Mereka yang Pernah Pergi, Kini Membumi

By DINPPKP 05 Jun 2025, 09:19:50 WIB Penyuluhan
Mereka yang Pernah Pergi, Kini Membumi

Mereka yang Pernah Pergi, Kini Membumi

 (Storytelling) 

_____________

# Sutoyo : Penyuluh Pertanian, Pegiat Literasi dan Pemerhati Pertanian Berkelanjutan

# CybersquadX BPP Bruno

# Bruno Come Back on Fire 

_______________

Ditengah riuhnya modernitas dan arus urbanisasi, ada sekelompok orang yang memilih arah berbeda. Mereka tidak sekadar pulang, tapi membawa sesuatu yang tak banyak dimiliki: pengalaman hidup, semangat membangun, dan keberanian untuk membumi. Salah satunya adalah Pak Hindun, warga Desa Gowong, Kecamatan Bruno.


Belasan tahun silam, Pak Hindun meninggalkan kampung halamannya untuk merantau ke Yogyakarta. Di kota itu ia bekerja keras, belajar hidup mandiri, dan menyerap berbagai pengalaman. Tapi suatu hari, langkahnya berbalik.... Ia pulang. Bukan karena kalah oleh kota, melainkan karena menang atas dirinya sendiri — ia sadar bahwa akar hidupnya tumbuh dari tanah desa.


Kini lebih dari 15 tahun ia menjadi petani. Ia bukan petani biasa. Diam-diam selama lima tahun terakhir ia memilih jalan sunyi namun berarti: menjadi pegiat pertanian organik. Dalam diam ia belajar mengolah kompos, membuat pestisida nabati, dan menanam tanpa bahan kimia. Ia menanam bukan hanya padi dan sayuran tapi juga kesadaran akan pentingnya hidup selaras dengan alam.


Pak Hindun juga dikenal sebagai salah satu pendiri Kelompok Tani Suka Tani. Perannya tidak hanya di sawah, tapi juga dalam menghidupkan semangat gotong royong dan belajar bersama diantara petani lain.


Fenomena menarik muncul: mereka yang pernah merantau justru menjadi agen perubahan di desa. Mengapa? Karena merantau bukan hanya soal pindah tempat, tapi juga perjalanan batin. Para perantau belajar menahan lapar, menekan ego, menghadapi tekanan, dan bertahan di tempat asing. Pengalaman itu membentuk watak tangguh dan mental solutif.


Ketika kembali ke kampung mereka membawa semangat berbeda: mereka melihat potensi, bukan kekurangan. Mereka tak sekadar ikut arus, tetapi berani mencoba hal baru — seperti pertanian organik yang sering dianggap lambat dan repot. Tapi bagi Pak Hindun, hasil dari proses alami jauh lebih menenteramkan dan sehat, bukan hanya untuk tanah, tapi juga bagi generasi mendatang.


Sore itu di rumah Pak Hindun listrik padam menyusul hujan yang sangat deras. Hanya cahaya lilin yang menemani kami berbincang sehabis pertemuan rutin selapanan KWT Sekartani. Dalam temaram, siluet wajahnya terlihat penuh ketenangan. Seolah ada api kecil yang menyala tak hanya di meja, tapi juga di dalam relung hatinya. Api harapan, api ketekunan.


Ia tak banyak bicara tentang impian, tapi tindakannya sudah cukup untuk menjelaskan semuanya: ia memilih menanam, bukan hanya untuk panen, tapi untuk memberi contoh. Bahwa menjadi petani adalah pilihan hidup yang bermartabat.


Sering kali orang berpikir pulang kampung adalah tanda kegagalan. Tetapi tidak bagi Pak Hindun dan banyak mantan perantau lain. Justru dari kampung halaman mereka memulai langkah-langkah besar. Mereka tidak hanya membangun sawah tapi membangun harapan. Mereka tidak hanya menanam padi tetapi juga menumbuhkan kemandirian dan keberanian generasi muda untuk kembali ke akar.


Cerita seperti Pak Hindun bukan sekadar kisah pribadi tetapi sebuah cermin sosial. Ia mengajarkan kita bahwa kebahagiaan dan kebermaknaan hidup tidak harus dicari di kota besar. Terkadang semua itu justru bisa tumbuh dari tanah sendiri — asal kita mau membajaknya dengan hati dan menyiramnya dengan semangat yang tak pernah padam.


Mereka yang pernah pergi, kini membumi. Dan dari tanah yang mereka pijak masa depan desa perlahan disemai kembali.






Berita Purworejo

Counter Pengunjung