- Bangun Semangat Baru, Gapoktan Sido Makmur Gelar RAT dan Reorganisasi Pengurus PUAP 2026–2031
- Kunjungan Study Tiru Petani Blora ke Desa DKrandegan, Bayan
- DKPP Purworejo Verifikasi CPCL SL Tembakau 2026 di Kelompok Tani Makmur Tani Desa Kambangan
- Tak Mau Kalah dengan Bapak-Bapak, KWT Sumber Barokah Praktek Membuat Silase untuk Kemudahan Beternak Kambing
- Pengendalian ‘Kresek’ pada Padi di Desa Kalimati, Libatkan Petani, PPL, dan Babinsa
- Resah dengan Serangan Hama Tikus, Petani Lakukan Pengendalian Bersama
- Teknologi UGV, Bantu Petani Kendalikan OPT dengan Mudah
- MENGHADIRI PERESMIAN PROYEK TAHUN 2025 & KENDURI AGUNG HARI JADI PURWOREJO KE-195
- Kelompok Tani Arso Basuki Sepakati MT II Serentak, Bahas Antisipasi Hama dan Penyakit Padi
- BPP Bruno dan POPT melakukan Monitoring Pertanaman Padi Gogo di KT Buwana Jaya Kambangan Bruno
Penanganan Kasus Malnutrisi pada Burung Hantu di UPT Puskeswan

Penanganan Kasus Malnutrisi pada Burung Hantu di UPT Puskeswan
Malnutrisi adalah salah satu masalah kesehatan serius yang dapat dialami oleh burung hantu, terutama burung hantu yang telah kehilangan habitat alaminya. Kondisi ini terjadi ketika burung tidak mendapatkan asupan nutrisi yang seimbang dan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya. Malnutrisi dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari pemberian pakan yang tidak tepat hingga kondisi stres akibat lingkungan yang tidak mendukung. Selain itu, ketidaktahuan pemilik atau perawat burung hantu tentang kebutuhan diet alami burung predator juga menjadi penyebab umum.
Seekor burung hantu yang menunjukkan gejala malnutrisi, seperti tubuh kurus, bulu kusam dan rontok, dan gerakan yang lemah, dibawa ke Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puskeswan untuk mendapat penanganan. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh tenaga medis hewan, burung tersebut didiagnosis mengalami kekurangan gizi akibat pola makan yang tidak seimbang. Sebagai langkah awal penanganan, burung diberikan multivitamin untuk membantu memulihkan daya tahan tubuh dan memperbaiki kondisi metabolisme. Selain itu, petugas juga memberikan edukasi mengenai pola makan yang sesuai, yaitu dengan memberikan pakan berupa hewan utuh seperti tikus atau anak ayam yang mengandung daging, tulang, dan organ tubuh lengkap guna mencukupi kebutuhan nutrisi, termasuk kalsium dan fosfor.
Penanganan kasus malnutrisi juga mencakup perbaikan lingkungan tempat burung tersebut dirawat. Burung hantu membutuhkan suasana yang tenang, minim stres, dan ruang yang cukup untuk bergerak agar tetap aktif secara fisik. Jika kondisi dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, malnutrisi dapat menyebabkan dampak jangka panjang seperti gangguan tulang, gangguan sistem saraf, kerusakan organ, hingga kematian. Oleh karena itu, penting bagi para pemelihara, petugas konservasi, maupun masyarakat umum untuk memahami bahwa burung hantu bukanlah hewan peliharaan biasa, dan memiliki kebutuhan perawatan khusus. Peran UPT Puskeswan juga sangat penting sebagai pusat layanan kesehatan hewan yang mampu memberikan penanganan medis serta edukasi yang tepat.






