- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
- JARINGAN IRIGASI TERSIER (PITER) TA. 2026
\"Menghidupkan Kembali Spirit Petani Lewat Merti Desa\"

"Menghidupkan Kembali Spirit Petani Lewat Merti Desa"
(Opini)
______________
# Sutoyo : Penyuluh Pertanian, Pegiat Literasi dan Pemerhati Pemberdayaan Petani
# CybersquadX BPP Bruno
# Bruno Come Back on Fire
______________
Petani adalah penopang negeri. Tapi kini, jumlah mereka makin menipis—bukan karena lahan hilang semata, melainkan karena semangat bertani yang kian meredup. Anak-anak muda desa yang dulu dibesarkan dalam kultur agraris, kini makin jauh dari sawah. Profesi petani tak lagi dianggap membanggakan. Lebih tragis lagi banyak yang ingin pergi dari desa dan tak ingin kembali.
Ditengah tantangan seperti itu, merti desa sebetulnya menyimpan harapan. Ia bukan hanya seremoni adat, tetapi juga ruang spiritual dan kultural yang bisa menyalakan kembali “api” kebanggaan sebagai petani. Dalam setiap kirab hasil bumi, doa bersama, dan sedekah desa, tersimpan filosofi luhur: bahwa petani bukan hanya pencari nafkah, tapi penjaga harmoni antara manusia dan alam.
Sayangnya, seiring waktu merti desa seringkali kehilangan arah. Tuntunan makin menghilang dibalik keramaian tontonan. Hiburan menjadi daya tarik utama, sementara nilai-nilai kerja keras, ketekunan, dan syukur atas hasil tani hanya menjadi latar belakang yang nyaris tak terdengar.
4
Padahal disitulah letak potensi besar: mengubah merti desa menjadi panggung edukasi dan inspirasi agraris. Dengan pendekatan kreatif dan partisipatif, kita bisa membangkitkan kembali spirit petani dalam benak generasi muda.
Tontonan Perlu, Tapi Tuntunan Jangan Hilang
Kita tidak bisa memungkiri bahwa elemen hiburan dalam merti desa memang menarik. Pasar malam, panggung musik, bahkan hiburan modern seperti cosplay atau lomba karaoke memberi warna. Tapi ketika tontonan menjadi satu-satunya wajah tradisi, kita sedang menyaksikan kosongnya makna di balik perayaan. Ritual tinggal formalitas, anak muda tidak lagi paham makna simbolik, dan nilai-nilai kultural perlahan menghilang.
Dititik inilah relevansi merti desa harus ditinjau ulang. Bukan untuk dihapus tetapi untuk ditata ulang: agar yang dirayakan bukan hanya keramaian, tetapi juga jati diri sebagai petani. Perlu ada ruang untuk merekatkan kembali hubungan antara generasi muda dengan dunia pertanian melalui medium budaya yang mereka akrabi.
Spirit Petani dalam Format Baru
Bayangkan jika kirab merti desa tidak hanya membawa hasil bumi, tetapi juga menampilkan petani muda inspiratif. Atau jika lomba-lomba yang diadakan mencakup adu kreativitas membuat alat pertanian sederhana, demo urban farming, atau cerita sukses petani milenial. Bahkan panggung hiburan bisa diselingi dengan monolog atau film pendek tentang perjuangan petani lokal dalam menjaga pangan desa.
Penting juga menyisipkan cerita lokal—tentang sosok Mbah Syarip petani sepuh yang tak pernah menyerah menghadapi paceklik, atau Mas
Edy pemuda desa yang menolak merantau demi mengembangkan pertanian organik. Figur-figur seperti inilah yang bisa menjadi simbol dan inspirasi dalam konteks merti desa kekinian.
Apalagi ditengah isu nasional: bahwa usia rata-rata petani kita kini diatas 50 tahun, dan regenerasi petani masih sangat lambat. Merti desa bisa menjadi ajang strategis untuk menyampaikan pesan ini—bukan lewat seminar formal, tetapi lewat budaya yang hidup.
Gerakan Kultural dari Desa
Revitalisasi merti desa bukan tanggung jawab panitia adat semata. Ini butuh kolaborasi: tokoh adat, guru sekolah, kelompok tani, karang taruna, hingga pemerintah desa. Ada banyak ruang untuk menciptakan kolaborasi kreatif lintas generasi.
Disinilah peran pemuda sangat vital. Mereka bisa menjadi kurator konten, produser acara, hingga pencerita budaya yang segar dan relevan. Dengan bahasa visual, media sosial, dan gaya komunikasi kekinian, spirit petani bisa dituturkan ulang, disegarkan, dan dibanggakan kembali.
Sebaliknya jika merti desa hanya dibiarkan berjalan begitu saja tanpa refleksi dan pembaruan makna maka kita sedang menggali kubur pelan-pelan untuk identitas budaya desa sendiri.
Tradisi bukan sekadar rutinitas, tetapi juga cermin arah hidup bersama. Jika merti desa kehilangan jiwanya sebagai penghormatan atas tanah dan hasil bumi, maka kita akan kehilangan sesuatu yang esensial. Maka yang kita butuhkan hari ini bukan sekadar mempertahankan tradisi, tetapi menghidupkan kembali spirit yang menggerakkannya.
Dengan menyeimbangkan tontonan dan tuntunan, kita tidak hanya melestarikan budaya, tapi juga menguatkan harapan akan masa depan pertanian Indonesia—yang dimulai dari desa, dari petani, dari generasi muda.






