- Audit BPK Turun ke Lapangan, DKPP Purworejo Tunjukkan Transparansi Program Hibah
- Pelatihan Kader Zoonosis, Upayakan Prinsip One Health
- Evaluasi MT I Jadi Dasar, Kemiri Siap Genjot Tanam 2026
- HARGA BERAS DI PENGGILINGAN PADI PURWOREJO DEKATI HET, PASOKAN TERPANTAU STABIL
- Pembukaan Sekolah Lapang (SL) Kelapa Kelompok Tani Berkah Tani Milenial Desa Girigondo
- Penguatan Silaturahmi dan Sinergi Petani melalui Pertemuan KTNA dan Halal Bihalal Kecamatan Bener Tahun 2026 dalam Mendukung Pembangunan Pertanian Berkelanjutan
- Sekolah Lapang Kelapa 2026 Poktan Tanjung Sari, Kel Lugosobo, Kec Gebang
- SL Kelapa Kecamatan Grabag Tahun 2026 Upaya Tingkatkan Kapasitas Petani Kelapa Purworejo
- SL Kelapa Kecamatan Bagelen Tahun 2026 untuk amankan Produksi Kelapa Tetap Maksimal
- Akselerasi Sertifikasi Organik, KEP KOPRAL Purworejo Perkuat Administrasi dan Standar Budidaya
PETANI REJOSARI KEMIRI KEMBANGKAN JADAM SULFUR, HAMA BERKURANG, TANAMAN SEHAT

PETANI DESA REJOSARI KEMIRI
KEMBANGKAN JADAM SULFUR,
HAMA BERKURANG, TANAMAN SEHAT
KEMIRI KEREN NEWS –– Petani di Desa
Rejosari mulai menerapkan inovasi pertanian organik dengan memproduksi Jadam
Sulfur (JS) secara mandiri. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi biaya
produksi sekaligus mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia yang harganya
semakin mahal.
Berlokasi di
Sekretariat Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Sido Rejo
Desa Rejosari yang digawangi oleh Bapak Waluyo Sutopo pada Senin, 17 Februari
2025 (17/02/2025) telah memberikan pelatihan kepada petani agar bisa
memproduksi Jadam Sulfur sendiri.
Menurut Waluyo,
Jadam adalah singkatan dari Jayoen-eul Dalm-eun Saram-dul yang berasal
dari bahasa Korea. Maknanya kurang lebih yakni orang-orang yang menyerupai alam
atau kembali ke alam.
"Jadam
Sulfur adalah solusi yang murah, mudah dibuat, dan sangat efektif dalam
mengendalikan penyakit tanaman, terutama yang disebabkan oleh jamur seperti
embun tepung dan busuk daun," ujar Waluyo.
Menurutnya, banyak
petani masih bergantung pada pestisida kimia yang harganya mahal dan berisiko
bagi lingkungan. Dengan adanya Jadam Sulfur ini, petani bisa mengurangi biaya
produksi hingga 70% serta menghindari dampak negatif bahan kimia sintetis.
"Kami di P4S
terus mendorong pelatihan bagi petani agar mereka bisa membuat JADAM Sulfur
sendiri. Dengan begitu, mereka lebih mandiri dalam mengelola pertanian tanpa
harus bergantung pada produk komersial yang mahal," tambahnya.
Waluyo juga
menekankan bahwa Jadam Sulfur aman digunakan, tidak merusak tanah, serta tidak
menyebabkan korosi pada peralatan pertanian. Jadam Sulfur sangat bermanfaat
untuk mengendalikan hama dan penyakit pada tanaman, meggantikan fungsi dari
insektisida, fungisida, dan herbisida sehingga menjadi pilihan yang ideal bagi
petani yang ingin beralih ke metode pertanian ramah lingkungan.
Dalam paparanya,
beliau menyampaikan bahwa Jadam Sulfur dapat dibuat sendiri di rumah dan
caranya sangat mudah sekali dengan bahan-bahan yang mudah didapatkan di toko
online/ marketplace. Untuk membuat 5 liter Jadam Sulfur bahan yang perlu
disiapkan diantaranya bubuk belerang 99 % sebanyak 1,25 kg, soda api 1 kg, 125
gram garam krosok/ kasar, air hujan/ air AC 4,1 liter. Dalam membuat Jadam Sulfur
ini sebaiknya dlakukan diluar rumah dan gunakan alat pelindung diri seperti
sarung tangan karet, kacamata, dan masker.
Cara membuat jadam
sulfur
1.
Siapkan ember/ wadah berukuran lebih dari 5 liter dan alat
pengaduk bisa menggurakan kayu atau ranting.
2.
Masukkan bubuk belerang yang sudah disiapkan sebanyak 1,25 kg
kedalam wadah.
3.
Tuang soda api sebanyak 1 kg kedalam wadah dengan hati-hati,
jangan sampai terkena kulit dan terhirup debunya
4.
Tambahkan 125 gr garam krosok kedalam wadah
5.
Tuang 2,5 liter air hujan dengan hati-hati
6.
Aduk semua bahan hingga larut selama 15 menit sampai suhunya mulai
turun
7.
Setelah suhunya mulai turun tambahkan air hujan sebanyak 1,5 liter
kemudian aduk hingga merata
8.
Setelah semua merata tutup wadah dan diamkan selama kurang lebih 1
jam atau sampai larutannya dingin
9.
Jadam sulfur sudah bisa digunakan
“Dosis yang digunakan
pada jadam sulfur yaitu 2 ml untuk 1 liter air, pengaplikasikan dilakukan
dengan cara di spray/ disemprot. Aplikasikan pada bagian tanaman yang terserang
hama dan penyakit saat pagi atau sore hari,” pungkasnya.
Kepala Desa Rejosari,
Bapak Tukiran yang hadir secara langsung, menegaskan bahwa P4S Sido Rejo Desa
Rejosari sudah mengimplementasikan teknologi pembutana Jadam Sulfur ini guna membantu
petani lokal memproduksi pestisida alami dengan biaya rendah dan bahan yang
mudah didapatkan. Langkah ini sejalan dengan upaya meningkatkan kemandirian
petani dan keberlanjutan pertanian organik di Desa Rejosari.
"Kami terus
melakukan pendampingan agar petani bisa membuat dan menggunakan Jadam Sulfur
dengan benar. Dengan cara ini, kami bisa mengurangi ketergantungan pada bahan
kimia dan menjaga keseimbangan ekosistem pertanian," jelasnya.
Tampak hadir dalam
acara tersebut, Koordinator BPP Kecamatan Kemiri, Umul Khasunah, SP., MAP,
Penyuluh Pendamping Sasmitha Wening, Babinsa, Babinkamtibmas Desa Rejosari dan
segenap anggota P4S.
"Dengan
Jadam Sulfur, kami bisa mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia yang
mahal. Biayanya jauh lebih murah dan efeknya sangat baik bagi tanaman,"
ujar Sofyan, salah satu petani yang telah mencoba metode ini.
Menurut Supriyadi,
seorang petani setempat, penggunaan Jadam Sulfur telah membantu meningkatkan
produktivitas tanaman tanpa perlu menggunakan pestisida kimia. "Setelah
menggunakan Jadam Sulfur, saya melihat tanaman lebih sehat dan serangan hama
berkurang. Selain itu, biaya produksi juga lebih hemat karena bahan-bahannya
mudah didapat," ujarnya.
Meski memiliki
banyak manfaat, pembuatan Jadam Sulfur memerlukan kehati-hatian karena
melibatkan bahan kimia yang bisa berbahaya jika tidak ditangani dengan benar.
Oleh karena itu, petani juga diberikan edukasi tentang cara pembuatan yang aman
serta dosis yang tepat dalam penggunaannya. Dengan semakin banyaknya petani
yang tertarik menggunakan Jadam Sulfur, diharapkan praktik ini bisa menjadi
langkah maju dalam mendukung pertanian berkelanjutan di Desa Rejosari. ––






