Penjaga Ketahanan Pangan di Pinggiran Hutan yang Terlupakan

By DINPPKP 20 Mar 2025, 08:04:38 WIB Penyuluhan
Penjaga Ketahanan Pangan di Pinggiran Hutan yang Terlupakan

Penjaga Ketahanan Pangan di Pinggiran Hutan yang Terlupakan 

_____________

# Storytelling

_____________

Kambangan, Bruno, 18 Maret 2025 – Ditengah riuh angin yang mengalun di sela tegakan pohon pinus di Desa Kambangan, seorang pria paruh baya tampak sibuk mencatat sesuatu di buku lusuhnya. Namanya Suyitno, seorang Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Tenaga Harian Lepas – Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL-TBPP) yang telah mengabdikan 16 tahun hidupnya mendampingi para petani di wilayah pegunungan dengan ketinggian 1.047,7  mdpl. 

 

Dengan  motor tuanya  yang  tetap setia menemani  Suyitno bukanlah sosok yang gemerlap di panggung birokrasi. Namun di mata para petani desa Kambangan ia adalah cahaya yang menuntun mereka memahami teknik bertani yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomi tinggi. "Saya hanya ingin petani di sini bisa mandiri dan tidak bergantung pada pupuk kimia," ucapnya pelan sembari sesekali membenarkan catatannya. 

 

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Kambangan 16 tahun lalu, Suyitno menyadari bahwa tugasnya tidak sekadar menyampaikan teori pertanian. Ia memilih terjun langsung ke kebun, mendengarkan keluh kesah petani, dan bersama mereka mencari solusi. Salah satu hasil pendampingannya adalah pengembangan budidaya singkong beracun—jenis singkong yang ditakuti hama (hewan) hutan karena racunnya yang mematikan. 

 

Alih-alih membiarkan tanaman ini terbuang sia-sia, Suyitno mengajarkan bagaimana cara mengolahnya menjadi gablek hingga tepung mocaf, inovasi pangan lokal yang kini menjadi andalan masyarakat Kambangan. "Kalau hanya menunggu bantuan, kapan petani bisa mandiri? Kita harus bergerak dulu," tegasnya. 

 

Namun, di balik dedikasinya ada ironi yang sangat memprihatinkan. Selama 16 tahun mengabdi statusnya sebagai tenaga harian lepas belum berubah. Tidak ada kepastian masa depan apalagi penghargaan yang setimpal dari pemerintah.  

 

Sebagai PPL THL-TBPP, Suyitno menerima honor yang jauh dari kata layak. Ia tidak mendapatkan tunjangan tetap atau jaminan sosial sebagaimana PPL ASN atau tenaga penyuluh yang berstatus pegawai tetap. Padahal tanggung jawab yang diembannya sama beratnya—bahkan lebih, karena ia harus menjangkau wilayah yang sangat sulit diakses dan menghadapi berbagai resiko dan tantangan di medan pegunungan. 

 

"Kadang terpikir juga untuk berhenti," ujarnya jujur. "Tapi setiap kali saya melihat petani di sini berkembang, hati ini terasa berat untuk meninggalkan mereka????." Dedikasinya bukanlah sekadar pekerjaan melainkan panggilan jiwa. Ia percaya bahwa ketahanan pangan sejati lahir dari kemandirian petani, bukan dari ketergantungan pada subsidi yang datang sesekali. 

 

Tarso (Kades Kambangan) sendiri mengakui betapa besar peran besar Suyitno  menggugah  kemandirian petani di desanya. "Tanpa Pak Suyitno entahlah, mungkin kami tidak akan pernah tahu bahwa singkong beracun ternyata dapat diolah jadi tepung mocaf yang punya nilai jual tinggi," tuturnya.   

 

Dibalik kesunyian hutan pinus, Suyitno tetap melangkah. Meski pengabdiannya belum mendapat perhatian yang layak dari pemerintah ia tidak berhenti berbagi ilmu. Baginya setiap biji pengetahuan yang ditanam yakin akan tumbuh menjadi pohon harapan bagi masa depan petani dan ketahanan pangan negeri ini. 

 

Namun sampai kapan pemerintah membiarkan sosok seperti Suyitno terabaikan? Disaat negara berbicara tentang kedaulatan pangan tidakkah mereka melihat bahwa fondasi sejati dari cita-cita besar ini berdiri di atas punggung para penyuluh seperti dirinya—yang bekerja dalam senyap tanpa kepastian, namun memberi dampak yang nyata? 

 

Di ujung obrolan Suyitno tersenyum tipis. "Saya tidak minta banyak, cukup diakui dan dihargai. Karena saya percaya selama petani tetap berdiri, bangsa ini tidak akan kelaparan." 

 

Sebuah pernyataan sederhana dari seorang pejuang lapangan yang mestinya tidak dibiarkan berjalan sendirian. 





Berita Purworejo

Counter Pengunjung