Luas Tambah Tanam: Mimpi Besar Swasembada Pangan

By DINPPKP 17 Mar 2025, 07:59:26 WIB Penyuluhan

Luas Tambah Tanam: Mimpi Besar Swasembada Pangan 

 (Opini)

______________

# Sutoyo : Penyuluh Pertanian, Pegiat Literasi, Praktisi dan Pemerhati Pertanian Berkelanjutan

# CybersquadX BPP Bruno

# Bruno Berbenah Diri

______________

Swasembada pangan sebuah mimpi dan ambisi besar yang belakangan ini terus-menerus dihembuskan. Angin besar yang bertiup pemerintah mendorong Luas Tambah Tanam (LTT) sebagai jurus utama untuk meningkatkan produksi padi. Logikanya sederhana: semakin luas lahan yang ditanami, semakin besar hasil panen. Tapi, benarkah sesederhana itu? 

 

Dibalik angka-angka optimistis petani di lapangan menghadapi realitas yang jauh berbeda. Ledakan Wereng Batang Coklat (WBC), gagal panen, hingga menurunnya kesuburan tanah menjadi ancaman nyata. Sayangnya kebijakan LTT sering kali mengabaikan satu hal penting: keseimbangan ekosistem. 

 

Memasuki masa panen Musim Tanam 1 (MT1) tahun ini saja sudah banyak terindikasi spot-spot serangan WBC yang cukup masif di berbagai daerah. Ini bisa jadi baru pemanasan. Pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa serangan dalam skala penuh justru kerap terjadi pada MT 2, menyebabkan kerugian besar bagi petani. 

 

Meningkatkan luas tanam memang terlihat sebagai jalan pintas menuju swasembada. Namun strategi ini dapat membawa risiko besar jika tidak diiringi dengan pengelolaan ekosistem yang bijak. Faktanya banyak wilayah dengan intensifikasi pertanian mengalami kerusakan ekologi yang memicu serangan hama besar-besaran. 

 

Ambil contoh Wereng Batang Coklat (WBC). Dalam beberapa tahun terakhir, hama ini menjadi momok di banyak sentra produksi padi. Meledaknya populasi WBC bukan kebetulan, melainkan dampak langsung dari rusaknya keseimbangan alam. Penggunaan pestisida berlebihan membunuh musuh alami hama, menyebabkan populasi WBC berkembang tanpa kendali. 

 

Ironisnya semakin petani mengandalkan pestisida kimia semakin besar peluang hama menjadi resisten. Akibatnya mereka terjebak dalam lingkaran setan: serangan hama semakin ganas sementara biaya produksi terus melonjak. Jika pola ini dibiarkan ancaman serangan besar-besaran di MT 2 akan menjadi siklus tahunan yang sulit dihindari.   

 

Pemerintah sering kali terobsesi pada angka produksi dan luas tanam sebagai indikator keberhasilan. Padahal, produktivitas berkelanjutan tidak hanya soal seberapa luas lahan yang digarap, melainkan bagaimana menjaga ekosistem tetap seimbang. 

 

Menambah luas tanam tanpa memperhatikan kesehatan lingkungan bagaikan membangun rumah di atas pasir. Bisa berdiri tapi rapuh dan mudah runtuh. Alih-alih memaksa petani memperluas areal tanam, bukankah lebih bijak jika kita fokus memperbaiki kualitas ekosistem pertanian? 

 

Jika serius ingin mencapai swasembada pangan sudah waktunya kita keluar dari pola pikir lama. Intensifikasi ramah lingkungan harus menjadi prioritas utama. Bagaimana caranya? 

 

1. Pengendalian Hama Terpadu (PHT) 

   Menghentikan ketergantungan pada pestisida dengan memanfaatkan musuh alami, rotasi tanaman, dan teknik budidaya yang menjaga keseimbangan ekosistem. 

 

2. Diversifikasi Tanaman 

   Jangan hanya menanam padi sepanjang tahun. Pola tanam bergantian (padi-palawija) membantu memutus siklus hidup hama dan memperbaiki kesuburan tanah. 

 

3. Pemulihan Ekosistem 

   Restorasi habitat alami di sekitar lahan pertanian menjadi kunci. Kehadiran burung pemangsa, serangga predator, dan mikroorganisme tanah sangat penting untuk menjaga stabilitas ekologi. 

 

Jika kita terus memuja angka tanpa memperbaiki fondasi ekosistem, swasembada pangan hanya akan menjadi ilusi belaka. Menambah luas tanam tanpa menjaga keseimbangan alam hanya akan membawa kita pada krisis yang lebih dalam: tanah yang lelah, hama yang tak terkendali, dan petani yang semakin terpuruk. 

 

Fakta di lapangan sudah berbicara, tak ada guna menutup mata apalagi sembunyikan data. Spot-spot serangan WBC di MT 1 bisa jadi hanya awal dari ancaman lebih besar di MT 2, seperti yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Jika pola ini berulang, siapa yang akan menanggung kerugian? 

 

Saatnya berpikir ulang. Swasembada sejati bukan sekadar soal berapa banyak dan luas yang kita tanam, tapi bagaimana kita bisa bertani tanpa merusak alam.  

_____________





Berita Purworejo

Counter Pengunjung