- Kunjungan Study Komparatif Komisi B DPRD Kabupaten Cilacap
- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
Petani Milenial dan Tantangan Budidaya Nilam: Sebuah Potret Desa Tangguh (Feature Storytelling)

Petani Milenial dan Tantangan Budidaya Nilam: Sebuah Potret Desa Tangguh (Feature Storytelling)
_____________
# Sutoyo : Penyuluh Pertanian, Pegiat Literasi dan Pemerhati Pemberdayaan Petani
# CybersquadX BPP Bruno
# Bruno Gasspooll on Fire
______________
Peniron, Plipiran – Kecamatan Bruno, 22 April 2025._Di tengah hamparan kebun yang dikelilingi pohon kelapa dan tanaman hijau lainnya, Edy Nuryanto berdiri tegar menatap barisan tanaman nilam yang tumbuh tak seragam. Beberapa tanamannya layu dan sebagian lainnya tampak segar. Pemuda dari Dusun Peniron, Desa Plipiran ini bukan sekadar petani biasa. Ia adalah bagian dari gelombang baru yang disebut "petani milenial" — generasi muda yang memilih mengolah tanah sebagai panggilan dan perjuangan bukan karena keterpaksaan.
Edy tergiur budidaya nilam karena melihat prospek ekonominya. Harga pasar yang mencapai Rp15.000 per kilogram basah menjadi daya tarik besar. Namun dunia pertanian tak pernah menjanjikan jalan yang mulus. Musim hujan yang datang justru membawa dua tantangan besar: penyakit jamur dan kaki gajah yang hampir merontokkan harapannya. Dari sekitar 4.000 batang nilam yang ditanam sekitar 50% mati perlahan akibat serangan tersebut.
Namun Edy tidak menyerah begitu saja. Dengan semangat yang gigih ia mulai menyulam tanaman yang mati sambil terus membuka ruang konsultasi dengan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). Ia mengajak PPL untuk melihat langsung ke kebun, berdiskusi, mencari solusi bersama — membuktikan bahwa pertanian masa kini bukan hanya soal cangkul dan pupuk, tapi juga soal kolaborasi, inovasi, dan keberanian untuk belajar dari kegagalan.
Nilam memang bukan tanaman pangan pokok seperti halnya padi atau jagung. Namun peranannya tidak kalah penting dalam konteks ketahanan pangan yang lebih luas. Tanaman ini menghasilkan minyak atsiri yang menjadi bahan baku parfum, kosmetik, bahkan aromaterapi yang menopang sektor ekonomi kreatif dan kesehatan.
Diera ketika diversifikasi pertanian menjadi kebutuhan strategis, upaya Edy membuka harapan baru bahwa ketahanan pangan tidak melulu soal makan, tetapi juga tentang nilai tambah dari pertanian berkelanjutan.
Generasi muda seperti Edy adalah sosok yang masih langka — memilih bertani disaat banyak teman sebayanya memilih ke kota. Namun justru dari pelosoj desa seperti dusun Peniron, muncul benih-benih harapan baru. Mereka membawa semangat kerja keras, keterbukaan pada teknologi, dan keinginan kuat untuk membuktikan bahwa bertani bisa menjadi pilihan hidup yang menjanjikan.
Dengan pendampingan yang tepat, seperti kehadiran aktif PPL di lapangan, para petani milenial bisa menjadi ujung tombak ketahanan pangan yang tangguh dan adaptif terhadap perubahan iklim serta dinamika pasar global.
Edy Nuryanto dan ribuan pemuda desa yang lain adalah potret masa depan pertanian Indonesia. Perjuangan mereka menumbuhkan nilam bukan sekadar menanam tanaman, tetapi juga menumbuhkan harapan, ilmu, dan ketangguhan. Jika negara memberi ruang dan dukungan, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjemput masa depan pangan yang tak hanya cukup, tapi juga bermutu dan berdaya saing tinggi.






