- Banter Melaju Disosialisasikan di Kemejing, Warga Antusias Sambut Peluang Ternak Kambing Jawa Randu
- Tindaklanjut Pengaduan Warga Mengenai Peternakan Ayam
- Gapoktan Desa Pakisarum Gelar Sosialisasi eRDKK 2027, Pastikan Petani Akses Pupuk Subsidi
- Ubinan Padi Varietas Inpari 32 di Desa Gowong Tunjukkan Produktivitas Menjanjikan
- Jalan Usaha Tani (JUT) DKPP Tahun Anggaran 2026
- DKPP Lakukan Pengujian Sampel PSAT Pasca Idul Fitri 1447 H
- Refilling Nitrogen Cair untuk Mendukung Kegiatan Inseminasi Buatan Ternak
- Seleksi Hibah Ternak 2027 Dimulai, DKPP Purworejo Verifikasi Proposal dari 14 Kecamatan
- PEMKAB PURWOREJO DAN PERUM BULOG SIAP SALURKAN BANTUAN PANGAN BERAS DAN MINYAK GORENG ALOKASI FEBRUARI-MARET 2026
- Pemantauan Harga Bahan Pokok Penting Pasca HBKN Idul Fitri 1447H
Penjaga Ketahanan Pangan di Pinggiran Hutan yang Terlupakan

Penjaga Ketahanan Pangan di
Pinggiran Hutan yang Terlupakan
_____________
# Storytelling
_____________
Kambangan, Bruno, 18 Maret 2025 –
Ditengah riuh angin yang mengalun di sela tegakan pohon pinus di Desa
Kambangan, seorang pria paruh baya tampak sibuk mencatat sesuatu di buku
lusuhnya. Namanya Suyitno, seorang Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Tenaga Harian
Lepas – Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL-TBPP) yang telah mengabdikan 16
tahun hidupnya mendampingi para petani di wilayah pegunungan dengan ketinggian
1.047,7 mdpl.
Dengan motor tuanya
yang tetap setia menemani Suyitno bukanlah sosok yang gemerlap di
panggung birokrasi. Namun di mata para petani desa Kambangan ia adalah cahaya
yang menuntun mereka memahami teknik bertani yang ramah lingkungan dan bernilai
ekonomi tinggi. "Saya hanya ingin petani di sini bisa mandiri dan tidak
bergantung pada pupuk kimia," ucapnya pelan sembari sesekali membenarkan
catatannya.
Sejak pertama kali menginjakkan
kaki di Kambangan 16 tahun lalu, Suyitno menyadari bahwa tugasnya tidak sekadar
menyampaikan teori pertanian. Ia memilih terjun langsung ke kebun, mendengarkan
keluh kesah petani, dan bersama mereka mencari solusi. Salah satu hasil
pendampingannya adalah pengembangan budidaya singkong beracun—jenis singkong
yang ditakuti hama (hewan) hutan karena racunnya yang mematikan.
Alih-alih membiarkan tanaman ini
terbuang sia-sia, Suyitno mengajarkan bagaimana cara mengolahnya menjadi gablek
hingga tepung mocaf, inovasi pangan lokal yang kini menjadi andalan masyarakat
Kambangan. "Kalau hanya menunggu bantuan, kapan petani bisa mandiri? Kita
harus bergerak dulu," tegasnya.
Namun, di balik dedikasinya ada
ironi yang sangat memprihatinkan. Selama 16 tahun mengabdi statusnya sebagai
tenaga harian lepas belum berubah. Tidak ada kepastian masa depan apalagi
penghargaan yang setimpal dari pemerintah.
Sebagai PPL THL-TBPP, Suyitno
menerima honor yang jauh dari kata layak. Ia tidak mendapatkan tunjangan tetap
atau jaminan sosial sebagaimana PPL ASN atau tenaga penyuluh yang berstatus
pegawai tetap. Padahal tanggung jawab yang diembannya sama beratnya—bahkan lebih,
karena ia harus menjangkau wilayah yang sangat sulit diakses dan menghadapi
berbagai resiko dan tantangan di medan pegunungan.
"Kadang terpikir juga untuk
berhenti," ujarnya jujur. "Tapi setiap kali saya melihat petani di
sini berkembang, hati ini terasa berat untuk meninggalkan mereka????." Dedikasinya bukanlah sekadar pekerjaan
melainkan panggilan jiwa. Ia percaya bahwa ketahanan pangan sejati lahir dari
kemandirian petani, bukan dari ketergantungan pada subsidi yang datang
sesekali.
Tarso (Kades Kambangan) sendiri
mengakui betapa besar peran besar Suyitno
menggugah kemandirian petani di
desanya. "Tanpa Pak Suyitno entahlah, mungkin kami tidak akan pernah tahu
bahwa singkong beracun ternyata dapat diolah jadi tepung mocaf yang punya nilai
jual tinggi," tuturnya.
Dibalik kesunyian hutan pinus,
Suyitno tetap melangkah. Meski pengabdiannya belum mendapat perhatian yang
layak dari pemerintah ia tidak berhenti berbagi ilmu. Baginya setiap biji
pengetahuan yang ditanam yakin akan tumbuh menjadi pohon harapan bagi masa
depan petani dan ketahanan pangan negeri ini.
Namun sampai kapan pemerintah
membiarkan sosok seperti Suyitno terabaikan? Disaat negara berbicara tentang
kedaulatan pangan tidakkah mereka melihat bahwa fondasi sejati dari cita-cita
besar ini berdiri di atas punggung para penyuluh seperti dirinya—yang bekerja
dalam senyap tanpa kepastian, namun memberi dampak yang nyata?
Di ujung obrolan Suyitno
tersenyum tipis. "Saya tidak minta banyak, cukup diakui dan dihargai.
Karena saya percaya selama petani tetap berdiri, bangsa ini tidak akan
kelaparan."
Sebuah pernyataan sederhana dari
seorang pejuang lapangan yang mestinya tidak dibiarkan berjalan
sendirian.






