- DKPP Purworejo Kembali Pastikan Kualitas Kambing Jawa Randu untuk Penerima Hibah 2026
- KTNA Kecamatan Bener Gelar Pertemuan dan Tanam Benih Padi Metode PM-AAS
- PERUM BULOG DAN DKPP PURWOREJO GELAR EVALUASI BANTUAN PANGAN CPP
- KWT Margo Dadi Prapaglor Belajar Buat PSB
- Seleksi Tahap Kedua Tuntas, DKPP Pastikan 55 Domba Hibah Siap Disalurkan kepada Kelompok
- Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo Gelar Monev Alsintan di Pituruh
- PERINGATI HKG PKK KE-54, RATUSAN KADER PKK PURWOREJO ANTUSIAS SERBU GERAKAN PANGAN MURAH DI PENDOPO PURWOREJO
- Tingkatkan Angka Kebuntingan Sapi Peternak, Program Subali Sapira Beraksi Lagi di Kedungpomahan Kulon
- RAKOR PEMANTAUAN STOK DAN HARGA DI TINGKAT PRODUSEN DAN KONSUMEN BULAN AGUSTUS 2026
- RAPAT KOORDINASI PERCEPATAN PELAKSANAAN PEMBANGUNAN JUT
Sekolah Lapang Kopi di Desa Medono, Belajar Sambil Tertawa

Sekolah Lapang Kopi di Desa Medono, Belajar Sambil Tertawa
Purworejo – Suasana di Desa Medono, Kecamatan Bener, Senin (25/8) tampak ramai. Anggota Kelompok Tani Maju Jaya Makmur berkumpul untuk mengikuti Sekolah Lapang Kopi. Meski topiknya serius, yaitu tentang kopi, acara ini justru berlangsung santai, penuh tawa, dan membuat peserta betah dari awal sampai akhir.
Kegiatan dibuka dengan ice breaking yang dipandu tim Penyuluh Pertanian BPP Bener. Sesi ini berhasil mencairkan suasana. Bayangkan saja, para petani yang biasanya sibuk di kebun tiba-tiba harus mengikuti permainan ringan. Ada yang malu-malu, ada yang terlalu semangat sampai ketawa terpingkal-pingkal. Alhasil, sebelum materi dimulai, semua peserta sudah tampak akrab satu sama lain.
Materi pertama diisi oleh Pengamat OPT Akmilia tentang perlindungan hama pada tanaman kopi. Tapi jangan bayangkan suasananya kaku. Begitu peserta ditanya, “Siapa yang pernah menemukan hama penggerek buah kopi di kebun?”, langsung saja beberapa tangan terangkat cepat. Ada yang cerita panjang lebar sampai lupa kalau waktunya terbatas. Rupanya, petani muda ini tak hanya semangat bekerja di kebun, tapi juga jago bercerita.
Sesi makin menarik ketika peserta diajak turun langsung ke kebun kopi. Mereka diminta mengamati OPT dan musuh alami di lapangan. Ada yang sibuk mencatat, ada yang heboh menunjuk serangga kecil, bahkan ada yang berdebat ringan soal apakah serangga itu hama atau justru sahabat tanaman. Pemandangan ini membuat suasana belajar terasa hidup, seperti kuliah alam terbuka tapi dengan bonus oksigen segar dan aroma kopi.
Materi kedua dibawakan oleh Kepala Bidang Prasarana dan Penyuluhan Pertanian DKPP Kabupaten Purworejo, Arie Sulistyanie, STP, MP. Beliau memaparkan pengolahan pascapanen dan teknik brewing. Saat penyampaian materi cara menyeduh kopi, peserta makin antusias. Ada yang penasaran soal cara menggiling, ada yang sibuk mencium aroma kopi, bahkan ada yang berkomentar, “Wah, kalau tiap belajar ada kopi segar begini, kami siap sekolah lapang tiap minggu!” sontak membuat ruangan pecah dengan tawa.
Ketua Kelompok Tani Maju Jaya Makmur menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan ini. “Ilmunya luar biasa. Mulai dari melawan hama, sampai tahu cara menyeduh kopi dengan benar. Jadi setelah panen, kami tidak hanya jual, tapi juga bisa menikmati kopi sendiri dengan lebih nikmat,” ujarnya.
Lita, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Bener, tak bisa menahan tawa melihat semangat peserta. “Peserta ini masih muda-muda, semangatnya kayak kopi tubruk—nggak bisa diem, harus diaduk dulu baru tenang. Ada yang sibuk catat, ada yang sibuk tanya, ada juga yang sibuk… menggoda peserta lainnya,” ujarnya disambut tawa peserta.
Ia menambahkan, “Tapi justru itu yang bikin seru. Belajar kopi jadi nggak ngantuk, malah rasanya pengin tambah jam belajar. Kalau bisa tiap sekolah lapang ada kopi segar, wah, saya juga rela ikut duduk sampai malam,” candanya.
Dengan peserta yang relatif muda, aktif bertanya, mencatat serius, tapi tetap bisa tertawa lepas, sekolah lapang kali ini bukan hanya menambah pengetahuan, tapi juga energi baru bagi petani Desa Medono. Harapannya, kopi Bener, Purworejo, bisa semakin dikenal, bukan hanya karena bijinya, tapi juga karena semangat para petani mudanya yang kreatif dan penuh canda.






