- Sekolah Lapang Kelapa 2026 Poktan Tanjung Sari, Kel Lugosobo, Kec Gebang
- SL Kelapa Kecamatan Grabag Tahun 2026 Upaya Tingkatkan Kapasitas Petani Kelapa Purworejo
- SL Kelapa Kecamatan Bagelen Tahun 2026 untuk amankan Produksi Kelapa Tetap Maksimal
- Akselerasi Sertifikasi Organik, KEP KOPRAL Purworejo Perkuat Administrasi dan Standar Budidaya
- Sinergi PPL Purworejo dan KWT Nira Jaya: Tingkatkan Kesejahteraan Hingga Sosialisasi Nitrobacter
- Sinergi Air Membangun Harapan: Irigasi Perpompaan di Kelompok Tani Kyai Dukuh
- Pemeriksaan Kebuntingan di Kelompok Ternak Murakabi I
- SEKOLAH LAPANG (SL) KELAPA TAHUN 2026
- Kunjungan Study Komparatif Komisi B DPRD Kabupaten Cilacap
- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
Pohon Pucung: Penjaga Alam, Penyangga Pangan Lokal, dan Penopang Ekonomi di Desa Gowong

Pohon Pucung: Penjaga Alam, Penyangga Pangan Lokal, dan Penopang Ekonomi di Desa Gowong
______________
# Sutoyo : Penyuluh Pertanian, Pegiat Literasi dan Pemerhati Pertanian Berkelanjutan
# CybersquadX BPP Bruno
# Bruno Come Back on Fire
______________
Di tengah gempuran perubahan iklim, degradasi lahan, dan ancaman krisis pangan, ternyata masih banyak solusi yang tersembunyi di sekitar kita. Salah satunya datang dari pohon yang sering dipandang biasa saja, tetapi menyimpan peran luar biasa: pohon Pucung atau Pangium edule, yang lebih dikenal masyarakat sebagai penghasil Keluwek.
Di Desa Gowong, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, pohon Pucung masih tegak berdiri menjadi saksi bisu kearifan lokal dalam memanfaatkan sumber daya alam secara bijak dan berkelanjutan. Menurut pengakuan Muh Farttah, ketua Poktan Rukun Tani Desa Gowong yang memiliki pohon pucung produktif, satu pohon pucung miliknya mampu menghasilkan biji sebanyak 7 karung dalam kondisi sudah terfermentasi. Jika dihitung dengan harga konsumen yang mencapai Rp. 40 ribu per kilogram, potensi ekonomi satu pohon pucung tidak bisa dianggap remeh.
Pucung dalam Perspektif Konservasi Ekologi
Pohon Pucung merupakan pohon asli hutan tropis Indonesia yang kini mulai langka di beberapa daerah. Pucung tumbuh baik di kawasan rawa, sempadan sungai, dan lahan yang sering tergenang air. Perakarannya yang kuat mampu menahan erosi dan memperkuat struktur tanah, menjadikannya benteng alami melawan abrasi dan longsor.
Tajuk pohon Pucung yang lebat juga menjadi rumah bagi berbagai satwa liar seperti burung, kelelawar, dan serangga penyerbuk. Dengan kata lain, Pucung tidak hanya menyumbang oksigen, tetapi juga memperkuat keanekaragaman hayati.
Ditengah ancaman alih fungsi lahan dan perubahan iklim menanam dan melestarikan pohon Pucung berarti menjaga keseimbangan ekologi sekaligus melindungi sumber daya alam yang sudah terbukti mampu beradaptasi dalam kondisi ekstrem.
Pucung sebagai Penopang Ketahanan Pangan Lokal
Selain perannya dalam konservasi Pucung menyimpan potensi besar dalam ketahanan pangan berbasis lokal. Walaupun biji Pucung mengandung racun alami (asam sianida), masyarakat Desa Gowong mewarisi pengetahuan turun-temurun untuk mengolahnya melalui proses fermentasi, pencucian, dan perendaman, sehingga menjadi aman dikonsumsi.
Biji Pucung yang sudah diolah menjadi Keluwek menjadi bahan utama kuliner khas Indonesia seperti Rawon, Gabus Pucung, dan Brongkos, yang menjadi bagian dari identitas budaya Nusantara. Keberadaan keluwek menjaga keberlanjutan pangan berbasis lokal yang tidak tergantung pada komoditas impor seperti gandum.
Dalam perspektif ketahanan pangan berkelanjutan, Keluwek menjadi simbol bagaimana sumber pangan lokal yang terabaikan bisa diangkat kembali menjadi bagian dari solusi menghadapi ancaman krisis pangan global.
Potensi Ekonomi Pohon Pucung: Dari Lahan ke Pasar
Tidak hanya sekadar pohon hutan yang terlupakan Pucung ternyata memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan. Berdasarkan pengalaman Muh Farttah, hasil biji dari satu pohon pucung bisa mendatangkan pendapatan jutaan rupiah, jika dijual dalam bentuk Keluwek yang sudah terfermentasi.
Dengan harga mencapai Rp. 40 ribu per kilogram, pucung menjadi tanaman konservasi yang sekaligus menghasilkan pendapatan tambahan tanpa harus menebang atau merusak hutan.
Menatap Masa Depan: Konservasi Berbasis Kearifan Lokal
Ditengah upaya nasional untuk memperkuat
ketahanan pangan dan ketahanan ekologi, pohon Pucung bisa menjadi bagian dari solusi yang terintegrasi. Melestarikan pohon Pucung di Desa Gowong bukan hanya soal menjaga pohon tua tetapi juga memelihara pengetahuan lokal, meningkatkan kesejahteraan petani, sekaligus memperkuat cadangan pangan alternatif yang berbasis sumber daya lokal.
Oleh karena itu upaya konservasi pohon Pucung seharusnya menjadi bagian dari program strategis, baik melalui skema agroforestri, hutan desa, maupun program ketahanan pangan desa. Langkah kecil di Desa Gowong bisa menjadi inspirasi nasional bahwa solusi ketahanan pangan masa depan bisa dimulai dari halaman rumah kita sendiri—dengan pohon Pucung sebagai penjaga alam sekaligus penjaga dapur.



.png)


