Surveilans Kasus AI (Afian Influenza) / Flu Burung pada Unggas Air di Kecamatan Butuh oleh DKPP dan BBVet Wates

By DINPPKP 27 Mar 2025, 11:08:52 WIB Peternakan dan Keswan

Surveilans Kasus AI (Afian Influenza) / Flu Burung pada Unggas Air

di Kecamatan Butuh oleh DKPP dan BBVet Wates

 

Selasa, 25 Maret 2025

Merebaknya kasus kematian unggas yang hampir merata di wilayah kabupaten Purworejo, membuat resah sebagian besar pemelihara unggas. Hampir semua jenis unggas terimbas kasus kematian, baik ayam, bebek, entog, maupun angsa. Terkait kasus tersebut salah satunya dilaporkan terjadi di peternakan unggas air khususnya bebek di Desa Klepu kecamatan Butuh. Kematian ayam juga dilaporkan pada ternak skala rumah tangga di desa Butuh kecamatan Butuh.

            Penelusuran yang dilakukan oleh Tim Keswan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo yang terdiri dari drh. Zain Amri, drh. Rini, drh. Anggit, dan drh. Fauziyah dengan menyertakan 2 mahasiswa magang dari Vokasi Tehnologi Veteriner UGM, dan didampingi 4 PPL Kecamatan Butuh. Demi menguatkan diagnosa, maka dilaksanakan pengambilan sampel, sehingga kegiatan kali ini menyertakan dari Tim BBVet Wates yang terdiri dari 2 medik dan 1 paramedik veteriner. Penelusuran diawali dengan melakukan kordinasi dengan pihak pemerintah Desa Klepu, sekaligus merencanakan rute penelusuran kasus. Tim dengan dipandu bapak kepala desa dan 2 perangkat desa, langsung menuju lokasi peternakan bebek.

            Terdapat 3 titik lokasi sasaran peternakan bebek di Desa Klepu. Ketiga peternakan semuanya mengalami kejadian kematian bebek dalam tempo cepat dan dalam waktu yang hampir bersamaan.  Kandang I, kandang bebek milik Bapak Paiman, saat survei populasi bebek sejumlah 400 ekor, bebek siap bertelur, merupakan ternak baru di kandang, semua kondisi sehat. Kematian yang terjadi dialami oleh populasi ternak sebelumnya yang saat ini sudah tidak tersisa di kandang. Di kandang karantina yang jauh dari lokasi kandang ini, tersisa 2 ekor kondisi sakit (tetelo dan pincang karena terjepit kandang). Dari kandang I diambil acak 12 ekor bebek untuk dikoleksi swab orofaring dan sampel darah. Dilanjut juga pengambilan sampel pada kedua bebek yang ada di akndang karantina. Kandang II milik bapak Kepala Desa Klepu (bapak Sukiman), populasi 300 ekor bebek kondisi produksi telur, terdapat 10 ekor sakit dengan gejala mata biru. Sampel orofaring dan sampel darah diambil dari 5 ekor bebek sehat dan 5 ekor bebek sakit. Kandang III, milik bapak Sarju, dengan populasi ternak bebek saat ini 400 ekor, dimana beberapa waktu yang lalu terjadi pula kematian bebek dalam jumlah banyak secara mendadak dengan salah satu gejala mata biru. Kandang III tidak dilakukan pengambilan sampel, karena pemilik tidak berada di kandang.

Penelusuran dilanjut ke Desa Butuh, Kecamatan Butuh, pada pemilik ayam rumahan ibu Annis, yang dalam sepekan ini ayamnya mati secara mendadak satu persatu. Selain matinya secara mendadak, ayam juga menunjukkan gejala berak putih. Dari total ayam yang dipelihara 25 ekor (12 ayam indukan, 5 ekor anakan tanggung, dan 8 ekor anakan kecil) telah mati sebanyak 14 ekor (semua ayam dewasa dan 2 ayam anakan sedang). Di sini diambil sampel dari 9 ekor (2 ekor anakan sedang diambil sampel orofaring dan sampel darah, dan 7 ekor anakan kecil diambil sampel orofaring saja).

Sampel selanjutnya dibawa ke BBVet Wates untuk selanjutnya dilakukan uji guna peneguhan diagnosa apakah unggas positif AI atau penyakit lain atau tidak menderita penyakit. Dalam tempo 7-15 an hari hasil akan didapat.

Afian Influenza (AI) atau flu burung adalah infeksi virus yang ditemukan pada unggas domestik dan berbagai jenis burung lainnya, dengan beberapa galur secara sporadis menyebar ke mamalia liar dan domestik serta manusia. Unggas air liar dan burung pantai sering kali menjadi pembawa virus yang terkena dampak subklinis. Pada unggas, galur dengan patogenisitas rendah dapat menyebabkan infeksi subklinis; namun, beberapa galur biasanya menyebabkan tanda-tanda pernapasan atau penurunan produksi telur. Galur dengan patogenisitas tinggi dapat menyebabkan kegagalan organ yang meluas dan kematian mendadak, seringkali dengan tingkat kematian yang tinggi. Diagnosis didasarkan pada deteksi genom virus atau antibodi spesifik atau pada isolasi virus. Antimikroba dapat membantu mengendalikan infeksi bakteri sekunder pada kawanan yang terkena galur dengan patogenisitas rendah. Obat antivirus tidak disetujui atau direkomendasikan. Pencegahan paling baik dilakukan dengan tindakan biosekuriti. Vaksin yang disesuaikan dengan jenis antigenik dapat sangat meningkatkan resistensi terhadap infeksi, mencegah tanda-tanda klinis, dan mengurangi pelepasan virus pada kawanan yang terinfeksi.

Virus AI ditularkan antar unggas melalui konsumsi atau inhalasi. Penyebaran antar peternakan terjadi akibat pelanggaran praktik biosekuriti, terutama melalui pergerakan unggas yang terinfeksi atau feses dan sekresi pernapasan yang terkontaminasi pada benda-benda seperti peralatan atau pakaian. Penyebaran melalui udara antar peternakan mungkin penting dalam jarak dekat.

 





Berita Purworejo

Counter Pengunjung