Studi Tiru ke Temanggung, Petani Rowobayem Siap Mandiri Produksi Benih Tembakau

By DINPPKP 08 Sep 2025, 15:28:35 WIB Penyuluhan
Studi Tiru ke Temanggung, Petani Rowobayem Siap Mandiri Produksi Benih Tembakau

Studi Tiru ke Temanggung, Petani Rowobayem Siap Mandiri Produksi Benih Tembakau

 

KEMIRI KEREN NEWS –– Petani Desa Rowobayem, Kemiri melakukan studi tiru ke penangkaran benih tembakau di Kabupaten Temanggung, pada Kamis (4/9/2025). Kegiatan ini bertujuan menambah wawasan dan keterampilan petani sekaligus mendorong kemandirian dalam penyediaan benih unggul. Tidak hanya Desa Rowobayem, petani Desa Pacekelan, Kecamatan Purworejo pun ikut serta dalam kegiatan tersebut. Petani mendapatkan materi langsung dari penangkar berpengalaman di Temanggung. Mereka belajar mulai dari pemilihan varietas indukan, teknik penyemaian, perawatan tanaman, hingga proses panen dan penyimpanan benih.

Salah satu peserta, Pak Arianto, menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat penting untuk menjawab kebutuhan petani Rowobayem.

“Selama ini kami masih bergantung pada benih dari luar desa. Melalui studi tiru ini kami ingin belajar agar bisa mandiri dalam penyediaan benih unggul, sekaligus meningkatkan kualitas tembakau Rowobayem,” ujarnya.

Studi tiru berlangsung interaktif. Peserta aktif bertanya mengenai berbagai kendala yang sering mereka hadapi di desa, terutama soal penyakit pada tanaman tembakau dan cara menjaga kemurnian varietas.

Dalam penjelasan narasumber, Bapak Dadi Riswanto ada beberapa tahapan penting yang harus diperhatikan petani dalam penangkaran benih tembakau, antara lain:

1. Pemilihan Indukan

Pilih tanaman yang sehat, tumbuh normal, dan terbebas dari hama serta penyakit. Tanaman induk harus berasal dari varietas unggul yang cocok di wilayah tersebut.

2. Seleksi Bunga dan Penyerbukan

Bunga yang dipilih untuk menghasilkan benih dipelihara secara khusus. Seleksi bunga dilakukan isolasi agar tidak terjadi penyerbukan silang dengan varietas lain dengan cara pengerodongan. Pembukaan kerodong dilakukan jika memenuhi syarat minimal 75% bunga gugur (biasanya pada saat umur pengerodongan antara 21-25 hari).

3. Perawatan Tanaman Benih

Tanaman dipelihara lebih intensif dibanding tanaman tembakau konsumsi. Penyiangan, penyiraman, dan pemupukan harus dilakukan secara teratur dengan dosis tepat.

4. Pengendalian Hama dan Penyakit

Benih harus terjaga dari serangan hama dan penyakit. Pengendalian dilakukan secara terpadu, bisa dengan cara mekanis maupun penggunaan pestisida nabati.

5. Panen Benih

Proses pemanenan benih tembakau dilakukan dengan ciri- ciri minimal 30% bungkul kering (antara 10-14 hari setelah pembukaan kerodong).

6. Pengeringan dan Penyimpanan

Benih dijemur dengan cara diangin-anginkan, bukan terkena sinar matahari langsung. Setelah kering, benih disimpan dalam wadah kedap udara agar daya kecambah tetap terjaga.

Penyuluh pertanian yang mendampingi, Ibu Etik Setyowati, menambahkan bahwa pembelajaran lapangan seperti ini jauh lebih efektif.

“Petani biasanya lebih cepat paham kalau melihat langsung. Harapannya, ilmu yang diperoleh bisa segera dipraktikkan di Rowobayem,” jelasnya.

Selain mendapatkan ilmu, kegiatan ini juga menghasilkan kesepakatan untuk mulai mencoba penangkaran benih dalam skala kecil di Rowobayem sebagai tahap awal. Kelompok juga akan menjalin komunikasi dengan penangkar Temanggung sebagai mitra belajar.

Salah satu peserta, Pak Suyanto, mengaku mendapatkan pengalaman baru.

“Ternyata cara menghasilkan benih itu tidak sama dengan menanam tembakau biasa. Ada perlakuan khusus supaya hasilnya unggul. Ini jadi bekal baru untuk kami di desa,” katanya.

Dari kegiatan ini, diharapkan petani Rowobayem akan memperoleh pengetahuan teknis tentang tata cara penangkaran benih tembakau mulai dari pemilihan indukan, perawatan, hingga penyimpanan benih.

“Pengalaman langsung melalui kunjungan lapangan dan praktik sederhana di lokasi penangkaran ini akan menjadi motivasi dan kesadaran akan pentingnya kemandirian benih untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas tembakau di Desa Rowobayem,” tambah Etik lagi.

Dengan adanya studi tiru ini, diharapkan petani tembakau Desa Rowobayem dapat menerapkan ilmu yang diperoleh, mengurangi ketergantungan pada benih dari luar, serta membuka peluang usaha baru di bidang penangkaran benih tembakau sekaligus meningkatkan kualitas produksi tembakau lokal. Semoga.–





Berita Purworejo

Counter Pengunjung