- Kunjungan Study Komparatif Komisi B DPRD Kabupaten Cilacap
- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
Maryoto, Sang Penyuluh Rasa Chef yang Masih Menanti Kepastian

Maryoto, Sang Penyuluh Rasa Chef yang Masih Menanti Kepastian
(Storytelling)
______________
# Sutoyo : Penyuluh Pertanian, Pegiat Literasi dan Pemerhati Pemberdayaan Petani
# CybersquadX BPP Bruno
# Bruno Come Back on Fire
______________
Di Baledesa Gowong, Kecamatan Bruno, aroma harum olahan tepung mokaf menguar, menandai geliat semangat yang tak pernah padam. Dibalik kepulan uap panas dan gemerincing alat masak, berdirilah sosok bersahaja: Maryoto. Bukan seorang koki hotel berbintang, bukan pula pemilik restoran ternama. Ia adalah penyuluh pertanian lapangan (THL TBPP) yang telah mengabdi lebih dari 17 tahun untuk mendampingi petani dan ibu-ibu desa—dengan sentuhan tangan dingin dan hati yang tulus.
Tanggal 14 hingga 16 Mei 2025 menjadi momen istimewa. Selama tiga hari dalam kegiatan Bimtek Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian di Desa Gowong, Maryoto tampil sebagai narasumber utama. Materinya? Inovasi pengolahan aneka pangan berbasis tepung mokaf—tepung lokal dari singkong yang murah, sehat, dan ramah lingkungan. Ia tak hanya menjelaskan dengan kata-kata, tetapi langsung mencontohkan: membuat aneka macam kue, hingga camilan kreatif yang membuat peserta terkagum dan tergugah.
“Pak Maryoto itu kayak chef,” celetuk salah satu peserta sambil tersenyum senang. “Tapi chef yang turun ke desa bukan hanya masak enak, tapi ngajari kami supaya bisa mandiri.”
Sayangnya dibalik kepiawaiannya itu, ada ironi yang menggigit: hingga kini, status Maryoto masih Tenaga Harian Lepas (THL), secara de facto belum ada kejelasan pengangkatan sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Selama 17 tahun lebih ia menjadi ujung tombak penyuluhan—melewati terik, hujan, dan medan pegunungan yang berat—demi mendampingi petani dan kelompok wanita tani. Namun apresiasi atas jasanya masih tertahan di lorong panjang ketidakpastian.
Bukankah negara membutuhkan sosok seperti Maryoto? Yang tidak hanya bicara teori di ruang rapat, tetapi langsung bersentuhan dengan tanah, bahan pangan, dan masyarakat akar rumput?
Alih status dari THL TBPP menjadi PPPK bagi penyuluh seperti Maryoto bukan sekadar soal administrasi. Ini soal keadilan. Soal pengakuan terhadap dedikasi. Soal menjaga semangat para penyuluh yang telah menjadi tulang punggung pembangunan pertanian di negeri ini.
Ditengah wacana besar tentang kedaulatan pangan, ketahanan ekonomi desa, dan pengembangan UMKM berbasis lokal, figur seperti Maryoto justru menjadi kunci. Ia mengerti betul lapangan. Ia paham bagaimana mengolah hasil panen menjadi produk bernilai tambah. Dan ia tahu bagaimana menyampaikannya dengan cara yang bisa dipahami oleh masyarakat desa.
Bagi Maryoto, menyuluh adalah panggilan jiwa. Tapi bukankah jiwa juga butuh kepastian?
Semoga suara ini sampai ke telinga para pengambil kebijakan. Karena jika negeri ini ingin maju dengan pondasi yang kuat dari desa, maka mari beri penghargaan yang layak kepada mereka yang telah mengabdi tanpa pamrih.
Dan semoga dimasa mendatang Pak Maryoto tak hanya dikenal sebagai "Chef Desa" yang piawai, tapi juga sebagai ASN penyuluh yang diakui negara. Sebab bangsa besar tak boleh lupa pada mereka yang telah menghidupi akar.






