- Audit BPK Turun ke Lapangan, DKPP Purworejo Tunjukkan Transparansi Program Hibah
- Pelatihan Kader Zoonosis, Upayakan Prinsip One Health
- Evaluasi MT I Jadi Dasar, Kemiri Siap Genjot Tanam 2026
- HARGA BERAS DI PENGGILINGAN PADI PURWOREJO DEKATI HET, PASOKAN TERPANTAU STABIL
- Pembukaan Sekolah Lapang (SL) Kelapa Kelompok Tani Berkah Tani Milenial Desa Girigondo
- Penguatan Silaturahmi dan Sinergi Petani melalui Pertemuan KTNA dan Halal Bihalal Kecamatan Bener Tahun 2026 dalam Mendukung Pembangunan Pertanian Berkelanjutan
- Sekolah Lapang Kelapa 2026 Poktan Tanjung Sari, Kel Lugosobo, Kec Gebang
- SL Kelapa Kecamatan Grabag Tahun 2026 Upaya Tingkatkan Kapasitas Petani Kelapa Purworejo
- SL Kelapa Kecamatan Bagelen Tahun 2026 untuk amankan Produksi Kelapa Tetap Maksimal
- Akselerasi Sertifikasi Organik, KEP KOPRAL Purworejo Perkuat Administrasi dan Standar Budidaya
Tanam Padi Jajar Legowo di Sidoleren, Gebang

Tanam Padi Jajar Legowo
Desa Sidoleren merupakan sebuah desa di Kecamatan Gebang yang memiliki kondisi topografi berbukit dengan kelerengan 20-30%. Lahan sawahnya tidak banyak, hanya 11,61 hektar berbentuk petakan-petakan kecil. Walaupun luas sawahnya tidak besar tapi peningkatan SDM Petani tetap menjadi target BPP Gebang, karena sebagian petani memiliki lahan sawah yang berada di luar desa. Rutinitas kunjungan dan pendekatan yang intensif dilakukan untuk menumbuhkan minat petani meningkatkan kemampuan bercocok tanam padi yang lebih baik. Membuat demplot di desa sebelah dan mensosialisasikan kegiatan demplot tersebut kepada masyarakat sekitarnya juga merupakan kelengkapan usaha agar ada bukti nyata yang dapat dilihat.
Bapak Rohman merupakan ketua kelompok tani Sido Maju yang akhirnya berminat dan penasaran untuk mencoba menanam padi menggunakan sistem jajar legowo 2 : 1. Penyuluh Pertanian wilayah binaan bersama Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Gebang kemudian melakukan pendampingan kegiatan tanam padi dengan sistem jajar legowo 2 : 1 di lahan sawah miliknya.
Sistem jajar legowo masih sangat jarang diterapkan di daerah tersebut. Alasannya, banyak petani yang beranggapan menanam dengan sistem jajar legowo dinilai “eman-eman” karena ada satu baris yang dikosongkan, yang menurutnya bisa mengurangi hasil panen. Padahal, tanaman yang seharusnya ditanam dibarisan yang kosong dipindah sebagai tanaman sisipan di dalam barisan. Sistem tanam tersebut memiliki beberapa kelebihan, yaitu memudahkan dalam pemeliharaan, meningkatkan efisiensi pemupukan karena tidak disebar tetapi dilarik sesuai barisan tanaman, dan menambah tanaman tepi yang mendapat cahaya matahari secara optimal, sehingga terjadi peningkatan aktivitas fotosintesis yang berdampak peningkatan hasil produktivitas.
Bibit padi yang digunakan Bapak Rohman adalah bibit muda hasil persemaian benih yang berusia 15 hari setelah semai (hss). Penggunaan bibit muda memiliki beberapa keuntungan, yaitu tanaman tidak mudah stres, pertumbuhan akar lebih baik sehingga penyerapan unsur hara lebih efektif dan dapat meningkatkan jumlah anakan produktif. Selain bibit muda, untuk membentuk pola garis tanam jajar legowo 2 : 1 ini, beliau menggunakan caplak sederhana yang terbuat dari kayu dengan ukuran legowo 30 cm dan jajar antar tanaman 25 cm.
Dari beberapa petakan sawah milik Bapak Rohman, tidak semua ditanami dengan sistem jajar legowo 2 : 1, beberapa petakan lain ditanam dengan sistem konvensional agar bisa digunakan sebagai pembanding hasilnya saat panen nanti. Kegiatan pendampingan dari penyuluh pertanian diharapkan dapat mengubah pengetahuan, sikap dan keterampilan petani yang bersangkutan dan menjadi acuan bagi petani lain dalam berbudidaya padi dengan menerapkan teknologi baru yang lebih menguntungkan.
by. Aulia Mega Pratiwi, A.Md.P. BPP Gebang






