- Audit BPK Turun ke Lapangan, DKPP Purworejo Tunjukkan Transparansi Program Hibah
- Pelatihan Kader Zoonosis, Upayakan Prinsip One Health
- Evaluasi MT I Jadi Dasar, Kemiri Siap Genjot Tanam 2026
- HARGA BERAS DI PENGGILINGAN PADI PURWOREJO DEKATI HET, PASOKAN TERPANTAU STABIL
- Pembukaan Sekolah Lapang (SL) Kelapa Kelompok Tani Berkah Tani Milenial Desa Girigondo
- Penguatan Silaturahmi dan Sinergi Petani melalui Pertemuan KTNA dan Halal Bihalal Kecamatan Bener Tahun 2026 dalam Mendukung Pembangunan Pertanian Berkelanjutan
- Sekolah Lapang Kelapa 2026 Poktan Tanjung Sari, Kel Lugosobo, Kec Gebang
- SL Kelapa Kecamatan Grabag Tahun 2026 Upaya Tingkatkan Kapasitas Petani Kelapa Purworejo
- SL Kelapa Kecamatan Bagelen Tahun 2026 untuk amankan Produksi Kelapa Tetap Maksimal
- Akselerasi Sertifikasi Organik, KEP KOPRAL Purworejo Perkuat Administrasi dan Standar Budidaya
KTNA Kecamatan Bruno Bangkit Kembali : Siap Dukung Wujudkan Ketahanan Pangan Nasional

KTNA Kecamatan Bruno Bangkit Kembali
: Siap Dukung Wujudkan Ketahanan
Pangan Nasional
_____________
# Sutoyo : Penyuluh Pertanian
# Pegiat Literasi, Jurnalistik
dan Pemerhati Kebijakan Pembangunan Pertanian
# Bruno semakin menyala
_____________
Bruno, Rabu Kliwon 12 Februari 2025 – Setelah vakum
dalam beberapa tahun akibat kebijakan pembatasan kerumunan, Kelompok Tani
Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Bruno kembali menggelar pertemuan rutin yang
sempat terhenti. Bertempat di Aula Kecamatan Bruno, acara ini dihadiri oleh
lebih dari 25 peserta, termasuk seluruh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL)
Kecamatan Bruno, Petugas Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (POPT), serta
PPL Kehutanan.
Diinisasi oleh BPP Kecamatan
Bruno kegiatan ini menjadi momentum penting bagi para petani untuk kembali
memperkuat koordinasi, berbagi ilmu, dan menyusun strategi dalam menghadapi
tantangan pertanian. Selain itu pertemuan ini juga menjadi bagian dari upaya
percepatan pencapaian ketahanan pangan nasional yang ditargetkan sebelum tahun
2027.
Martina Dewi (PPL) menyampaikan
pemaparan mengenai potensi dan permasalahan umum yang dihadapi sektor pertanian
di Kecamatan Bruno. Ia menyoroti perlunya adaptasi terhadap teknologi pertanian
modern agar produktivitas meningkat dan kesejahteraan petani semakin baik.
Sugiyo (POPT) turut menambahkan
bahwa menjaga keseimbangan ekosistem menjadi faktor krusial dalam pertanian
berkelanjutan. Salah satu program yang sedang digalakkan adalah pemasangan
Rumah Burung Hantu (Rubuha) sebagai solusi alami dalam pengendalian hama tikus.
Dengan metode ini petani tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pestisida kimia
yang nyata-nyata dapat merusak lingkungan.
Dipandu oleh Duwi Hartoto selaku
Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), diskusi berlangsung cukup dinamis
dan menghasilkan beberapa kesepakatan penting yang tertuang dalam notulen rapat
:
1. Pertemuan KTNA kembali
diaktifkan secara rutin sebagai wadah komunikasi dan koordinasi antar
petani.
2. Struktur kepengurusan akan dilengkapi,
karena saat ini baru terdapat ketua saja.
3. Jadwal pertemuan rutin akan
ditentukan dalam pertemuan berikutnya, dengan opsi pertemuan selapanan (35 hari
sekali) atau bulanan.
4. Besaran iuran wajib akan
disepakati dalam pertemuan mendatang untuk mendukung operasional
organisasi.
5. KTNA akan difungsikan kembali
sebagai wadah kerja sama, pembelajaran bersama, dan advokasi petani dalam
menghadapi tantangan sektor pertanian.
Dengan kembalinya pertemuan rutin
KTNA diharapkan semangat kebersamaan dan gotong royong di kalangan petani
semakin kuat. KTNA tidak hanya menjadi tempat berbagi ilmu dan pengalaman
tetapi juga menjadi sarana bagi petani untuk menyuarakan aspirasi mereka dalam
menghadapi berbagai tantangan mulai dari harga komoditas, akses teknologi,
hingga kebijakan pertanian.
Selain itu keterlibatan aktif
para penyuluh dan pemerintah daerah diharapkan dapat mempercepat modernisasi
pertanian di Kecamatan Bruno. Dengan sinergi yang baik antara petani,
pemerintah, dan berbagai pihak terkait, visi ketahanan pangan yang dicanangkan
secara nasional bukan sekadar target tetapi menjadi kenyataan yang dapat
dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat.
Sebagaimana pepatah Jawa yang
mengatakan, “Memayu hayuning bawana, ambrasta dur hangkara”, yang berarti
mengusahakan kesejahteraan dunia dengan menyingkirkan keburukan. Melalui
kebangkitan KTNA Kecamatan Bruno, para petani berkomitmen untuk terus
berinovasi dan bersinergi dalam mencapai pertanian yang maju, mandiri, dan
berkelanjutan.






