- Kunjungan Study Komparatif Komisi B DPRD Kabupaten Cilacap
- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
KWT Bruno Studi Tiru ke Banjarnegara: Belajar Tingkatkan Nilai Tambah Singkong

KWT Bruno Studi Tiru ke
Banjarnegara: Belajar Tingkatkan Nilai Tambah Singkong
______________
# CybersquadX BPP Bruno
# Bruno semakin menyala
______________
Bruno, Kamis 20 Februari 2025 –
Rombongan Kelompok Wanita Tani (KWT) se-Kecamatan Bruno yang memiliki potensi
besar dalam budidaya singkong hari ini melakukan studi tiru ke KWT Sinta Bara
di Desa Majalengka, Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara. Kunjungan ini
diinisiasi oleh Maryoto, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Karanggedang,
dan dikoordinasi oleh Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Bruno karena wilayah ini
memiliki potensi besar dalam pengolahan singkong, namun masih menghadapi
tantangan dalam meningkatkan nilai tambahnya. Studi ini bertujuan memperluas
wawasan dan meningkatkan nilai tambah singkong yang selama ini masih dihargai
sangat murah di tingkat petani.
KWT Sinta Bara dipilih sebagai
tujuan studi karena memiliki potensi serupa dengan KWT di Bruno, namun telah
berhasil menembus pasar global dengan berbagai inovasi pengolahan singkong.
Kiprah KWT Sinta Bara yang
Mendunia
Dalam sambutannya, Singgih,
Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten
Banjarnegara, menjelaskan bahwa KWT Sinta Bara sejak berdiri pada tahun 2012
telah konsisten dalam menjalankan usahanya. Konsistensi ini membuatnya
berkembang menjadi salah satu KWT unggulan yang telah meraih berbagai
penghargaan dari pemerintah maupun swasta. Dinas pun terus mendorong keberadaan
KWT karena perannya sangat strategis dalam program prioritas ketahanan pangan.
Ketua KWT Sinta Bara, Maesaroh,
membenarkan pernyataan tersebut. Menurutnya, keberhasilan KWT Sinta tidak lepas
dari kerja sama dan bimbingan berbagai pemangku kepentingan. KWT Sinta aktif
melakukan promosi melalui pameran dan edukasi, mulai dari anak usia dini hingga
SMA, agar masyarakat lebih mengenal manfaat tepung mokaf (Modified Cassava
Flour). Mereka juga kerap diundang oleh instansi pemerintah, swasta, dan pelaku
UMKM untuk berbagi pengalaman.
Tidak hanya memproduksi mokaf,
KWT Sinta Bara kini juga mengembangkan berbagai produk berbasis umbi-umbian
seperti tepung irut (garut), ketela ungu, talas, dan lainnya. Sejak awal
berdiri, fokus utama mereka adalah pengolahan pangan berbasis singkong,
mengingat potensinya yang melimpah namun memiliki harga jual rendah. Mokaf
sendiri dinilai lebih unggul dibandingkan tepung terigu karena bebas gluten,
yang dalam beberapa kasus dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Namun,
tantangan terbesar adalah mengubah kebiasaan masyarakat yang masih mengandalkan
tepung terigu. Oleh karena itu, KWT Sinta terus berinovasi, termasuk dengan
meluncurkan es krim mokaf pada 12 Januari 2025.
Bruno Siap Mengembangkan Inovasi
Singkong
Duwi Hartoto, Koordinator Balai
Penyuluhan Pertanian (BPP) Bruno, mengapresiasi kunjungan ini. Ia menegaskan
bahwa rombongan KWT se-Kecamatan Bruno datang ke tempat yang tepat untuk
belajar strategi pengolahan singkong. Kecamatan Bruno sendiri memiliki potensi
besar sebagai penghasil singkong, namun pengolahan mokaf di wilayah tersebut
masih perlu dikembangkan lebih lanjut.
Diharapkan, studi tiru ini dapat
memberikan inspirasi bagi KWT di Bruno untuk terus berinovasi dalam
meningkatkan nilai tambah singkong, sehingga dapat menjadi pijakan ekonomi yang
lebih kuat bagi masyarakat setempat.






