Ketika Ladang Jadi Kelas, Tembakau Jadi Guru Petani Turus Buktikan Belajar Itu Asyik

By DINPPKP 15 Sep 2025, 08:16:49 WIB Penyuluhan
Ketika Ladang Jadi Kelas, Tembakau Jadi Guru  Petani Turus Buktikan Belajar Itu Asyik

Ketika Ladang Jadi Kelas, Tembakau Jadi Guru

Petani Turus Buktikan Belajar Itu Asyik

 

KEMIRI KEREN NEWS –– Siang itu, Jumat (12/9/2025), hamparan hijau daun tembakau di Desa Turus, Kecamatan Kemiri, tampak berkilau disapu cahaya matahari. Embun yang tersisa di ujung daun perlahan menguap, menyisakan aroma khas yang menenangkan. Satu per satu petani berdatangan, sebagian dengan caping, sebagian membawa buku catatan lusuh, tapi wajah mereka sama, penuh senyum dan semangat.

Hari itu bukan hari biasa. Lahan tembakau mereka berubah menjadi kelas terbuka, tempat belajar bersama yang disebut Sekolah Lapang Budidaya Tembakau. Tak ada papan tulis atau kursi berderet, hanya tanah, tanaman, dan ketulusan untuk menimba ilmu.

Acara berjalan semakin hidup karena dipandu dengan penuh keakraban oleh Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Kemiri, Umul Khasunah, SP., MAP. Dengan gaya yang ringan dan ramah, ia berhasil menjaga suasana tetap fokus namun tidak kaku. Petani bisa serius belajar, tapi tetap merasa santai dan terhibur.

“Belajar itu harus senang. Kalau senang, apapun ilmunya akan lebih mudah masuk,” tukasnya sambil tersenyum, disambut anggukan para peserta.

Kegiatan ini semakin istimewa dengan kehadiran tokoh-tokoh penting. Dari kalangan legislatif hadir Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Purworejo, Bapak Awan Yoga Kurniawan, serta Bapak H. Rujiyanto, S.Ag., MM. Dari desa, hadir Kepala Desa Turus, Bapak Heri, yang selama ini selalu mendukung kegiatan pertanian. Dan tentu saja, sosok yang paling ditunggu adalah Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Purworejo, Bapak Mulyanto, narasumber sekaligus sahabat para petani.

Kegiatan dimulai dengan pengamatan langsung di lahan tembakau. Para petani berjalan menyusuri barisan tanaman, mengamati batang, daun, hingga warna tanah. Masing-masing kelompok kemudian menyampaikan hasil pengamatan mereka.

Ada yang melaporkan pertumbuhan tanaman berjalan baik, ada juga yang jujur mengungkap kendala seperti daun menguning atau serangan ulat. Semua didengar, semua dicatat.

Sesekali terdengar candaan yang membuat suasana cair.

“Kalau daunnya kecil begini, kayaknya kurang pupuk, Pak. Atau mungkin kurang doa,” ujar salah satu petani, disambut tawa ramai.

Tawa itu tidak mengurangi keseriusan, justru membuat semua merasa lebih dekat. Inilah belajar dengan rasa kekeluargaan.

Setelah sesi lapangan, giliran Bapak Mulyanto membagikan ilmunya. Dengan gaya sederhana, ia menjelaskan pentingnya perawatan tembakau yang telaten.

“Petani harus jadi sahabat tanaman. Kalau ada bercak di daun, jangan ditunda. Kendalikan segera. Ingat, kualitas panen ditentukan oleh kualitas daun. Semakin sehat daunnya, semakin baik hasilnya,” tegasnya.

Ia juga memberi tips memilih bibit unggul, cara pemupukan yang tepat, hingga strategi menghadapi musim yang kadang tidak menentu. Para petani tampak antusias, ada yang mencatat, ada yang langsung bertanya.

Bukan hanya ilmu yang mengalir, tapi juga dukungan moril. Bapak Awan Yoga Kurniawan menyampaikan apresiasinya kepada petani.

“Saya bangga melihat semangat bapak-ibu. Belajar bersama seperti ini penting, karena petani yang maju bukan hanya rajin menanam, tapi juga mau terus menimba ilmu,” ucapnya dengan penuh semangat.

Sementara itu, Bapak H. Rujiyanto, S.Ag., MM menekankan peran penting pemerintah daerah.

“Tembakau adalah salah satu komoditas unggulan Purworejo. Kalau petani punya ilmu yang tepat, hasilnya akan lebih baik, kesejahteraan pun meningkat. Kami siap mendukung,” katanya.

Dari sisi lokal, Kepala Desa Turus, Bapak Heri, juga memberikan dorongan.

“Saya ingin kegiatan seperti ini jadi rutinitas. Desa Turus punya potensi besar. Kalau petani kita kompak dan mau terus belajar, desa ini bisa jadi contoh untuk daerah lain,” tuturnya.

Di sela-sela acara, beberapa peserta juga mengungkapkan kesan mereka. Salah satunya Pak Kusnan, anggota Kelompok Tani Sido Dadi, yang merasa kegiatan ini sangat mengasyikan.

“Belajar di lahan seperti ini terasa lebih asyik, karena langsung bisa melihat kondisi tanaman sendiri. Kalau ada masalah, bisa langsung ditanyakan ke narasumber. Jadi lebih cepat paham,” ujarnya sambil tersenyum.

Hal senada disampaikan Bu Sunarti, petani tembakau yang baru pertama kali ikut sekolah lapang.

“Rasanya menyenangkan sekali. Biasanya saya cuma ikut dengar cerita, sekarang bisa praktik sambil didampingi. Apalagi suasananya santai, ada canda tawa juga,” katanya dengan antusias.

Di akhir acara, suasana terasa hangat. Para petani tidak hanya membawa pulang ilmu, tapi juga rasa percaya diri baru. Mereka sadar bahwa tembakau bukan sekadar tanaman, melainkan sumber kehidupan yang harus dirawat dengan pengetahuan dan kebersamaan.

Sekolah Lapang hari itu bukan hanya tentang budidaya, tapi juga tentang menyatukan langkah antara petani, pemerintah, dan asosiasi. Semua hadir, semua saling mendukung.

Dan di bawah sinar matahari sore, lahan tembakau yang tadi jadi kelas kembali menjadi ladang kehidupan. Tapi ada yang berbeda, kini, setiap daun tembakau seakan menyimpan cerita, ilmu, dan semangat baru dari para petani Desa Turus. Semoga.–





Berita Purworejo

Counter Pengunjung