
Ketangi Kecamatan Purwodadi, yang menanyakan apakah perusahaan memberikan modal
usaha untuk petani? Kemudian pertanyaan dijawab oleh Pak Seno, bahwa PT Wirata
Merabu akan meminjami modal berupa sarana produksi senilai Rp11.000.000,00 per
hektar, termasuk bibit 4 paket sejumlah 5.000 batang per paket, sedangkan petani
menyediakan lahan dan tenaga kerja. Kemudian setelah panen, hasil produksi
dibeli PT Wirata Merabu. Saat ini, PT Wirata Merabu menawarkan trial
atau uji coba seluas 5 hektar untuk petani di Kabupaten Purworejo. Hasil uji
coba nantinya akan dikirim ke pabrik rokok untuk dilakukan pengecekan. Jika
masuk standartnya, maka kemitraan langsung dilanjutkan, jika tidak maka perlu
dilakukan evaluasi perbaikan GAP agar kemitraan tetap berlanjut.
Penanya
kedua oleh Pak Joko Desa Pacekelan Kecamatan Purworejo, yang menanyakan apakah
jadwal tanam ditentukan oleh PT Wirata Merabu? Pak Seno menjelaskan bahwa musim
tanam mengikuti petunjuk PT Wirata Merabu, yaitu antara minggu ke dua bulan Mei
sampai dengan minggu ke dua bulan Juni. Ketinggian tempat di atas 200 meter di
atas permukaan laut (dpl). Dalam kemitraan ini, PT Wirata Merabu tidak membuat
perjanjian tertulis, hanya berdasarkan kepercayaan dengan petani pelaku usaha.
Setelah
acara ditutup oleh Ketua APTI, para anggota yang hadir dalam temu usaha
melakukan diskusi dan pendaftaran trial bagi mereka yang bersedia untuk
melakukan uji coba budidaya tembakau sesuai GAP dari PT Wirata Merabu.
Demikian
hasil Temu Usaha yang dilaksanakan oleh APTI Purworejo bersama PT Wirata
Merabu, yang diselenggarakan oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP)
Kabupaten Purworejo melalui Bidang Prasarana dan Penyuluhan Pertanian, dengan
kegiatan Pengembangan Kapasitas Kelembagaan Petani di Kecamatan dan Desa.
Semoga bermanfaat untuk petani pelaku usaha tembakau yang mana dapat
menggerakkan unit agribisnisnya dari hulu sampai hilir, sehingga peningkatan
kesejahteraan petani tercapai.






