- Gerakan Pengendalian Menggunakan Agen Hayati Ramah Lingkungan di Desa Kerep Kemiri
- RUMAH PANGAN KITA DKPP PURWOREJO SENANTIASA HADIR MENEMANI SETIAP JUM’AT PAGI
- PEMANTAUAN DISTRIBUTOR BAPOKTING OLEH PENGAWAS HARGA PANGAN DI KABUPATEN PURWOREJO
- Refilling Nitrogen Cair Guna Sukseskan Inseminasi Buatan Ternak
- Menyulam Ilmu di Hamparan Tembakau
- Gerakan Pengendalian Tikus Serempak di Lima Kecamatan Kabupaten Purworejo
- BPP Purworejo Gelar Gerdal Tikus Susulan di Cangkreplor, Amankan Produksi Padi MT II
- Jamin Daging Kurban Aman, Tim DKPP Purworejo Sisir Belasan Kecamatan
- Prosesi Penyembelihan Sapi Kurban Bantuan Presiden Republik Indonesia ????✨
- PENYERAHAN BANTUAN PANGAN SECARA SIMBOLIS OLEH WAKIL BUPATI PURWOREJO DI DESA TEGALSARI
PETANI KEMIRIKIDUL MELEK AGENSIA HAYATI LEWAT SEKOLAH LAPANG

PETANI KEMIRIKIDUL MELEK AGENSIA HAYATI LEWAT
SEKOLAH LAPANG
KEMIRI
KEREN NEWS –– Kesadaran petani terhadap pentingnya pertanian ramah
lingkungan semakin meningkat, terbukti dari antusiasme mereka dalam mengikuti
kegiatan Sekolah Lapang Agensia Hayati Tahun 2025 yang digelar di Desa
Kemirikidul. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinas Ketahanan Pangan dan
Pertanian Kabupaten Purworejo bekerja sama dengan Laboratorium PHP Wilayah
Kedu, dengan tujuan memberikan edukasi praktis kepada petani terkait penggunaan
agensia hayati dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman.
Sekolah lapang ini diikuti oleh puluhan petani
dari berbagai kelompok tani di Kemirikidul. Materi yang diberikan mencakup
pengenalan jenis-jenis agensia hayati seperti Trichoderma, Beauveria
bassiana, dan PGPR, serta teknik pembuatan dan aplikasinya secara langsung
di lahan.
“Sebelumnya kami hanya mengandalkan pestisida
kimia. Tapi melalui SL ini, kami jadi tahu cara membuat dan menggunakan agensia
hayati yang lebih ramah lingkungan dan hemat biaya,” ujar Bapak Paryanto, salah
satu petani peserta dalam keterangannya, Rabu (23/04/2025).
Dalam sesi praktek, peserta diajak melihat
langsung proses fermentasi agensia hayati, sekaligus mencoba pengaplikasiannya
di lahan demonstrasi. Kegiatan ini tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga
memberi kepercayaan diri bagi petani untuk mulai menerapkannya secara mandiri
di lahan masing-masing.
Menurut Hadi Sadsila, SP.MM., Kepala Dinas
Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo yang turut hadir, menyampaikan
bahwa kegiatan sekolah lapang ini merupakan langkah strategis dalam mendorong
petani memahami pentingnya pengendalian hayati.
“Banyak petani yang sebelumnya belum tahu apa
itu agensia hayati. Setelah mengikuti sekolah lapang, diharapkan mereka tidak
hanya tahu tapi juga bisa membuat dan mengaplikasikannya sendiri. Ini kemajuan
yang luar biasa,” ungkapnya.
Beliau juga berharap, peserta bisa menjadi pelopor di masing-masing kelompok
tani. Transfer ilmu itu penting, karena pertanian masa kini perlu pendekatan
yang lebih bijak terhadap lingkungan.
Sementara itu, Taufik Saleh, narasumber dari
Laboratorium PHP Wilayah Kedu, menambahkan bahwa penggunaan agensia hayati
tidak hanya menjaga tanaman dari serangan hama, tapi juga meningkatkan kualitas
tanah dalam jangka panjang.
“Agensia hayati itu seperti ‘teman baik’ bagi
tanaman. Ia membantu menjaga tanaman tetap sehat tanpa merusak lingkungan.
Petani di Kemirikidul sangat responsif dan cepat belajar,” jelasnya.
Selain cara pengendalian hayati, peserta juga diajak
untuk mengenal hama dan penyakit sekaligus musuh alami yang ada di lingkungan
sawah.
“Kalau petani paham
dan rutin memakai agensia hayati, mereka tak hanya menghemat biaya produksi,
tapi juga ikut menjaga keberlanjutan ekosistem pertanian. Ini investasi jangka
panjang yang hasilnya bisa dirasakan sampai generasi berikutnya,” tambahnya.
Kepala Desa Kemirikidul, yang diwakili oleh
Bapak Heri Purnomo, menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan ini. “Kami
sangat mendukung kegiatan sekolah lapang seperti ini karena sangat bermanfaat
bagi masyarakat. Harapannya, ke depan petani bisa lebih mandiri dan tidak
tergantung pada bahan kimia,” ujarnya dalam sambutan pembukaan acara.
Dengan adanya Sekolah Lapang Agensia Hayati
ini, diharapkan terjadi perubahan pola pikir petani ke arah pertanian
berkelanjutan yang sehat, produktif, dan peduli lingkungan. Peserta juga
berharap kegiatan semacam ini terus dilanjutkan secara rutin sebagai wadah
belajar bersama. Semoga.––






