Sekolah Lapang Agensi Hayati di Poktan Waluyo Desa Polomarto Kecamatan Butuh

By DINPPKP 22 Mei 2025, 09:26:01 WIB Penyuluhan
Sekolah Lapang Agensi Hayati di Poktan Waluyo Desa Polomarto Kecamatan Butuh

Sekolah Lapang Agensi Hayati di Poktan Waluyo Desa Polomarto Kecamatan Butuh

               Sebagai upaya untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan kemandirian petani dalam mengendalikan hama dan penyakit pada tanaman cabai serta mengenalkan Pestisida Hayati, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo mengadakan kegiatan Sekolah Lapang (SL) Agensia Hayati di Kelompok Tani Waluyo Desa Polomarto Kecamatan Butuh pada tanggal 19-20 Mei 2025.

               Jamur Trichoderma sp. telah lama dikenal sebagai agen antagonis yang mampu mengendalikan penyakit layu fusarium pada tanaman cabai. Penyakit layu fusarium merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman cabai. Penyakit ini disebabkan oleh  jamur Fusarium oxysporum f.sp. capsici. Penyakit ini dapat menginfeksi tanaman mulai dari pembibitan dan dapat menyebabkan gagal panen.

Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari dengan menghadirkan narasumber dari Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit (LPHP) Wilayah Kedu, Bp. Miftahudin dan POPT Kecamatan Butuh, Dedi Wahyudi. Pada hari pertama narasumber Miftahudin menyampaikan materi mengenai Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) Cabai dan pengendaliannya serta materi Perbanyakan Agensia Hayati Jamur Trichoderma untuk pengendalian penyakit layu fusarium pada tanaman cabai. Perbanyakan jamur Trichoderma sp yang dipraktekkan pada kegiatan ini menggunakan media jagung giling. Praktek perbanyakan  dilakukan dengan alat-alat yang tersedia di kelompok yaitu kompor, panci pengukus, penyaring dan nampan. Bahan-bahan yang diperlukan antara lain jagung giling, bibit jamur Trichoderma sp., lilin, alkohol, plastik tebal ukuran 0,3 dan air bersih.

               Jagung giling dicuci bersih kemudian dikukus selama 15 menit kemudian didinginkan. Setelah dingin dikemas dalam plastic sebanyak 4 sendok makan. Setelah itu dikukus kembali selama 1 jam 15 menit untuk proses sterilisasi. Selesai sterilisasi, jagung dalam kemasan ditunggu sampai dingin kemudian diinokulasi dengan bibit Jamur Trichoderma sp. Setelah diinokulasi, proses perbanyakan Jamur Trichoderma sp ditunggu selama ± 10 hari sampai jamur tumbuh pada media jagung. Setelah itu agens hayati Trichoderma sp dapat digunakan untuk pengendalian penyakit layu Fusarium pada tanaman cabai. Aplikasi jamur Tricoderma hasil perbanyakan dapat dilakukan dengan cara dikocorkan pada tanaman cabai atau dicampur dengan pupuk organik pada saat olah tanah.

 

 

                  

               


             Penulis :

Wagiyanti_POPTKec. Loano





Berita Purworejo

Counter Pengunjung