- Gerakan Pengendalian Menggunakan Agen Hayati Ramah Lingkungan di Desa Kerep Kemiri
- RUMAH PANGAN KITA DKPP PURWOREJO SENANTIASA HADIR MENEMANI SETIAP JUM’AT PAGI
- PEMANTAUAN DISTRIBUTOR BAPOKTING OLEH PENGAWAS HARGA PANGAN DI KABUPATEN PURWOREJO
- Refilling Nitrogen Cair Guna Sukseskan Inseminasi Buatan Ternak
- Menyulam Ilmu di Hamparan Tembakau
- Gerakan Pengendalian Tikus Serempak di Lima Kecamatan Kabupaten Purworejo
- BPP Purworejo Gelar Gerdal Tikus Susulan di Cangkreplor, Amankan Produksi Padi MT II
- Jamin Daging Kurban Aman, Tim DKPP Purworejo Sisir Belasan Kecamatan
- Prosesi Penyembelihan Sapi Kurban Bantuan Presiden Republik Indonesia ????✨
- PENYERAHAN BANTUAN PANGAN SECARA SIMBOLIS OLEH WAKIL BUPATI PURWOREJO DI DESA TEGALSARI
Surveilans Kasus AI (Afian Influenza) / Flu Burung pada Unggas Air di Kecamatan Butuh oleh DKPP dan BBVet Wates
Surveilans Kasus AI
(Afian Influenza) / Flu Burung pada Unggas Air
di Kecamatan Butuh
oleh DKPP dan BBVet Wates
Selasa, 25 Maret 2025
Merebaknya kasus kematian unggas yang hampir merata di wilayah kabupaten
Purworejo, membuat resah sebagian besar pemelihara unggas. Hampir semua jenis
unggas terimbas kasus kematian, baik ayam, bebek, entog, maupun angsa. Terkait
kasus tersebut salah satunya dilaporkan terjadi di peternakan unggas air
khususnya bebek di Desa Klepu kecamatan Butuh. Kematian ayam juga dilaporkan
pada ternak skala rumah tangga di desa Butuh kecamatan Butuh.
Penelusuran yang dilakukan oleh Tim
Keswan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo yang terdiri
dari drh. Zain Amri, drh. Rini, drh. Anggit, dan drh. Fauziyah dengan
menyertakan 2 mahasiswa magang dari Vokasi Tehnologi Veteriner UGM, dan
didampingi 4 PPL Kecamatan Butuh. Demi menguatkan diagnosa, maka dilaksanakan
pengambilan sampel, sehingga kegiatan kali ini menyertakan dari Tim BBVet Wates
yang terdiri dari 2 medik dan 1 paramedik veteriner. Penelusuran diawali dengan
melakukan kordinasi dengan pihak pemerintah Desa Klepu, sekaligus merencanakan
rute penelusuran kasus. Tim dengan dipandu bapak kepala desa dan 2 perangkat
desa, langsung menuju lokasi peternakan bebek.
Terdapat 3 titik lokasi sasaran
peternakan bebek di Desa Klepu. Ketiga peternakan semuanya mengalami kejadian
kematian bebek dalam tempo cepat dan dalam waktu yang hampir bersamaan. Kandang I, kandang bebek milik Bapak Paiman,
saat survei populasi bebek sejumlah 400 ekor, bebek siap bertelur, merupakan
ternak baru di kandang, semua kondisi sehat. Kematian yang terjadi dialami oleh
populasi ternak sebelumnya yang saat ini sudah tidak tersisa di kandang. Di
kandang karantina yang jauh dari lokasi kandang ini, tersisa 2 ekor kondisi
sakit (tetelo dan pincang karena terjepit kandang). Dari kandang I diambil acak
12 ekor bebek untuk dikoleksi swab orofaring dan sampel darah. Dilanjut juga
pengambilan sampel pada kedua bebek yang ada di akndang karantina. Kandang II
milik bapak Kepala Desa Klepu (bapak Sukiman), populasi 300 ekor bebek kondisi
produksi telur, terdapat 10 ekor sakit dengan gejala mata biru. Sampel
orofaring dan sampel darah diambil dari 5 ekor bebek sehat dan 5 ekor bebek
sakit. Kandang III, milik bapak Sarju, dengan populasi ternak bebek saat ini
400 ekor, dimana beberapa waktu yang lalu terjadi pula kematian bebek dalam
jumlah banyak secara mendadak dengan salah satu gejala mata biru. Kandang III
tidak dilakukan pengambilan sampel, karena pemilik tidak berada di kandang.
Penelusuran dilanjut ke Desa Butuh, Kecamatan Butuh, pada pemilik
ayam rumahan ibu Annis, yang dalam sepekan ini ayamnya mati secara mendadak
satu persatu. Selain matinya secara mendadak, ayam juga menunjukkan gejala
berak putih. Dari total ayam yang dipelihara 25 ekor (12 ayam indukan, 5 ekor
anakan tanggung, dan 8 ekor anakan kecil) telah mati sebanyak 14 ekor (semua
ayam dewasa dan 2 ayam anakan sedang). Di sini diambil sampel dari 9 ekor (2
ekor anakan sedang diambil sampel orofaring dan sampel darah, dan 7 ekor anakan
kecil diambil sampel orofaring saja).
Sampel selanjutnya dibawa ke BBVet Wates untuk selanjutnya dilakukan
uji guna peneguhan diagnosa apakah unggas positif AI atau penyakit lain atau
tidak menderita penyakit. Dalam tempo 7-15 an hari hasil akan didapat.
Afian Influenza (AI) atau flu burung adalah infeksi virus yang
ditemukan pada unggas domestik dan berbagai jenis burung lainnya, dengan
beberapa galur secara sporadis menyebar ke mamalia liar dan domestik serta
manusia. Unggas air liar dan burung pantai sering kali menjadi pembawa virus
yang terkena dampak subklinis. Pada unggas, galur dengan patogenisitas rendah
dapat menyebabkan infeksi subklinis; namun, beberapa galur biasanya menyebabkan
tanda-tanda pernapasan atau penurunan produksi telur. Galur dengan
patogenisitas tinggi dapat menyebabkan kegagalan organ yang meluas dan kematian
mendadak, seringkali dengan tingkat kematian yang tinggi. Diagnosis didasarkan
pada deteksi genom virus atau antibodi spesifik atau pada isolasi virus. Antimikroba
dapat membantu mengendalikan infeksi bakteri sekunder pada kawanan yang terkena
galur dengan patogenisitas rendah. Obat antivirus tidak disetujui atau
direkomendasikan. Pencegahan paling baik dilakukan dengan tindakan biosekuriti.
Vaksin yang disesuaikan dengan jenis antigenik dapat sangat meningkatkan
resistensi terhadap infeksi, mencegah tanda-tanda klinis, dan mengurangi
pelepasan virus pada kawanan yang terinfeksi.
Virus AI ditularkan antar unggas melalui konsumsi atau inhalasi.
Penyebaran antar peternakan terjadi akibat pelanggaran praktik biosekuriti,
terutama melalui pergerakan unggas yang terinfeksi atau feses dan sekresi
pernapasan yang terkontaminasi pada benda-benda seperti peralatan atau pakaian.
Penyebaran melalui udara antar peternakan mungkin penting dalam jarak dekat.






