Tantangan Adaptasi Budidaya Tembakau di Tengah Anomali Iklim: Catatan Lapangan dari Gowong

By DINPPKP 17 Jun 2025, 09:34:54 WIB Penyuluhan
Tantangan Adaptasi Budidaya Tembakau di Tengah Anomali Iklim: Catatan Lapangan dari Gowong

Tantangan Adaptasi Budidaya Tembakau di Tengah Anomali Iklim: Catatan Lapangan dari Gowong

______________

# Sutoyo : Penyuluh Pertanian, Pegiat Literasi dan Pemerhati Pemberdayaan Petani

# CybersquadX BPP Bruno

# Bruno Come Back on Fire 

 (Storytelling) 

______________

Gowong, 16 Juni 2025 – Langit mendung menyelimuti hamparan sawah di Desa Gowong, Kecamatan Bruno, Purworejo. Waktu menunjukkan pukul 10 pagi lebih sedikit, namun sinar matahari belum sepenuhnya menembus awan. Di atas pematang yang mulai mengering, beberapa petani dari Kelompok Tani Rukun Tani tampak beristirahat sejenak. Mereka baru saja menyelesaikan pengolahan lahan sebagai tahap awal dari rencana pindah tanam tembakau.


Biasanya pertengahan Juni menandai awal musim kemarau di kawasan ini. Namun tahun ini berbeda. Hujan masih sering turun, bahkan dua hari ini berturut-turut diguyur dengan intensitas yang cukup tinggi. Tentu saja hal ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi petani, sebab sebagian dari mereka sudah melakukan pindah tanam. Tanah yang seharusnya mulai mengering justru kembali becek, meningkatkan risiko kerusakan akar dan gagalnya pertumbuhan.


Melihat kondisi tersebut, Tim dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Bruno yang dikomandani oleh Duwi Hartoto, S.ST., turun langsung ke lapangan. Mereka meninjau keadaan sambil memberikan suport moral kepada para petani agar tetap semangat dan tidak menyerah pada kondisi alam. Tak lupa Duwi juga mengingatkan pentingnya terus memanjatkan do'a memohon kepada Allah SWT agar tembakau yang ditanam diberikan kesempatan tumbuh subur hingga masa panen tiba.


Ditengah ketidakpastian ini, petani di Gowong tidak tinggal diam. Koordinasi intensif dengan penyuluh lapangan, pengamatan cuaca lokal, serta pengaturan ulang jadwal tanam menjadi langkah-langkah adaptasi yang terus dilakukan. Pendekatan ini sejalan dengan semangat pertanian berbasis ekologi, dimana petani dituntut untuk lebih peka terhadap tanda-tanda alam dan kondisi tanah.


Dukungan dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah melalui program GAP Tembakau turut membantu petani mempersiapkan diri. Program ini memberi panduan teknis, pendampingan lapangan, serta pelatihan adaptasi iklim yang cukup relevan dimasa sekarang.


Salah satu pelajaran penting dari situasi ini adalah pentingnya ketersediaan data cuaca mikro yang akurat. Prediksi umum dari BMKG terkadang tidak cukup untuk memandu keputusan di tingkat bawah.  Inisiatif seperti ini bisa menjadi langkah penting ke depan. Apalagi tembakau merupakan komoditas sensitif terhadap perubahan lingkungan mikro. Keterlambatan tanam atau kelebihan air pada fase awal bisa berujung pada penurunan mutu daun, yang berarti penurunan nilai jual.


Apa yang terjadi di Desa Gowong hanyalah salah satu contoh kecil dari tantangan besar yang dihadapi pertanian kita secara umum. Krisis iklim bukan sekadar wacana global, tapi telah nyata menyentuh akar rumput. Namun demikian semangat petani untuk terus bertahan, berinovasi, dan mencari jalan keluar adalah modal sosial dan budaya yang sangat berharga.


Budidaya tembakau dengan seluruh kompleksitasnya bisa menjadi ruang belajar penting tentang bagaimana manusia dan alam harus saling menyesuaikan diri. Ketika musim tak lagi bisa ditebak, maka yang paling menentukan adalah kemampuan kita untuk membaca alam, mengorganisir komunitas, dan bertindak cepat namun bijak.






Berita Purworejo

Counter Pengunjung