- Kunjungan Study Komparatif Komisi B DPRD Kabupaten Cilacap
- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
Penyuluh di Tengah Gejolak Harga Gabah: Pemadam Krisis atau Agen Transformasi?
Penyuluh di Tengah Gejolak Harga Gabah: Pemadam Krisis atau Agen Transformasi?
Oleh: Sutoyo
_______________
Harga gabah meroket..!!! Di beberapa daerah angkanya tembus Rp 7.500/kg, bahkan lebih. Para petani bersorak gembira, sebaliknya pengusaha penggilingan menjerit histeris. Sebagian besar pabrik kecil menghentikan produksi karena harga gabah tak sebanding dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras yang ditetapkan pemerintah. Akhirnya distribusi tersendat, pasar bergejolak, dan ketahanan pangan menjadi isu besar. Ditengah situasi seperti ini penyuluh pertanian lapngan sering hanya tampil sebagai saksi bisu. Tapi benarkah mereka tidak bisa berbuat apa-apa?
Justru sebaliknya. Dalam pusaran krisis ini, penyuluh lapangan seharusnya tampil sebagai navigator yang menjembatani petani, pasar, dan kebijakan. Namun hal ini hanya bisa terjadi jika peran penyuluh tidak terbebani sebagai pelapor administratif atau pengisi form.
Lonjakan harga gabah bukan terjadi dalam semalam. Ada pola yang bisa dibaca sejak awal: musim tanam bergeser, input produksi naik, stok Bulog menipis, dan rantai distribusi terganggu. Penyuluh yang rutin hadir di lapangan bisa menjadi "detektor dini" dari anomali pasar ini. Laporan harga mingguan di tingkat petani, yang disampaikan ke dinas atau pusat, bisa menjadi alat prediksi dan antisipasi kebijakan.
Namun, apakah saat ini penyuluh diberi ruang untuk itu? Atau justru tenggelam dalam rutinitas administratif?
Ketika penggilingan menolak membeli gabah karena takut rugi dan petani tidak punya tempat menjual hasil panen maka penyuluh bisa tampil menjadi mediator. Misalnya memfasilitasi kontrak fleksibel antara kelompok tani dan pengusaha penggilingan, dimana pembayaran bisa ditunda sebagian saat harga sudah kembali stabil.
Penyuluh juga dapat menghubungkan pelaku usaha kecil dengan skema KUR (Kredit Usaha Rakyat) atau program subsidi lainnya agar mereka tetap bisa menyerap gabah diharga tinggi. Dalam kondisi krisis, fleksibilitas dan mediasi menjadi lebih penting daripada hanya menyuluh varietas unggul.
Tidak semua petani memahami bahwa harga tinggi hari ini bisa jadi jebakan ke depan. Ada yang menjual semua panennya tanpa menyisakan untuk konsumsi sendiri. Ada pula yang tergoda menanam padi terus-menerus, meski tanahnya mulai kelelahan.
Disinilah penyuluh berperan menyampaikan edukasi pasar. Bukan sekadar harga hari ini tetapi bagaimana menghitung break even point, risiko jangka panjang, dan pentingnya diversifikasi usaha tani. Sayangnya, kegiatan ini jarang masuk indikator kinerja.
Ketika pasar formal tersumbat karena aturan harga, petani bisa didorong menyasar saluran alternatif. Penyuluh bisa membantu menghubungkan petani dengan koperasi, warung pangan, toko online, atau komunitas urban farming. Bahkan di beberapa daerah sudah ada model beras langganan antar desa dan kota.
Jika memungkinkan, penyuluh juga bisa memfasilitasi pelatihan pengolahan hasil panen: membuat beras merah, beras organik, hingga produk olahan seperti tepung atau makanan ringan berbasis padi. Bukan hanya menjual gabah mentah, tapi menambah nilai di hilir.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kebijakan HET dan HPP kadang tidak fleksibel menghadapi dinamika pasar. Disinilah peran penyuluh bukan hanya teknis, tapi juga strategis. Mereka bisa menyuarakan aspirasi petani dan pelaku usaha kecil lewat forum-forum musyawarah di kecamatan hingga kabupaten.
Penyuluh bisa menyusun laporan yang bukan hanya berisi jumlah pelatihan, tetapi juga analisis kondisi riil: margin keuntungan petani, kerentanan penggilingan, serta rekomendasi kebijakan. Jika disampaikan dengan data dan argumen, suara penyuluh bisa jadi amunisi penting bagi penentu arah kebijakan pangan.
Saat krisis harga gabah terjadi, pertanyaannya bukan hanya: “Siapa yang diuntungkan atau dirugikan?” Tapi juga: “Siapa yang bergerak?” Petani bergerak, pengusaha bereaksi, pemerintah merancang ulang strategi. Lalu penyuluh?
Penyuluh pertanian lapangan bukan sekadar “petugas form isian” atau “penyampai pesan program”. Jika diberi ruang, mereka bisa menjadi penggerak perubahan: mendeteksi krisis lebih awal, memediasi rantai pasok, menyuluh literasi pasar, dan mengadvokasi kebijakan.
Dengan peran yang kuat dan fleksibel, penyuluh bisa menjawab tantangan zaman: bukan hanya mengurus tanam-panen, tapi ikut menjaga keberlanjutan sistem pangan nasional.






