Krida Itu Mulia, Sayangnya Mulia Tidak Identik dengan Sejahtera (Refleksi di Hari Krida Pertanian)

By DINPPKP 23 Jun 2025, 09:48:55 WIB Penyuluhan

Krida Itu Mulia, Sayangnya Mulia Tidak Identik dengan Sejahtera

 (Refleksi di Hari Krida Pertanian) 

______________

Sutoyo : Penyuluh Pertanian, Pegiat Literasi dan Pemerhati Filosofi Petani

______________

Petani itu tak pernah bertanya kapan ia dipuji. Ia hanya bertanya: kapan hujan turun. Karena bagi petani, keberkahan tak datang dari panggung, tapi dari tanah yang basah dan benih yang tumbuh.


Dan penyuluh (baca THL TBPP)—mereka berjalan diantara kata dan kenyataan. Tak membawa pedoman suci, tapi segenggam harapan dan lembaran catatan yang lusuh. Mereka tak punya sorotan tapi peta dalam kepalanya penuh arah: sawah dan ladang yang perlu disapa, petani yang perlu dikuatkan, dan musim yang harus ditaklukkan bersama.


Kata “krida” berasal dari akar bahasa Sanskerta kṛīḍā, yang dapat berarti permainan, gerak, atau pengabdian. Tapi bagi penyuluh, krida bukan permainan. Krida adalah laku.

Ia bukan pekerjaan administratif, tapi kerja batin, kerja diam-diam, kerja tanpa panggung.


Krida adalah saat penyuluh mendengarkan keluh kesah petani yang gagal panen, tanpa menjanjikan bantuan yang belum tentu turun.

Krida adalah saat petani tetap menanam, meski pupuk bersubsidi tak kunjung datang, dan harga panen terkadang hanya cukup untuk makan sampai panen berikutnya.


 Mengapa Yang Mulia Justru Sering Tersingkir? 


Dalam dunia yang mengukur keberhasilan dari angka-angka, pengabdian sering kali diposisikan sebagai pelengkap, bukan pelaku utama.

Petani dan Penyuluh dilabeli sebagai pengabdi dan atau pahlawan pangan—sebuah istilah yang terdengar mulia dan luhur, tapi tanpa disadari mengandung jebakan:


Karena mengabdi, maka tak perlu banyak menuntut. Karena mulia, maka tahanlah derita.


Tapi benarkah kemuliaan itu harus dibayar dengan  kemiskinan dan penderitaan ?

Benarkah menjadi “krida” berarti bersedia tak dianggap?


Kemuliaan bukan jaminan sejahtera.


Petani tetap saja antre pupuk. Penyuluh tetap mengisi laporan dengan laptop pribadi, naik motor sendiri,  kadang gaji (baca honor) tidak tepat hari. Diberi piagam saat acara formal, tapi tak masuk dalam sistem yang menjamin hidup di masa tua.


Dan ironinya mereka yang berdasi dan datang hanya saat panen raya, bisa duduk dalam forum besar, membahas “nasib petani” sambil minum kopi mahal yang tak mereka tanam.


Hari Krida Pertanian bukan hanya soal memperingati. Ia mestinya menjadi cermin: sejauh mana bangsa ini menghormati mereka yang menanam dan membimbing benih kehidupan.

Kalau hari ini kita memuja pengabdian tanpa menjamin kehidupan pengabdi, maka esok kita hanya mewarisi ladang kosong dan generasi yang lari pergi dan enggan meneruskan.


Di punggung para petani dan penyuluh, tertulis puisi paling sunyi:


 “Kami tak tercatat dalam sejarah besar, tapi kami bagian dari kehidupan sehari-hari."


 “Kami tak selalu disebut, tapi tanpa kami, yakinlah nasi pun tak kan pernah tersaji.”


Krida itu mulia. Tapi kemuliaan saja tak cukup.


Petani dan penyuluh tak butuh disembah, hanya ingin diapresiasi. Tak butuh pujian setahun sekali, hanya minta kehadiran negara—bukan hanya basa-basi, tapi kebijakan yang pasti. 


 “Jangan biarkan kata ‘pengabdian’ menjadi tameng untuk pengabaian. Karena mereka yang paling mengabdi, justru sering menjadi yang paling dilupakan.”


....wallohu  alam bishowab

_____________

# Purworejo, 23 Juni 2025





Berita Purworejo

Counter Pengunjung