- Kelompok Tani Rukun Tani dan Sumber Harapan, Panen Varietas Unggulan dengan Tantangan Cuaca dan Harga
- SELEKSI TENAGA FASILITATOR LAPANGAN KEGIATAN RJIT 2026
- Pelatihan Penguatan Kelembagaan Petani melalui Sekolah Lapang Tembakau di Kelompok Tani Ngudi Waluyo III Desa Keduren
- DKPP PURWOREJO SALURKAN BANTUAN PANGAN CPPD KE SEJUMLAH BNBA TERDAMPAK PUSO DAN KEKERINGAN DI DESA/KELURAHAN KECAMATAN PURWOREJO
- Gerak cepat tim kolaborasi tangani aduan masyarakat terkait pelaku usaha peternakan burung puyuh
- Pemeriksaan Ketat Bahan Pangan Asal Hewan: Langkah Nyata Wujudkan Keamanan Konsumen
- SUBALI SAPIRA (Suburkan Kembali Sapi Rakyat)
- DKPP Purworejo Kembali Pastikan Kualitas Kambing Jawa Randu untuk Penerima Hibah 2026
- KTNA Kecamatan Bener Gelar Pertemuan dan Tanam Benih Padi Metode PM-AAS
- PERUM BULOG DAN DKPP PURWOREJO GELAR EVALUASI BANTUAN PANGAN CPP
Skenario Disiapkan Matang, Tapi Kepercayaan Datang Tanpa Naskah

Skenario Disiapkan Matang, Tapi Kepercayaan Datang Tanpa Naskah
______________
# Sutoyo : Penyuluh Pertanian, Pegiat Literasi dan Pemerhati Pemberdayaan Petani
# CyberaquadX BPP Bruno
# Bruno Gasspool on Fire
______________
Gowong, Bruno, 23 Juni 2025 — Pagi yang sibuk menyelimuti KWT Sekartani, desa Gowong, Kecamatan Bruno. Para ibu anggota kelompok sibuk bekerja di demplot, bergotong royong menyiapkan media tanam dan mulai menanam bibit bantuan dari Distanbun Prov Jateng. Keringat mulai bercucuran, tangan tak berhenti mengaduk tanah, mencampur pupuk organik, mengisi polybag, dan menanam bibit yang baru saja didistribusikan beberapa hari sebelumnya.
Mereka bekerja cepat, bukan hanya karena semangat, tapi juga karena hari itu akan kedatangan Tim dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah yang dijadwalkan untuk melakukan monitoring. Harapannya, kerja keras mereka bisa langsung dapat terlihat dan dirasakan.
Namun, yang terjadi di luar dugaan.
Lokasi demplot yang berada jauh dari sekretariat dan hanya dapat diakses melalui jalan setapak yang cukup terjal dan licin—kalau pun memakai kendaraan harus memutar lewat punggung gunung. Tim, yang dipimpin oleh Pak Yanto dari Distanbun Provinsi, memilih tetap di sekretariat. Sementara ibu-ibu masih berkutat di kebun.
Ternyata, Tim cukup percaya dengan laporan kegiatan yang disampaikan melalui dokumentasi Open Camera. Tidak perlu pembuktian secara fisik. Mereka hanya meminta agar kegiatan dihentikan sebentar, dan semua anggota diminta kembali ke sekretariat untuk kumpul bersama dan bercengkerama.
Situasi yang awalnya menegangkan—karena merasa belum banyak yang ditanam dan takut dinilai kurang sigap—perlahan mulai mencair. Apalagi, Pak Yanto memimpin dengan gaya yang ramah dan penuh dengan humor. Candaannya membuat suasana cair, ibu-ibu pun bisa tertawa lega. Yang awalnya panik karena mengira akan diperiksa ketat, malah diajak ngobrol santai.
Tim tetap melakukan pengecekan bantuan dengan sangat teliti. Jumlah bibit, jenis tanaman, ukuran, hingga kesesuaian barang dicek satu per satu. Tapi bukan pada kegiatan tanamannya—melainkan pada data, dokumen, dan kondisi fisik barang yang tersedia di sekretariat. Jika ada ketidaksesuaian, tanggung jawab ada pada pengada barang, bukan kelompok.
Hari itu KWT Sekartani belajar satu hal penting:
Bahwa kepercayaan kadang datang bukan dari inspeksi lapangan yang ketat tetapi dari niat baik, keterbukaan, dan kesungguhan kerja. Skenario sudah disiapkan matang—semua ingin tampil maksimal—namun ternyata kepercayaan datang tanpa naskah.
Dan dibalik keringat yang mengucur di lereng bukit itu, tertanam benih yang lebih besar dari sekadar tanaman: benih kepercayaan.






