- Bangun Semangat Baru, Gapoktan Sido Makmur Gelar RAT dan Reorganisasi Pengurus PUAP 2026–2031
- Kunjungan Study Tiru Petani Blora ke Desa DKrandegan, Bayan
- DKPP Purworejo Verifikasi CPCL SL Tembakau 2026 di Kelompok Tani Makmur Tani Desa Kambangan
- Tak Mau Kalah dengan Bapak-Bapak, KWT Sumber Barokah Praktek Membuat Silase untuk Kemudahan Beternak Kambing
- Pengendalian ‘Kresek’ pada Padi di Desa Kalimati, Libatkan Petani, PPL, dan Babinsa
- Resah dengan Serangan Hama Tikus, Petani Lakukan Pengendalian Bersama
- Teknologi UGV, Bantu Petani Kendalikan OPT dengan Mudah
- MENGHADIRI PERESMIAN PROYEK TAHUN 2025 & KENDURI AGUNG HARI JADI PURWOREJO KE-195
- Kelompok Tani Arso Basuki Sepakati MT II Serentak, Bahas Antisipasi Hama dan Penyakit Padi
- BPP Bruno dan POPT melakukan Monitoring Pertanaman Padi Gogo di KT Buwana Jaya Kambangan Bruno
Panen Jagung Manis Panglima di Ngombol, Bukti Komoditas Hortikultura Bernilai Ekonomi

Panen Jagung Manis Panglima di Ngombol, Bukti Komoditas Hortikultura Bernilai Ekonomi
Ngombol (14/01/26) – Jagung manis (Zea mays saccharata Sturt.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang banyak dibudidayakan karena memiliki nilai ekonomis lebih tinggi serta umur panen yang relatif lebih singkat dibandingkan jagung untuk pakan ternak. Potensi tersebut mendorong petani di Desa Wonosari, Kecamatan Ngombol, untuk mengembangkan budidaya jagung manis sebagai alternatif usaha tani yang menjanjikan dan berkelanjutan.
Hal tersebut tercermin pada kegiatan panen jagung manis F1 Hibrida Panglima dari Benih Pertiwi yang dilaksanakan pada Rabu, 14 Januari 2026, di lahan milik Bapak Andi Andriyanto, anggota Kelompok Tani Makaryo, Desa Wonosari, Kecamatan Ngombol. Kegiatan panen ini melibatkan penyuluh pertanian dari Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Ngombol, serta dihadiri oleh sejumlah unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam). Kehadiran Babinsa Desa Wonosari dan Bhabinkamtibmas merupakan bentuk nyata peran TNI–Polri dalam mendampingi dan memberikan dukungan kepada masyarakat, khususnya di sektor pertanian, guna memperkuat ketahanan pangan daerah.
Jagung manis Panglima dibudidayakan pada lahan seluas 3.000 meter persegi dengan penggunaan 7 bungkus benih. Pola tanam menggunakan jarak 60 cm x 35 cm dengan 2 benih per lubang, serta pemupukan sebanyak empat kali, yaitu pada umur 10, 25, 35, dan 48 hari setelah tanam (HST). Panen dilakukan pada umur 65 HST dengan hasil yang cukup menggembirakan, di mana setiap tanaman mampu menghasilkan hingga dua tongkol per pohon. Hasil panen dipasarkan di tingkat petani dengan harga Rp3.000 per kilogram, sehingga memberikan nilai tambah bagi pendapatan petani.
Varietas F1 Hibrida Panglima merupakan jagung manis unggul yang telah dilepas melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 004/Kpts/SR.120/D.2.7/1/2020. Varietas ini memiliki rasa manis dengan kadar gula 13–15 persen brix, tongkol berbentuk silindris dengan panjang 20–21 cm dan diameter 5–6 cm, serta berat tongkol berkisar 300–380 gram dengan potensi hasil mencapai 30–34 ton per hektare. Selain relatif tahan terhadap penyakit bulai dan memiliki daya simpan hingga ±4 hari setelah panen, varietas ini juga berpotensi menghasilkan baby sweetcorn pada kondisi lahan subur.
Melalui kegiatan panen ini, sinergi antara penyuluh pertanian, TNI–Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat terlihat solid dalam mendukung program pertanian sebagai salah satu pilar utama ketahanan nasional. Panen jagung manis Panglima ini diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi kesejahteraan petani serta mendorong peningkatan produksi dan pengembangan komoditas hortikultura di wilayah Kecamatan Ngombol.






