Merapatkan Barisan, Menumbuhkan Harapan: Klinik PHT Jadi Rumah Belajar Petani Organik

By DINPPKP 26 Jun 2025, 09:46:17 WIB Penyuluhan
Merapatkan Barisan, Menumbuhkan Harapan: Klinik PHT Jadi Rumah Belajar Petani Organik

Merapatkan Barisan, Menumbuhkan Harapan: Klinik PHT Jadi Rumah Belajar Petani Organik

______________

# Sutoyo : Penyuluh Pertanian, Pegiat Literasi dan Pemerhati Pertanian Berkelanjutan

# CybersquadX BPP Bruno

# Bruno Gaspooll on Fire 

______________

Ditengah tantangan pertanian modern yang makin rumit—mulai dari perubahan iklim, ledakan hama, hingga harga pupuk yang melambung—masih ada tempat sederhana yang menjadi sumber harapan. Tempat itu bukan gedung besar, bukan aula resmi, tapi bangunan terbuka beratap seng di lereng Desa Karanggedang. Di sanalah Klinik PHT (Pengendalian Hama Terpadu) berdiri sebagai rumah belajar petani organik lintas desa dan kecamatan.


Pada Rabu, 25 Juni 2025, Klinik PHT Karanggedang kembali menggelar pertemuan rutin setengah bulanan. Hadir dalam forum ini 11 petani dari Karanggedang, Gunung Condong, dan Kemiri Kidul, ditambah 5 PPL dari wilayah Bruno dan 1 POPT. Mereka datang tidak hanya membawa botol kosong dan catatan, tapi juga semangat untuk terus belajar dan berkembang.


Agenda hari itu adalah pelatihan perbanyakan Beauveria bassiana, jamur entomopatogen sebagai agen hayati yang efektif mengendalikan hama secara ramah lingkungan. Namun lebih dari sekadar praktik teknis, pertemuan ini menjadi ruang menyatukan langkah, menyemai semangat, dan membangun solidaritas antar petani serta penyuluh.


Di Klinik PHT tak ada jarak antara petani dan penyuluh. Semuanya duduk setikar, satu suara, satu tujuan. Di sanalah terlihat makna dari "merapatkan barisan" —yakni membangun sinergi antara pengalaman lapangan petani dan pendampingan ilmiah dari para PPL dan POPT. Mereka belajar dari kesalahan, saling menguatkan dalam keberhasilan, dan mencatat setiap proses sebagai bagian dari perjalanan panjang menuju pertanian yang berdaulat.


Duwi Hartoto, Koordinator BPP Kecamatan Bruno, menegaskan bahwa pertemuan lintas desa semacam ini adalah kunci pembelajaran sejati bagi petani. “Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan, tapi penguat jejaring antarpetani dan antarpenyuluh. Semangat merapatkan barisan itu nyata di sini. Kita ingin membangun petani yang punya ilmu, jejaring, dan semangat gotong royong,” ujarnya.


Sugiyo, POPT yang turut mendampingi pelatihan juga mengapresiasi semangat para peserta. “Petani sekarang makin terbuka pada pengendalian hayati seperti Beauveria bassiana. Ini menjadi alternatif penting ditengah dampak negatif pestisida kimia. Dan Klinik PHT bisa menjadi pusat inovasi lapangan yang membumi,” katanya.


Dalam sesi berbagi pengalaman, Pak Muhidin dari Kemiri Kidul menyampaikan kisah inspiratifnya . “Wis telung taun aku tanam padi dan cabai  tanpa pupuk kimia. Awale ragu, tapi saiki malah ngirit lan hasil luwih awet. Sing penting ngerti carane ngelola pupuk organik lan tahan penyakit,” ujarnya mantap.


Sugito dari Karanggedang menambahkan bahwa penggunaan kascing dari limbah organik dan kotoran ternak terbukti menyuburkan tanah dan menjaga kelembapannya. “Kascing iso gawe lemah subur, ora gampang retak,” jelasnya.


Sementara itu, Mas Biman,  juga dari Karanggedang, berbagi pendekatan pencegahan terhadap penyakit virus kuning (gemini)  pada cabai. Ia menekankan pentingnya kebersihan lahan sejak awal tanam, lalu mengenalkan ramuan hayati yang ia racik sendiri.

 “Saya pakai ekstrak rumput laut, bunga pukul empat, dan bunga enceng gondok. Diramu lalu difermentasi, hasilnya bisa disemprotkan ke daun cabai. Ini bukan pengobatan, tapi pencegahan. Jadi sifatnya preventif, supaya virus gemini tidak menyerang sejak awal,” ungkapnya.


Dari pengalaman-pengalaman tersebut, tampak bahwa inovasi tidak selalu datang dari laboratorium, tapi bisa lahir dari kreativitas dan keberanian petani mengolah apa yang tersedia di sekitarnya.


Klinik PHT hari itu bukan hanya memperbanyak jamur, tapi juga memperbanyak energi kolektif. Ketika satu petani bicara, yang lain mendengarkan dan mencatat. Ketika satu berbagi, yang lain memberi ruang. Inilah yang disebut barisan: saling menguatkan tanpa menyisihkan.


Lewat pertemuan seperti ini, harapan yang semula tercerai mulai dipintal kembali. Harapan akan pertanian yang ramah lingkungan. Harapan agar generasi muda mau kembali ke sawah. Harapan bahwa petani tidak selamanya berada di belakang, melainkan di barisan depan perubahan.


Karena itulah Klinik PHT bukan sekadar tempat pelatihan. Ia telah menjelma menjadi rumah bersama. Tempat dimana barisan petani disusun, harapan ditumbuhkan, dan inovasi lahir dari bawah. Pelan tapi pasti dari Karanggedang dan sekitarnya petani-petani kecil sedang membangun jalan pertanian yang lebih bermartabat.






Berita Purworejo

Counter Pengunjung