Ngopi Menyatukan Hati

By DINPPKP 25 Jun 2025, 08:16:21 WIB Penyuluhan
Ngopi Menyatukan Hati

Ngopi Menyatukan Hati

 (Storytelling) 

______________

# Sutoyo : Penyuluh Pertanian, Pegiat Literasi dan Pemerhati Pemberdayaan Petani

# CybersquadX BPP Bruno

# Bruno Gasspooll on Fire 

______________

Sebuah gubuk sederhana di tengah ladang tembakau Desa Gowong, Kecamatan Bruno. Atapnya dari seng, tiangnya kayu, lantainya tanah. Tetapi dibalik kesederhanaannya, gubuk itu menyimpan kekuatan yang tak bisa diukur dengan alat ukur pertanian:"keakraban".

Selasa siang, 24 Juni 2025 pukul 14.28 WIB, beberapa petani dari Kelompok Tani Rukun Tani berkumpul bersama Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan Pengamat Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT). Sinar matahari masih cukup terik,  mereka tidak langsung turun ke lahan untuk gerakan pengendalian OPT. Tidak terburu-buru menyemprot bio pestisida. Sebaliknya, mereka duduk melingkar, ngopi bareng, dan ngobrol lepas seperti sahabat lama yang lama tak bertemu.


Inilah pendekatan yang seringkali luput dari perhatian: pendekatan personal dan kultural. Disinilah peran penting PPL dan POPT tidak hanya sebagai “ahli teknis”, tetapi juga sebagai teman bicara yang memahami dunia petani dari dalam.


Penyuluhan tidak bisa berhasil hanya dengan menyodorkan teori dan brosur. Petani itu butuh didengarkan, bukan diceramahi. Ketika kita duduk bersama, merasakan kopi pahit yang sama, mereka tahu kita tidak sedang menggurui, tetapi menemani.


Muh. Fatah, Ketua Kelompok Tani, mengakui bahwa kedekatan inilah yang membuat petani nyaman dan terbuka. “Setiap ketemu Pak Toyo, Mas Aswin atau Mas Gio POPT itu rasanya seperti ngobrol dengan teman. Mau tanya apa saja ya nggak sungkan. Jadinya kita bisa diskusi banyak,” katanya.


Dititik inilah jarak antara “petugas” dan “petani” menjadi lenyap. Tidak ada kasta. Tidak ada perintah. Yang ada adalah proses pembelajaran dua arah yang lahir dari saling percaya.


Pendekatan teknis dalam pengendalian hama memang penting. Tetapi tanpa fondasi relasi yang kuat, strategi itu sulit diterapkan di lapangan. Disinilah budaya guyub, rukun, dan rembugan khas pedesaan menjadi modal sosial yang sangat berharga.


Sugiyo POPT Kecamatan Bruno, menyebut bahwa justru dalam suasana informal seperti inilah pesan-pesan teknis lebih mudah diserap. “Kalau di ruang rapat, biasanya canggung. Tapi kalau sudah ngopi bareng di gubuk, cerita soal ulat dan kutu pun bisa jadi bahan obrolan yang santai tapi bermakna,” jelasnya.


Mungkin orang luar akan mengira ini hanya sesi ngopi tanpa makna. Tetapi bagi mereka yang pernah terlibat dalam dunia penyuluhan, momen seperti ini adalah awal dari keberhasilan program. Karena disinilah kepercayaan dibangun. Disinilah petani merasa dihargai, didengar, dan diajak maju bersama.


Saat kepercayaan sudah tumbuh, maka ajakan untuk mencoba bio pestisida, menyesuaikan jadwal tanam, atau mengenali musuh alami, akan lebih mudah diterima. Bukan karena mereka takut, tapi karena mereka yakin: yang mengajak adalah teman seperjuangan, bukan sekadar petugas.


Kegiatan Gerdal OPT memang penting tetapi yang lebih penting adalah pendekatan yang mendasarinya: pendekatan yang meruntuhkan sekat, merajut keakraban, dan menyamakan rasa.


Karena dalam pertanian, bukan hanya benih yang perlu ditanam, tapi juga hubungan. Dan kadang, hubungan yang kuat itu dimulai dari segelas kopi hitam di gubuk kecil di tengah ladang.






Berita Purworejo

Counter Pengunjung