Srikandi Penakluk Singkong Beracun: Inovasi Ketahanan Pangan dari Pinggiran Hutan

By DINPPKP 19 Mar 2025, 08:50:19 WIB Penyuluhan
Srikandi Penakluk Singkong Beracun: Inovasi Ketahanan Pangan dari Pinggiran Hutan

Srikandi Penakluk Singkong Beracun: Inovasi Ketahanan Pangan dari Pinggiran Hutan  

______________

# Sutoyo : Penyuluh Pertanian, Pegiat Literasi dan Pemerhati Pemberdayaan Petani

# CybersquadX BPP Bruno

# Bruno Semakin Menyala

______________

Kambangan, Bruno, 18 Maret 2025 – Diketinggian 1.047,7 meter di atas permukaan laut (mdpl), dua orang perempuan tangguh Bu Ismawati dan Bu Watiah tengah beristirahat siang di kebun singkong miliknya di pinggiran hutan Desa Kambangan, Kecamatan Bruno. Disela aktivitas memanen jahe merah di bawah naungan pohon singkong Kastepe (nama setempat singkong beracun), mereka membuktikan bahwa inovasi dan kearifan lokal mampu menjadi solusi nyata di tengah tantangan ketahanan pangan.  


Bak pucuk dicinta ulam pun tiba, tanpa sengaja pertemuan ini mengungkap sosok Srikandi penakluk singkong beracun—singkong yang bahkan Babi, Monyet, hingga Tikus hutan pun enggan mencicipinya karena kandungan racunnya yang mematikan. Namun di tangan terampil mereka, singkong beracun ini diolah menjadi tepung mocaf (Modified Cassava Flour), inovasi pangan lokal yang kaya manfaat dan bernilai ekonomis tinggi.  


Ibu-ibu tangguh ini memanfaatkan lahan Perhutani yang sedang dalam proses peremajaan. Sambil menunggu pinus tumbuh dewasa dan mulai berproduksi, lahan di sela-sela pohon dimanfaatkan secara produktif untuk membudidayakan singkong beracun dan jahe merah. Inovasi ini  menjadi bukti nyata bahwa lahan marginal dapat diubah menjadi sumber pangan dan penghasilan yang berkelanjutan.  


Menurut Suyitno, PPL THL-TBPP (Tenaga Harian Lepas – Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian) yang telah belasan tahun mendampingi masyarakat Kambangan, praktik ini telah diterapkan jauh sebelum menjadi bagian dari kebijakan penting pemerintah melalui Pengembangan Areal Tanam  (PAT). Ketahanan pangan berbasis komunitas ini membuktikan bahwa masyarakat lokal memiliki kemampuan berinovasi dan beradaptasi dengan memanfaatkan sumber daya sekitar.    


Ditemui di Kantor Desa, Kades Kambangan Pak Tarso menambahkan bahwa selain singkong Kastepe yang sudah diolah menjadi tepung mocaf, ada satu jenis lagi yang dikenal oleh masyarakat sebagai singkong Jawa atau  singkong Slendro. dan sebagian lagi  menyebutnya singkong *su atau Kirik. Singkong ini memiliki produktivitas tinggi, mencapai 5-15 kg per pohon dan menariknya dibudidayakan oleh masyarakat secara organik tanpa pupuk kimia, hanya menggunakan pupuk kandang.  


Pengalaman bertahun-tahun Bu Ismawati tanam singkong Kastepe dengan teknik budidaya secara alami ini menurut Suyitno "Selain menjaga kesehatan tanah dan lingkungan, hasilnya pun lebih sehat dan aman dikonsumsi." Model pertanian ramah lingkungan seperti ini menjadi cerminan kedaulatan pangan berbasis kearifan lokal yang memperkuat ketahanan pangan di tengah ancaman krisis global.


Apa yang dilakukan oleh Bu Ismawati, Bu Watiah dan masyarakat desa Kambangan adalah cerminan nyata dari semangat kemandirian pangan. Dengan memanfaatkan lahan di bawah tegakan pinus, mereka tidak hanya menjaga keberlanjutan ekosistem hutan, tetapi juga menciptakan solusi pangan inovatif dari sumber daya lokal yang selama ini terabaikan.  


Singkong beracun yang diolah menjadi gablek dan tepung mocaf, serta jahe merah yang tumbuh subur di sela pinus, menjadi bukti bahwa ketahanan pangan bisa dibangun dari pinggiran hutan—dengan inovasi, ketekunan, dan keberanian menghadapi tantangan.  


Ditangan para Srikandi ini singkong beracun yang ditakuti kini menjadi harapan baru untuk masa depan ketahanan pangan yang lebih berdaulat dan berkelanjutan.






Berita Purworejo

Counter Pengunjung