PENGAMATAN HAMA PENGGEREK BATANG PADA TANAMAN TEBU

By DINPPKP 12 Okt 2021, 11:37:00 WIB Penyuluhan
PENGAMATAN HAMA PENGGEREK BATANG PADA TANAMAN TEBU

Salah satu komoditi utama perkebunan yang sangat strategis peranannya adalah tanaman tebu. Hal ini disebabkan karena tanaman ini erat kaitannya dengan kebutuhan gula nasional. Serangan hama pertanaman tebu merupakan salah satu faktor yang dapat menurunkan produktivitas. Pengendalian yang tepat, terarah, efektif dan efisien akan menyelamatkan kehilangan hasil akibat serangan hama. Dalam pengendalian hama mutlak diperlukan pengetahuan tentang biologi hama dan kondisi serangan di lapangan sehingga dapat ditentukan teknik/cara pengendalian, waktu pengendalian dan kebutuhan sarana pengendalian yang tepat. Monitoring/pemantauan hama secara rutin sangat membantu tindakan pengendalian agar lebih efektif dan efisien.

Penggerek batang tebu merupakan kelompok hama yang menyerang batang, terdiri dari terdiri atas 6 spesies yaitu penggerek batang bergaris Chilo saccharipagus Bojer, penggerek batang berkilat Chilo auricilius Dudgeon, penggerek batang abu-abu Tetramoera schistaceana Snellen, penggerek batang kuning Chilo infuscatellus Snellen, penggerek batang jambon Sesamia inferens Walker, dan penggerek batang raksasa Phragmataecia castaneae Hubner.

Pada hari ini, Senin 11 Oktober 2021 bertempat di lahan Kelompok Tani Manunggal Desa Wonosari, dilakukan pengamatan hama penggerek batang tebu seluas 15 hektar dengan mengambil sampel sebanyak 5 titik pengamatan. Tujuan dari pengamatan ini yaitu untuk mengetahui intensitas dan luas serangan hama penggerek batang pada tanaman tebu, sehingga diperoleh rekomendasi pengendalian yang sesuai dengan pengamatan di lapangan. Untuk Kecamatan Ngombol, luas tanaman tebu yang dibudidayakan pada tahun 2021 ini yaitu 107 Hektar, terdiri dari Desa Wonosari 15 hektar, Pejagran 30 hektar, Kesidan 30 hektar, Kumpulsari 10 hektar, Depokrejo 20 hektar, dan Keburuhan 2 hektar.

 

Pengendalian Chilo sacchariphagus

Konsep pengendalian hama terpadu selalu dijadikan rekomendasi dalam pengendalian suatu OPT dilapang. Dalam hal ini yang penting adalah melakukan pengamatan perkembangan populasi hama. Pengendalian serangan hama penggerek batang tebu dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:

  1. Cara fisik mekanis dengan Rogesan, yaitu dengan cara memotong semua pucuk tanaman yang ada tanda-tanda serangan. Pemotongan diusahakan kena ulatnya, tetapi tidak sampai merusak titik tumbuh. Rogesan diulangi setiap 2 minggu dan dapat diakhiri jika tanaman sudah cukup tinggi (umur 5 sampai 6 bulan).
  2. Cara pengendalian secara  biologis yaitu dengan penggunaan Trichogramma japonicum. Pelepasan Trichogramma japonicum 2-4 pias/ha/minggu mulai tanaman umur 2 bulan 4 bulan. Jumlah pias = 100 pias/ha.

Pengirim : BAKTI WORO HARYANTI, SP

PPL KECAMATN NGOMBOL





Berita Purworejo

Counter Pengunjung