- LAPORAN HASIL VERIFIKASI LAPANGAN PERMOHONAN BANTUAN BIBIT JERUK PURUT DESA KEMANUKAN
- Banter Melaju Disosialisasikan di Kemejing, Warga Antusias Sambut Peluang Ternak Kambing Jawa Randu
- Tindaklanjut Pengaduan Warga Mengenai Peternakan Ayam
- Gapoktan Desa Pakisarum Gelar Sosialisasi eRDKK 2027, Pastikan Petani Akses Pupuk Subsidi
- Ubinan Padi Varietas Inpari 32 di Desa Gowong Tunjukkan Produktivitas Menjanjikan
- Jalan Usaha Tani (JUT) DKPP Tahun Anggaran 2026
- DKPP Lakukan Pengujian Sampel PSAT Pasca Idul Fitri 1447 H
- Refilling Nitrogen Cair untuk Mendukung Kegiatan Inseminasi Buatan Ternak
- Seleksi Hibah Ternak 2027 Dimulai, DKPP Purworejo Verifikasi Proposal dari 14 Kecamatan
- PEMKAB PURWOREJO DAN PERUM BULOG SIAP SALURKAN BANTUAN PANGAN BERAS DAN MINYAK GORENG ALOKASI FEBRUARI-MARET 2026
Semangat Hari Kebaya, KWT Lestari Abadi Gesikan Tanam Asa Lewat Program P2B
Semangat Hari Kebaya, KWT Lestari Abadi Gesikan Tanam Asa Lewat Program P2B
KEMIRI KEREN NEWS –– Pagi yang cerah di Balai Desa Gesikan menjadi saksi semangat ibu-ibu anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Lestari Abadi, yang berkumpul mengenakan kebaya warna-warni nan anggun. Suasana tampak meriah, tapi penuh makna, karena kegiatan hari itu menggabungkan dua semangat sekaligus, memperingati Hari Kebaya Nasional dan koordinasi pemanfaatan pekarangan sebagai sumber pangan bergizi untuk pencegahan stunting pada Rabu (23/7/2025).
Ketua KWT Lestari Abadi, Ibu Rini, membuka kegiatan dengan semangat yang menginspirasi. Dalam sambutannya, beliau mengingatkan bahwa perempuan desa punya kekuatan besar jika bersatu dan bergerak. “Hari ini kita pakai kebaya bukan sekadar merayakan budaya, tapi juga menegaskan bahwa kita, perempuan desa, bisa menjadi pelaku utama dalam menyediakan pangan bergizi bagi keluarga,” ujarnya sambil tersenyum.
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi penyampaian materi dari Bapak Agus Nugroho, SP, penyuluh pertanian dari BPP Kecamatan Kemiri. Dalam paparannya, beliau mengajak para anggota KWT untuk melihat potensi pekarangan sebagai “kebun gizi” keluarga.
“Halaman rumah jangan cuma buat jemur cucian. Tanami dengan sayuran, bumbu dapur, daun kelor, atau buah lokal. Gizi anak bisa dipenuhi dari depan rumah sendiri. Dan itu semua, ibu-ibu bisa lakukan dengan sederhana,” ujar Pak Agus sambil mempraktekkan teknik tanam sederhana dalam polybag.
Beliau juga menegaskan bahwa stunting bukan hanya soal tinggi badan, tapi soal kualitas tumbuh kembang anak secara menyeluruh. Pekarangan rumah yang produktif bisa menjadi solusi langsung untuk memastikan keluarga mengonsumsi sayur segar setiap hari.
Walau tidak ada pemateri khusus dari tenaga kesehatan, namun para ibu sadar betul bahwa salah satu penyebab stunting adalah kurangnya asupan makanan bergizi sejak dini. Oleh karena itu, pemanfaatan pekarangan untuk menanam pangan sehat bukan hanya soal ketahanan pangan, tapi juga bentuk kepedulian terhadap tumbuh kembang anak-anak.
“Kalau dari halaman sendiri bisa tumbuh daun kelor, bayam, tomat, ya kita nggak perlu repot beli. Dan yang penting, anak-anak bisa makan sayur segar setiap hari,” ujar Bu Paini, anggota KWT yang sudah lama mengolah pekarangan jadi kebun kecil
Tak ingin berhenti di wacana, KWT Lestari Abadi menyepakati beberapa langkah pelaksanaan Program Pekarangan Pangan Bergizi (P2B) yang akan dijalankan mulai akhir bulan Juli 2025. Diantaranya, identifikasi potensi pekarangan anggota, setiap rumah akan didata dan diklasifikasikan jenis tanaman yang cocok ditanam, pembagian bibit dan media tanam, pelatihan pengolahan hasil pekarangan, misalnya membuat abon kelor, keripik bayam, dan sambal tomat tahan lama dan pemantauan rutin dan evaluasi tiap bulan, dipandu oleh penyuluh pertanian dan pengurus KWT. Kegiatan ini juga akan didokumentasi dan publikasikan. Hasil kebun akan dipotret, dicatat, dan dipamerkan dalam momen desa seperti Posyandu atau pertemuan PKK.
Peserta terlihat antusias berbagi pengalaman menanam berbagai jenis sayuran seperti bayam, kangkung, terong, cabai, tomat, daun kelor, hingga tanaman rempah-rempah seperti sereh dan kunyit. Bahkan ada juga yang sudah mencoba budidaya ikan lele dalam ember (budikdamber) di pojok halaman rumah.
Acara ditutup dengan sesi foto bersama. Para ibu tetap tampil menawan dalam kebaya. Terselip satu pesan penting: menjadi perempuan desa itu istimewa karena bisa menjaga tradisi sekaligus menciptakan perubahan.
Peringatan Hari Kebaya Nasional kali ini membawa semangat baru bagi KWT Lestari Abadi Desa Gesikan. Dengan sentuhan budaya dan semangat gotong royong, program P2B menjadi langkah awal menuju keluarga sehat, mandiri, dan bebas stunting. Semoga.––






