- Banter Melaju Disosialisasikan di Kemejing, Warga Antusias Sambut Peluang Ternak Kambing Jawa Randu
- Tindaklanjut Pengaduan Warga Mengenai Peternakan Ayam
- Gapoktan Desa Pakisarum Gelar Sosialisasi eRDKK 2027, Pastikan Petani Akses Pupuk Subsidi
- Ubinan Padi Varietas Inpari 32 di Desa Gowong Tunjukkan Produktivitas Menjanjikan
- Jalan Usaha Tani (JUT) DKPP Tahun Anggaran 2026
- DKPP Lakukan Pengujian Sampel PSAT Pasca Idul Fitri 1447 H
- Refilling Nitrogen Cair untuk Mendukung Kegiatan Inseminasi Buatan Ternak
- Seleksi Hibah Ternak 2027 Dimulai, DKPP Purworejo Verifikasi Proposal dari 14 Kecamatan
- PEMKAB PURWOREJO DAN PERUM BULOG SIAP SALURKAN BANTUAN PANGAN BERAS DAN MINYAK GORENG ALOKASI FEBRUARI-MARET 2026
- Pemantauan Harga Bahan Pokok Penting Pasca HBKN Idul Fitri 1447H
Peran Strategis PPL dalam Gerakan RABU PON

Peran Strategis PPL dalam Gerakan RABU PON
Menyulam Semangat PKK dan KWT Jadi Kekuatan Desa
Oleh : Sutoyo
____________
Watuduwur, Bruno, 6 Agustus 2025 – Di tengah barisan ibu-ibu desa yang antusias memamerkan hasil olahan dan menanam pohon dalam gerakan RABU PON, ada sosok-sosok pendamping yang mungkin tak banyak tersorot oleh kamera, namun perannya tak bisa diabaikan: Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). Mereka adalah penyambung jiwa antara PKK dan KWT, dua wadah perempuan desa yang meski beda seragam namun sejatinya adalah satu jiwa dan satu raga dalam perjuangan membangun desa.
RABU PON adalah program unggulan TP PKK Provinsi Jawa Tengah yang digagas oleh Hj. Nawal Arafah Yasin, Ketua TP PKK sekaligus istri Wakil Gubernur Jateng. Gerakan ini dilahirkan dari kegelisahan terhadap kemiskinan, stunting, dan kerawanan pangan. Solusinya: menanam pohon sebagai simbol penghijauan dan kemandirian pangan, dan memberdayakan perempuan desa sebagai penggeraknya.
Di Kabupaten Purworejo, Desa Watuduwur—yang masuk dalam kategori desa miskin ekstrem—dipilih sebagai lokasi kegiatan. Disinilah PPL turun tangan tak sekadar sebagai fasilitator tetapi sebagai penyulam semangat antara PKK dan KWT, antara program formal dan realitas desa.
Bagi masyarakat desa, PPL bukan hanya pendamping teknis, tetapi juga kawan diskusi, jembatan komunikasi dengan dinas, hingga penggerak partisipasi ibu-ibu. Dalam gerakan RABU PON ini jelas peran PPL sangatlah strategis:
- Menjembatani KWT dengan TP PKK baik tingkat kabupaten maupun provinsi.
- Mendata dan memfasilitasi penerima bantuan bibit, ayam petelur, dan sembako.
- Menumbuhkan semangat mandiri, bukan sekadar menerima bantuan, tetapi melahirkan kemandirian pangan dan ekonomi keluarga.
Kehadiran PPL menjadikan KWT bukan hanya bagian dari gerakan PKK, tetapi merupakan bagian dari sistem ketahanan pangan nasional. Sebab PKK dan KWT bukan dua entitas yang berbeda, melainkan satu ruh perjuangan dalam dua “baju” yang berbeda.
PKK dan KWT: Satu Jiwa, Satu Raga, Beda Seragam
Salah satu filosofi yang terwujud dalam program ini adalah kesatuan gerak antara PKK dan KWT. Keduanya digerakkan oleh perempuan desa, bertujuan membangun keluarga tangguh, dan kini bersinergi dalam gerakan menanam, mengolah, dan berbagi.
PKK adalah rumah gerakan sosialnya, sementara KWT adalah ladang kerja nyatanya. Diantara keduanya, PPL hadir sebagai pengikat dan penggerak lapangan.
Seperti diungkapkan oleh Martina Dewi Kusumawardani, SP, Pendamping KWT Arum Sari, “Tanpa pendampingan PPL, produk KWT sulit berkembang. Kami mendampingi dari mulai proses hingga pemasaran. RABU PON memberi kami ruang untuk menunjukkan karya, dan KWT adalah penguat semangat kami.”
Momen paling membanggakan adalah ketika Ketua TP PKK Jateng mengunjungi dan memborong produk di semua stand KWT, tanpa ada satu pun yang terlewat. Bagi KWT, itu adalah panen rezeki. Bagi PPL, itu adalah panen semangat—buah dari pendampingan yang panjang.
Sebagai bagian dari sistem pertanian dan pemberdayaan masyarakat desa, PPL merasa bangga bukan karena disebut, tapi karena peran mereka terasa. Produk yang diborong bukan hanya hasil tani, tetapi juga hasil sinergi antara semangat ibu-ibu, program PKK, dan kerja senyap para penyuluh.
Gerakan ini bukan hanya tentang menanam pohon, lebih dari itu adalah gerakan menanam rasa percaya diri, menanam kepercayaan pada perempuan desa, dan menanam ketahanan dari akar rumput. PPL berperan penting dan strategis dalam memastikan bahwa bantuan bukan sekadar diterima, tapi dilanjutkan dengan pendampingan dan kemandirian.
Pembagian bibit kelapa genjah entog, ayam petelur, hingga bantuan sembako dan susu UHT untuk anak PAUD adalah rantai awal pemberdayaan. PPL adalah penjaga agar rantai ini tidak putus diseremoni saja, tetapi dapat berlanjut di lingkungan pekarangan dan dapur setiap rumah tangga.
Program RABU PON adalah panggung kolaborasi. Dibalik gemerlap stand KWT dan kunjungan Ibu Ketua TP PKK, ada tangan-tangan sunyi PPL yang menenun semua menjadi nyata. PKK dan KWT memang berbeda wadah, tetapi satu dalam tujuan: membangun desa dari tangan ibu-ibu.
“Kami tidak berdiri di depan, tidak disebut dalam sambutan, tetapi kami bangga ketika ibu-ibu bisa berdiri tegak dan bangga atas karya-karyanya,” ujar Duwi Hartoto, S.ST,, Koordinator PPL Kecamatan Bruno.






