- Gerakan Pengendalian Menggunakan Agen Hayati Ramah Lingkungan di Desa Kerep Kemiri
- RUMAH PANGAN KITA DKPP PURWOREJO SENANTIASA HADIR MENEMANI SETIAP JUM’AT PAGI
- PEMANTAUAN DISTRIBUTOR BAPOKTING OLEH PENGAWAS HARGA PANGAN DI KABUPATEN PURWOREJO
- Refilling Nitrogen Cair Guna Sukseskan Inseminasi Buatan Ternak
- Menyulam Ilmu di Hamparan Tembakau
- Gerakan Pengendalian Tikus Serempak di Lima Kecamatan Kabupaten Purworejo
- BPP Purworejo Gelar Gerdal Tikus Susulan di Cangkreplor, Amankan Produksi Padi MT II
- Jamin Daging Kurban Aman, Tim DKPP Purworejo Sisir Belasan Kecamatan
- Prosesi Penyembelihan Sapi Kurban Bantuan Presiden Republik Indonesia ????✨
- PENYERAHAN BANTUAN PANGAN SECARA SIMBOLIS OLEH WAKIL BUPATI PURWOREJO DI DESA TEGALSARI
*Pertemuan Rutin KWT Kledung 8 Bahas Pentingnya Biopori untuk Pekarangan Produktif*

*Pertemuan Rutin KWT Kledung 8 Bahas Pentingnya Biopori untuk Pekarangan Produktif*
______________
# Sutoyo : Penyuluh Pertanian, Pegiat Literasi dan Pemerhati Pemberdayaan Petani
# _CybersquadX_ BPP Bruno
# Bruno _Come Back on Fire_
______________
*Brunosari, 20 Mei 2025* — Kelompok Wanita Tani (KWT) *Kledung Barokah* Desa Brunosari, Kecamatan Bruno menggelar pertemuan rutin yang berlangsung hangat dan penuh semangat pada Senin (20/5). Acara yang diikuti oleh para anggota KWT ini menghadirkan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) pendamping, *Musti Widyaningrum, A.Md.*, yang menyampaikan materi tentang *biopori* sebagai teknologi sederhana namun berdampak besar bagi pertanian dan lingkungan.
Dalam paparannya, Musti menekankan bahwa *lubang resapan biopori* sangat efektif dalam mengelola limbah organik rumah tangga, meningkatkan daya serap air hujan, serta menghasilkan kompos yang dapat digunakan untuk menyuburkan tanaman pekarangan. “Dengan membuat biopori di sekitar rumah, kita bisa membantu mencegah banjir, mengurangi sampah dapur, dan sekaligus menyediakan pupuk alami untuk tanaman,” jelas Musti.
Para peserta terlihat antusias mengikuti penyuluhan. Mereka membaca lembar informasi yang dibagikan, berdiskusi aktif, serta menikmati suguhan sederhana khas pertemuan desa seperti kacang rebus, keripik, dan teh hangat.
Menurut Ketua KWT Wulandari , "Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat. Kami jadi tahu cara memanfaatkan limbah dapur untuk pupuk, tanpa harus repot atau mahal. Ini sangat cocok untuk ibu-ibu di desa,” ujarnya.
Pertemuan ini ditutup dengan kesepakatan bahwa pada agenda pertemuan bulan berikutnya, akan diadakan *praktek langsung pembuatan biopori* di pekarangan rumah salah satu anggota.
Dengan semangat gotong royong dan kemauan belajar, KWT Kledung Barokah terus melangkah menjadi garda terdepan dalam menggerakkan ketahanan pangan keluarga berbasis pekarangan.
_____________






