- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
- JARINGAN IRIGASI TERSIER (PITER) TA. 2026
- “PERKUAT KETAHANAN PANGAN LOKAL, DKPP SIAPKAN PELATIHAN DI DESA RENTAN RAWAN PANGAN”.
- VERIFIKASI DAN EVALUASI PROPOSAL PERMOHONAN BANTUAN KEGIATAN PEMBANGUNAN PRASARANA PERTANIAN TAHUN 2027
- PASTIKAN KETAHANAN PANGAN AMAN, DKPP PURWOREJO PANTAU STOK CPPD DI GUDANG PENYIMPANGAN
- LAPORAN HASIL VERIFIKASI LAPANGAN PERMOHONAN BANTUAN BIBIT JERUK PURUT DESA KEMANUKAN
- Banter Melaju Disosialisasikan di Kemejing, Warga Antusias Sambut Peluang Ternak Kambing Jawa Randu
- Tindaklanjut Pengaduan Warga Mengenai Peternakan Ayam
- Gapoktan Desa Pakisarum Gelar Sosialisasi eRDKK 2027, Pastikan Petani Akses Pupuk Subsidi
- Ubinan Padi Varietas Inpari 32 di Desa Gowong Tunjukkan Produktivitas Menjanjikan
Tembakau dan Sapi : Ketika Bahasa Menentukan Siapa yang Waras

Tembakau dan Sapi : Ketika Bahasa Menentukan Siapa yang Waras
(Opini- Refleksi)
______________
# Sutoyo : Penyuluh Pertanian, Pegiat Literasi dan Pemerhati Filosofi Petani
# CybersquadX BPP Bruno
# Bruno, the Source of Inspiration
______________
Konon di sebuah desa, lima orang buta diminta menebak bentuk seekor sapi. Satu memegang ekor, satu lagi menyentuh tanduk, yang lain memegang perut, kaki, dan punggung. Masing-masing lalu bersikukuh dengan kesimpulannya sendiri: sapi itu seperti cambuk, paku runcing, tembok hangat, batang pohon, dan punggung bukit. Tak ada yang salah, tetapi tak ada pula yang utuh.
Alegori klasik ini sering dipakai untuk menggambarkan keterbatasan perspektif manusia. Tapi mari kita bawa ia turun dari mimbar filsafat dan kita suguhi tembakau dalam kemasan sebatang rokok. Karena ya rokok pun ternyata bisa menjadi “sapi” yang diperdebatkan bentuknya.
Ditengah istirahat sehabis gerdal OPT di Watuduwur tampak lima orang sedang bercengkerama, ngobrol ngalor ngidul sambil ketawa ketiwi dalam susana yang hangat. Satu orang penikmat rokok lintingan, satu orang rokok elektrik, satu orang rokok pabrikan, satu orang penikmat keduanya (rokok pabrikan dan eletrik) dan satunya lagi tidak merokok. Tiba-tiba Si perokok dengan santai menyebut dirinya penikmat. “Rokok itu teman berpikir dan sumber inspirasi,” katanya. Sementara si nonperokok mengangkat alis, “Kamu itu sudah kecanduan, bukan menikmati.”
Kontan seketika itu suasana menjadi seperti debat epistemologi.
Dalam perdebatan tentang rokok, kata-kata menjadi senjata. Istilah “penikmat” mengesankan kontrol, elegansi, bahkan spiritualitas. Seperti seseorang yang mencecap kopi hitam sambil membaca puisi. Sedangkan “pecandu” adalah istilah yang mengandung aroma un bypatologis : kehilangan kendali, perlu diselamatkan, bahkan dikasihani.
Padahal bisa jadi yang menyebut diri “penikmat” sebenarnya sudah dua bungkus sehari dan gelisah kalau belum ngebul. Sebaliknya, mungkin yang dianggap “pecandu” sedang dalam proses berhenti dan sudah mengurangi separuhnya.
Bahasa tak hanya menggambarkan realitas—bahasa dapat menciptakan realitas. Kata-kata membentuk sikap, memberi cap, dan kadang menciptakan pembenaran diri. “Saya bukan pecandu, saya penikmat,” adalah cara halus untuk menolak rasa bersalah.
Tapi seperti halnya orang buta yang menyentuh bagian sapi, kita semua sedang meraba-raba kenyataan dengan lensa terbatas: persepsi, pengalaman, dan tentu saja—pilihan diksi.
Si perokok mengklaim, “Kamu tidak tahu rasanya... ini bukan soal ketagihan, ini adalah seni.” Si nonperokok menimpali, “Kamu sudah tergantung, cuma tidak sadar.”
Jika diperhatikan keduanya benar dari sisi masing-masing. Tapi mereka sedang berdebat bukan hanya soal rokok, melainkan soal bahasa dan kuasa tafsir. Ini bukan sekadar pertarungan nikotin dan paru-paru, tapi pertarungan antara “kata yang dipilih” dan “kata yang dilekatkan.”
Dalam dunia yang semakin gampang melempar label, kemampuan menamai sesuatu dengan versi kita sendiri menjadi semacam kekuasaan simbolik. Orang kaya menyebut dirinya “visioner,” orang lain menyebutnya “rakus.” Orang tua bilang “mendidik,” anak muda bilang “mengontrol.” Kita semua sedang memberi bentuk pada sapi yang sama, tapi dengan ujung jari yang berbeda.
Rokok memang perkara kompleks. Ia dapat menjadi candu, dapat menjadi teman, dapat pula menjadi masalah atau pelarian. Tapi satu hal yang pasti: cara kita menyebut sesuatu ikut menentukan cara kita menyikapinya. Kata bukan hanya bunyi—ia adalah jendela berpikir.
Maka saat Anda mendengar kata “penikmat” atau “pecandu”, cobalah bertanya: ini sapi yang mana? Tanduknya? Perutnya? Atau cuma asapnya saja?
Karena mungkin, seperti dalam kisah orang-orang buta dan sapi tadi, kebenaran bukan tentang siapa yang paling keras bicara, tapi siapa yang mau saling mendengar. Disinilah indahnya persahabatan dan toleransi......wallohu alam bishowab.






