- Hari Terakhir Pelayanan Keswan di Bulan Suci Ramadhan INi
- Upaya Percepatan Penurunan Stunting di Wilayah Cangkrep Lor Kabupaten Purworejo
- Gerdal OPT Walangsangit di KT Semi Gintungan, Gebang
- Rakor Pemantapan Ketahana Pangan DKPP Bersama KADISHANPAN JATENG
- Meski Sedang Puasa, Pelayanan Keswan DKPP Tetap Berjalan
- Menjaga Keamanan Bahan Pangan Asal Hewan, DKPP Laksanakan Pengawasan
- KTNA Kecamatan Purworejo Perkuat Barisan: Susun Pengurus Baru dan Rencana Kerja Strategis 2026
- Antisipasi Kemarau Panjang, Krandegan Tambah Pompa Tenaga Surya 15 PK
- Dari Petak 2,5 Meter, Terbaca Potensi Panen Padi Petani Kedungpomahankulon
- Harga Bawang Merah Bikin Nangis? Tanam Sendiri di Pekarangan, Mengapa Tidak?
Respon Cepat dinas dalam menindaklanjuti laporan kejadian kematian unggas entog di desa Purwosari kecamatan Purwodadi
Respon
Cepat dinas dalam menindaklanjuti laporan kejadian kematian unggas entog di
desa Purwosari kecamatan Purwodadi
Tim
Kesehatan Hewan dan UPT Puskeswan Wilayah Kerja (wilker) Purwodadi melaksanakan
respon cepat wabah Avian Influenza pada hari Senin (23/12/2024) menindaklanjuti
laporan dari Kepala Desa Purwosari Kecamatan Purwodadi pada hari Sabtu, 21
Desember 2024 bahwa terdapat banyak ternak unggas enthog yang mati mendadak,
milik warga Desa Purwosari. Tim terdiri dari drh. Fauziah, drh. Sefril dan pak
Hasan. Bersama PPL kecamatan Purwodadi yang punya wibi desa Purwosari, Akhir
Santosa, tim menuju balai desa Purwosari. Dari balai desa dengan didampingi
bapak Mugiono kadus dusun Segeluh,
Dari kegiatan ini didapatkan data sebagai berikut, di Dusun Segeluh RW 1, terdapat 7 peternak unggas yang terdata, 2 peternak unggas diantaranya mengalami kerugian yang cukup besar dimana sekitar 160an ekor unggas miliknya mengalami mati mendadak dalam kurun waktu 1-3 hari. Total kematian unggas dengan didominasi enthog di dusun Segeluh mencapai hampir 400an ekor. Wabah kematian mendadak ini tidak hanya menyerang unggas di Dusun Segeluh tetapi huga menyerang dusun lainnya di Desa Purwosari diantaranya adalah Dusun Salam dan Dusun Purwogondo .

Berdasar gejala klinis yang ditemukan
yaitu mati mendadak dengan didahului nafsu makan turun drastis dan mata menjadi
berwarna biru keruh, disimpulkan bahwa unggas entog dan ayam terpapar Flu
Burung / Avian Influenza. Selain Kegiatan surveilans, Tim Keswan dan UPT Puskeswan
juga melakukan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) berupa pentingnya
vaksinasi pada unggas khususnya vaksinasi AI, Higiene sanitasi kandang juga
harus tertib dilakukan. Pemberian multivitamin di saat-saat wabah mulai merebak
atau di kala musim pancaroba / perubahan musim, juga perlu dilakukan. Tim juga
membagikan desinfektan dan multivitamin kepada para peternak unggas..
Flu
burung, atau dikenal sebagai avian influenza, adalah penyakit menular yang
disebabkan oleh virus influenza tipe A. Penyakit ini tidak hanya menyerang ayam
dan unggas lainnya tetapi juga dapat mempengaruhi itik atau entok. Penyakit ini
merupakan ancaman serius bagi peternakan unggas karena dapat menyebabkan
kematian massal serta kerugian ekonomi yang signifikan. Wabah penyakit Flu
Burung atau Avian Influenza (AI) ini dapat menimbulkan gejala klinis yang
terlihat pada itik/entok, seperti adanya selaput keruh putih kebiruan pada
mata, mati mendadak karena penyebaran penyakit yang cepat, leher terpuntir,
feses putih kehijauan, keluarnya eksudat kental di hidung, penurunan produksi
bertelur, nafsu makan menurun. Adapun penularan Virus Flu Burung ini masuk
lewat hidung itik/entok, bisa lewat kontak sesama ternak, lewat kotoran ternak
yang sakit, melalui kotoran atau tanah yang terbawa sandal atau baju peternak
yang mondar mandir di kandang.
Untuk
penanganan yang dapat dilakukan adalah memisahkan itik/entok yang sehat dengan
yang sakit (isolasi), pemberian vitamin A, C dan E atau jamu ternak unggas
untuk meningkatkan stamina serta melakukan penyemprotant ke alas kandang dan
kotoran itik/entok menggunakan cairan pemutih dan air (1 liter cairan pemutih +
9 liter air). Campuran ini aman dosisnya jika disemprotkan ke kandang yang ada
itik/entok karena mampu membunuh Virus Flu Burung yang berada di kotoran dan
bulu itik/entok yang sakit dalam waktu 3 menit sehingga tidak menular ke
itik/entok lainnya. Penyemprotan ini dilakukan sehari 1 kali selama 3 hari.
Virus
flu burung terdiri dari berbagai subtipe, yang paling mematikan di antaranya adalah
H5N1 dan H7N9. Virus ini mudah menyebar melalui kontak langsung dengan unggas
yang terinfeksi atau melalui lingkungan yang terkontaminasi, seperti air,
pakan, dan peralatan peternakan.
Pada
itik atau entok, gejala flu burung bisa bervariasi dari yang ringan hingga
berat. Gejala umum meliputi :
·
Penurunan Nafsu Makan: Itik
yang terinfeksi mungkin akan menunjukkan penurunan nafsu makan
·
Lesu dan Lemas: Unggas
terlihat kurang aktif dan sering beristirahat.
·
Pembengkakan pada Kepala dan Leher:
Pembengkakan bisa terlihat di sekitar mata, kepala, dan leher.
·
Penurunan Produksi Telur:
Pada itik petelur, flu burung dapat menyebabkan penurunan produksi telur yang drastic
·
Perubahan Warna pada Kaki
dan Paruh: Warna kaki dan paruh bisa berubah menjadi kebiruan atau hitam.
·
Kematian Mendadak: Pada
kasus yang parah, kematian bisa terjadi secara mendadak tanpa menunjukkan
gejala sebelumnya.
Pencegahan adalah langkah
yang sangat penting dalam mengendalikan penyebaran flu burung. Sedangkan untuk
pengobatan, tidak ada pengobatan spesifik untuk flu burung pada unggas.
Penanganan terutama berfokus pada pencegahan dan pengendalian penyebaran.
Unggas yang terinfeksi biasanya dimusnahkan untuk mencegah penularan lebih
lanjut. Oleh karena itu, tindakan pencegahan dan deteksi dini sangat penting. Flu
burung adalah ancaman serius bagi itik atau entok serta industri peternakan
unggas secara umum. Langkah-langkah pencegahan yang ketat, pengawasan yang
baik, dan respons cepat terhadap wabah sangat penting untuk mengendalikan
penyakit ini. Dengan meningkatkan kesadaran dan penerapan praktik biosekuriti
yang baik, risiko penyebaran flu burung dapat diminimalkan.
(cr : drh Fauziyah)






