Kolaborasi dengan Kampus IPB, Pemerintah Desa Krandegan Pasang Alat Pemantau Cuaca

Breaking News
- Banter Melaju Disosialisasikan di Kemejing, Warga Antusias Sambut Peluang Ternak Kambing Jawa Randu
- Tindaklanjut Pengaduan Warga Mengenai Peternakan Ayam
- Gapoktan Desa Pakisarum Gelar Sosialisasi eRDKK 2027, Pastikan Petani Akses Pupuk Subsidi
- Ubinan Padi Varietas Inpari 32 di Desa Gowong Tunjukkan Produktivitas Menjanjikan
- Jalan Usaha Tani (JUT) DKPP Tahun Anggaran 2026
- DKPP Lakukan Pengujian Sampel PSAT Pasca Idul Fitri 1447 H
- Refilling Nitrogen Cair untuk Mendukung Kegiatan Inseminasi Buatan Ternak
- Seleksi Hibah Ternak 2027 Dimulai, DKPP Purworejo Verifikasi Proposal dari 14 Kecamatan
- PEMKAB PURWOREJO DAN PERUM BULOG SIAP SALURKAN BANTUAN PANGAN BERAS DAN MINYAK GORENG ALOKASI FEBRUARI-MARET 2026
- Pemantauan Harga Bahan Pokok Penting Pasca HBKN Idul Fitri 1447H
Kolaborasi dengan Kampus IPB, Pemerintah Desa Krandegan Pasang Alat Pemantau Cuaca

Kolaborasi dengan Kampus IPB, Pemerintah Desa Krandegan Pasang Alat Pemantau Cuaca
Pemerintah Desa Krandegan terus berinovasi dalam mewujudkan tata kelola desa yang adaptif terhadap perubahan iklim dan berbasis teknologi. Salah satu langkah nyata yang dilakukan adalah dengan menjalin kerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB University) dalam pemasangan alat pemantau cuaca otomatis (Automatic Weather Station / AWS) di wilayah Desa Krandegan.
Pemasangan dilakukan pada hari ini, Senin (3/11) di lahan sawah di Desa Krandegan.
AWS ini berfungsi untuk merekam data cuaca secara real time, seperti suhu udara, kelembapan, curah hujan, arah angin, kecepatan angin, intensitas sinar matahari, dan beberapa parameter lain. Data tersebut dikirim otomatis ke server untuk dianalisa dan juga dapat diakses oleh Pemerintah Desa Krandegan dan warga melalui sistem digital yang telah terintegrasi.
Kepala Desa Krandegan, Dwinanto, menyampaikan bahwa pemasangan alat ini diharapkan dapat membantu petani dan masyarakat dalam mengambil keputusan yang lebih tepat terkait kegiatan pertanian dan mitigasi bencana. “Dengan adanya alat pemantau cuaca ini, kita bisa tahu kapan waktu terbaik untuk tanam, kapan potensi hujan tinggi, dan bagaimana mengantisipasi kondisi cuaca ekstrem. Ini salah satu langkah Kami menuju desa yang cerdas dan tanggap iklim” ujar Dwinanto.
Kolaborasi ini dilaksanakan bersama tim pengabdian masyarakat dari IPB University yang dipimpin oleh Dr. Idung Risdianto, S.Si., M.Sc. Dalam kegiatan tersebut, tim IPB juga memberikan pelatihan kepada perangkat desa dan kelompok tani mengenai cara membaca data cuaca serta memanfaatkannya untuk kepentingan pertanian dan pengelolaan lingkungan.
Menurut Dr. Idung Risdianto, pemasangan alat ini menjadi bagian dari komitmen IPB untuk menghadirkan inovasi sains yang berdampak langsung pada masyarakat desa. “Desa adalah laboratorium hidup. Dengan data cuaca yang akurat, masyarakat bisa lebih siap menghadapi perubahan iklim dan memanfaatkan informasi tersebut untuk meningkatkan produktivitas pertanian,” jelasnya.
Menariknya, hasil pemantauan cuaca dari AWS Desa Krandegan dapat dilihat secara langsung oleh masyarakat melalui website resmi Desa Krandegan di www.krandegan.id atau melalui tautan ke dashboard AWS di https://jtg.cwssibu.org/dashboard/aws-jtg25.
Data yang ditampilkan di sistem diperbarui secara berkala setiap 10 menit dan dapat digunakan oleh petani, pelajar, maupun warga untuk mengetahui kondisi cuaca aktual di wilayah Krandegan dan sekitarnya. Sistem juga bisa memprediksi cuaca dalam 10 hari ke depan. Keberadaan alat pemantau cuaca ini juga membuka peluang baru bagi pengembangan data desa berbasis sains, yang dapat dimanfaatkan dalam perencanaan pembangunan jangka panjang, seperti penataan lahan pertanian, pengelolaan sumber air, hingga kebijakan ketahanan pangan.
Langkah kolaboratif antara Pemdes Krandegan dan IPB University ini menjadi contoh nyata bahwa kemajuan desa tidak hanya bergantung pada dana pembangunan, tetapi juga pada kemampuan menjalin sinergi dengan lembaga pendidikan, riset, dan masyarakat luas.
Pemerintah Desa Krandegan berharap kolaborasi ini dapat terus berlanjut, tidak hanya di bidang lingkungan dan pertanian, tetapi juga dalam pengembangan desa digital dan inovasi berbasis data.
Pertanian Bayan






