- Bangun Semangat Baru, Gapoktan Sido Makmur Gelar RAT dan Reorganisasi Pengurus PUAP 2026–2031
- Kunjungan Study Tiru Petani Blora ke Desa DKrandegan, Bayan
- DKPP Purworejo Verifikasi CPCL SL Tembakau 2026 di Kelompok Tani Makmur Tani Desa Kambangan
- Tak Mau Kalah dengan Bapak-Bapak, KWT Sumber Barokah Praktek Membuat Silase untuk Kemudahan Beternak Kambing
- Pengendalian ‘Kresek’ pada Padi di Desa Kalimati, Libatkan Petani, PPL, dan Babinsa
- Resah dengan Serangan Hama Tikus, Petani Lakukan Pengendalian Bersama
- Teknologi UGV, Bantu Petani Kendalikan OPT dengan Mudah
- MENGHADIRI PERESMIAN PROYEK TAHUN 2025 & KENDURI AGUNG HARI JADI PURWOREJO KE-195
- Kelompok Tani Arso Basuki Sepakati MT II Serentak, Bahas Antisipasi Hama dan Penyakit Padi
- BPP Bruno dan POPT melakukan Monitoring Pertanaman Padi Gogo di KT Buwana Jaya Kambangan Bruno
Pelayanan kesehatan hewan DKPP di Lugosobo Gebang

Purworejo, 14 Januari 2026
Pelayanan kesehatan hewan di wilayah Lugosobo, Kecamatan Gebang, Kabupaten Purworejo terus dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap kesehatan dan produktivitas ternak milik masyarakat. Salah satu kasus yang ditangani adalah kambing betina yang mengalami gangguan reproduksi berupa distokia atau kesulitan melahirkan yang kemudian disertai dengan prolaps uteri. Kondisi ini merupakan keadaan darurat karena dapat mengancam keselamatan induk kambing apabila tidak segera mendapatkan penanganan medis yang tepat. Peternak melaporkan bahwa kambing mengalami kesulitan saat proses kelahiran dan setelah anak keluar, uterus terlihat keluar melalui vulva disertai perdarahan yang cukup banyak.
Setelah dilakukan pemeriksaan klinis oleh petugas kesehatan hewan, kambing diketahui dalam kondisi lemas akibat kehilangan darah dan kelelahan pasca persalinan. Uterus yang mengalami prolaps dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran dan sisa darah menggunakan larutan antiseptik untuk mencegah infeksi. Selanjutnya dilakukan reposisi uterus secara perlahan dan hati-hati hingga kembali ke posisi normal di dalam rongga tubuh. Tindakan ini bertujuan untuk mencegah kerusakan jaringan lebih lanjut serta mengurangi risiko infeksi yang dapat memperparah kondisi kambing.
Setelah uterus berhasil direposisi, dilakukan penjahitan vulva untuk mencegah terjadinya prolaps ulang. Jahitan dilakukan dengan memperhatikan kondisi jaringan vulva agar tetap memungkinkan kambing buang air kecil secara normal. Namun demikian, akibat perdarahan yang cukup banyak selama proses kelahiran dan tindakan medis, kondisi kambing masih terlihat lemas dan kurang responsif. Oleh karena itu, dilakukan terapi suportif berupa pemberian infus cairan untuk membantu mengembalikan volume cairan dan sirkulasi darah dalam tubuh kambing.
Selain pemberian infus, kambing juga diberikan obat-obatan penunjang berupa antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder, antiinflamasi untuk mengurangi peradangan dan rasa nyeri, serta vitamin guna membantu mempercepat proses pemulihan. Petugas kesehatan hewan juga memberikan edukasi kepada peternak mengenai perawatan pascatindakan, termasuk menjaga kebersihan kandang, memantau kondisi jahitan, serta memastikan asupan pakan dan minum yang cukup agar kambing dapat segera pulih. Dengan penanganan yang cepat dan tepat, diharapkan kondisi kambing dapat berangsur membaik dan risiko komplikasi lanjutan dapat diminimalkan.






