- Audit BPK Turun ke Lapangan, DKPP Purworejo Tunjukkan Transparansi Program Hibah
- Pelatihan Kader Zoonosis, Upayakan Prinsip One Health
- Evaluasi MT I Jadi Dasar, Kemiri Siap Genjot Tanam 2026
- HARGA BERAS DI PENGGILINGAN PADI PURWOREJO DEKATI HET, PASOKAN TERPANTAU STABIL
- Pembukaan Sekolah Lapang (SL) Kelapa Kelompok Tani Berkah Tani Milenial Desa Girigondo
- Penguatan Silaturahmi dan Sinergi Petani melalui Pertemuan KTNA dan Halal Bihalal Kecamatan Bener Tahun 2026 dalam Mendukung Pembangunan Pertanian Berkelanjutan
- Sekolah Lapang Kelapa 2026 Poktan Tanjung Sari, Kel Lugosobo, Kec Gebang
- SL Kelapa Kecamatan Grabag Tahun 2026 Upaya Tingkatkan Kapasitas Petani Kelapa Purworejo
- SL Kelapa Kecamatan Bagelen Tahun 2026 untuk amankan Produksi Kelapa Tetap Maksimal
- Akselerasi Sertifikasi Organik, KEP KOPRAL Purworejo Perkuat Administrasi dan Standar Budidaya
Ngelmu Pekih,,, Mbah Kyai : Fiqih Pertanian, dan Kewajiban Melestarikan Lingkungan

"Ngelmu Pekih" Mbah Kyai : Fiqih Pertanian, dan Kewajiban Melestarikan Lingkungan"
______________
# Sutoyo : Penyuluh Pertanian, Pegiat Literasi dan Pemerhati Pemberdayaan Petani dan Budaya AgriCultural
# CybersquadX BPP Bruno
# Bruno semakin menyala
______________
Gondangsari, Gowong, (25/2/2025) – Siang itu, setelah sesi penyuluhan dan diskusi pertanian selesai kemudian masuk ke sesi lain-lain, suasana di balai pertemuan kelompok tani (Poktan) Sumber Rezeki masih saja terasa hangat. Para petani tampak antusias berdiskusi tentang materi yang baru saja disampaikan oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL).
Ditengah suasana tersebut, Mbah Kyai Tukijan, salah satu anggota Poktan yang disepuhkan, meminta izin untuk menyampaikan pendapatnya. Dengan suara tenang namun penuh wibawa, beliau berkata, "Saya merasakan semua yang disampaikan Pak PPL tadi adalah tentang fiqih pertanian, tentang kewajiban menjaga dan melestarikan lingkungan... matur nuwun sanget Pak Toyo."
Ungkapan Mbah Kyai tersebut sungguh diluar dugaan dan tentunya mengandung makna mendalam dan sinyal chemistry yang kuat. Dalam tradisi keislaman, fiqih tidak hanya mengatur ibadah, tetapi juga mencakup tata cara hidup yang sesuai dengan syariat, termasuk dalam bertani dan menjaga lingkungan. Konsep ini lazim dikalangan pesantren tradisional disebut sebagai "Ngelmu Pekih", pemahaman mendalam tentang hukum dan etika dalam mengelola sumber daya alam.
Pilihan materi penyuluhan yang disampaikan hari itu sekaligus sebagai pengenalan diri ternyata tidaklah meleset. Terkesan sekali petani membutuhkan sesuatu yang fresh yang memang menekankan pentingnya praktik pertanian ramah lingkungan, seperti penggunaan pupuk organik, konservasi tanah dan air, serta sistem tanam berkelanjutan. Semua ini sejalan dengan ajaran Islam yang melarang perusakan lingkungan dan mengajarkan keseimbangan dalam pemanfaatan alam.
Sebagai sosok yang dituakan di lingkungannya, Mbah Kyai memberikan perspektif bahwa bertani bukanlah sekadar urusan ekonomi, tetapi juga bagian dari ibadah dan tanggung jawab moral. Pernyataan beliau mengingatkan para petani bahwa menjaga lingkungan adalah amanah yang harus dijaga untuk generasi mendatang.
Pernyataan Mbah Kyai itu pun disambut dengan anggukan setuju dari para peserta. Beberapa anggota Poktan bahkan mengusulkan agar nilai-nilai fiqih pertanian ini semakin ditekankan dalam setiap penyuluhan, agar kesadaran lingkungan bisa terus tumbuh di kalangan petani.
Penyuluhan pertanian siang itu pun berakhir dengan semangat baru. Para petani tidak hanya mendapatkan ilmu teknis, tetapi juga pemahaman bahwa pertanian yang baik adalah yang selaras dengan alam, etika, dan ajaran agama. Seperti yang dikatakan Mbah Kyai, ngelmu pekih bukan sekadar teori, tetapi harus menjadi pedoman dalam setiap langkah mengolah tanah dan bercocok tanam.






