- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
- JARINGAN IRIGASI TERSIER (PITER) TA. 2026
Ngopi dan Nglinting Bareng: Apresiasi kepada Petani Tembakau

Ngopi dan Nglinting Bareng: Apresiasi kepada Petani Tembakau
(Storytelling)
______________
# Sutoyo : Penyuluh Pertanian, Pegiat Literasi dan Pemerhati Pemberdayaan Petani
# CybersquadX BPP Bruno
# Bruno Come Back on Fire
______________
Matahari belum terlalu tinggi ketika kami sampai di ladang tembakau milik Pak Mambangil. Embun masih tersisa di pucuk-pucuk daun, dan aroma tembakau dari slepen (dompet tembaku) Pak Bangil (panggilan akrap Pak Mambangil) mulai menyeruak . Kami datang bukan sebagai pejabat, bukan pula sebagai pengawas. Kami hanya ingin duduk, ngopi, dan nglinting bareng.
Pak Mambangil menyambut dengan senyum khasnya, sambil menyodorkan tembakau dari slepennya. Di tangannya sudah tergulung rapi sebatang lintingan. Ia lalu berkata dengan nada pelan tapi mantap,
"Kadang yang kami butuhke mung ditemani, mas... ora kudu dijanji-janjeni."
(Kadang yang kami butuhkan hanya ditemani, mas... tidak harus dijanjikan ini-itu).
Kami duduk beralaskan rumput hijau pematang, secangkir kopi pahit disuguhkan dalam gelas kaca lusuh, tak ada meja, tak ada protokoler. Dalam kesederhanaan inilah merasa saling menghargai tumbuh dengan alami. Tak ada sekat antara petani dan penyuluh, antara tamu dan tuan rumah. Semua menyatu oleh aroma kopi dan tembakau.
Disela percakapan ringan, perlahan-lahan keluarlah uneg-uneg yang selama ini hanya disimpan. Tentang harga tembakau yang sering jatuh saat panen raya. Tentang regulasi yang berubah-ubah dan terasa berat sebelah. Tentang program GAP (Good Agricultural Practices) yang ideal di atas kertas, namun cukup sulit dijalankan tanpa dukungan yang memadai.
“Ora mung nyangkul lan nandur, mas,” Pak Bangil melanjutkan, “nggarap tembakau kuwi kudu nganggo roso. Nanging nek roso iki diganti karo aturan sing mumet, yo ndadekke kesel ati.”
(Bukan hanya mencangkul dan menanam, mas. Menggarap tembakau itu harus dengan rasa. Tapi kalau rasa ini digantikan aturan yang rumit, ya bikin capek hati).
Kami menyimak, mencatat, tapi yang paling penting: kami hadir. Disitulah makna apresiasi sejati. Bukan berupa piagam atau seremoni, tetapi dengan meluangkan waktu untuk sekadar duduk bersama. Saling mendengar tanpa menggurui. Dibalik lintingan ada kepercayaan yang dibangun. Dan dibalik cangkir-cangkir kopi itu, ada rasa persaudaraan yang tumbuh.
Dalam suasana yang cair seperti ini dialog jadi lebih hidup. Petani tidak sungkan membuka diri, menyampaikan ide, harapan, bahkan keluhan yang selama ini tak pernah tersampaikan. PPL pun lebih mudah memahami masalah dari akar, bukan sekadar berdasarkan data isian formulir.
Ngopi dan nglinting bareng bukan sekadar kegiatan santai di pematang sawah. Ia menjadi simbol bahwa kita hadir bersama petani, menyatu dalam denyut kehidupan mereka. Ditengah kebijakan pemerintah yang kadang terasa ambigu dan tidak berpihak, kebersamaan ini menjadi isyarat bahwa mereka (petani) tidak sendiri.
Sebab kadang, kehadiran dan kepedulian nyata jauh lebih berarti daripada janji-janji manis yang hanya terucap. Dan di bawah langit desa, di pematang yang sejuk itu, kami semua mengerti: apresiasi yang sesungguhnya adalah saat kita bisa duduk sama rendah, berdiri sama tinggi—ngopi dan nglinting bareng, dengan hati yang terbuka.






