Ketahanan Pangan di Era Krisis Iklim: Antara Kebutuhan dan Kesadaran

By DINPPKP 05 Jun 2025, 19:21:35 WIB Penyuluhan
Ketahanan Pangan di Era Krisis Iklim: Antara Kebutuhan dan Kesadaran

*Ketahanan Pangan di Era Krisis Iklim: Antara Kebutuhan dan Kesadaran*

______________

# Sutoyo : Penyuluh Pertanian, Pegiat Literasi dan Pemerhati Pertanian Berkelanjutan

# _CybersquadX_ BPP Bruno

# Bruno _Come Back on Fire_ 

______________

Hari ini, Kamis 5 Juni 2025 dan disetiap tanggal 5 Juni, dunia memperingati Hari Lingkungan Hidup sebagai pengingat pentingnya menjaga bumi agar tetap lestari. Tahun ini, isu yang semakin mendesak adalah bagaimana ketahanan pangan menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin nyata. Krisis iklim bukan hanya soal naiknya suhu bumi atau naiknya permukaan laut, tetapi langsung berdampak pada sumber pangan yang menopang kehidupan manusia.


*Krisis Iklim dan Dampaknya pada Pertanian*


Perubahan iklim dapat menyebabkan pola cuaca ekstrem, seperti kekeringan panjang, banjir, dan badai yang lebih sering terjadi. Sebagaimana dikatakan oleh Pakar Lingkungan dari IPCC _(Intergovernmental Panel on Climate Change),_ “Perubahan iklim memperburuk kerentanan sistem pangan global, dan akan meningkatkan risiko kegagalan panen di banyak wilayah” (IPCC, 2022).


Di Indonesia, para petani menghadapi musim tanam yang tidak menentu, curah hujan yang tak dapat diprediksi, hingga serangan hama yang meningkat. Hasil panen yang menurun akibat kekeringan atau banjir berimbas langsung pada pengurangan pasokan pangan. Lahan pertanian yang mengalami degradasi juga mengancam kemampuan produksi dalam jangka panjang.


*Ketahanan Pangan: Definisi dan Tantangan*


Menurut _Food and Agriculture Organization_ (FAO), ketahanan pangan berarti kondisi ketika semua orang, setiap saat, memiliki akses fisik dan ekonomi yang cukup untuk mendapatkan makanan bergizi dan aman (FAO, 2020). Namun, dalam kondisi krisis iklim, keempat pilar ketahanan pangan—ketersediaan, akses, pemanfaatan, dan stabilitas—semakin sulit dipenuhi.


Misalnya, dibeberapa daerah rawan bencana seperti Nusa Tenggara Timur, ketidakpastian iklim sudah menyebabkan gagal panen berulang. Ini bukan hanya soal kuantitas pangan, tetapi juga kualitas dan ketersediaan jangka panjang yang terancam.


*Menjawab Krisis: Pertanian Berkelanjutan dan Inovasi*


Kunci menghadapi ancaman ini adalah beralih ke praktik pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan dan adaptif iklim. Organik, _agroforestri_ , dan konservasi tanah bukan hanya sekadar tren, tetapi suatu kebutuhan yang mendesak. Sebagaimana dikatakan oleh Prof. Johan Rockström, pakar sistem bumi dari _Stockholm Resilience Centre,_ “Pertanian yang berkelanjutan tidak hanya memproduksi pangan, tapi juga menjaga ekosistem yang menopangnya” (Rockström, 2017).


Teknologi juga berperan penting. Irigasi pintar, varietas tanaman tahan panas dan kekeringan, serta penggunaan data cuaca berbasis _AI_ mulai diterapkan di beberapa wilayah Indonesia. Pemerintah dan komunitas petani harus bersinergi dalam mengadopsi inovasi ini agar dapat meningkatkan ketahanan pangan secara nyata.


*Kesadaran sebagai Kunci Perubahan*


Lebih daripada teknologi dan kebijakan, kesadaran kolektif masyarakat sangatlah menentukan masa depan pangan dan lingkungan. Konsumen yang mulai memilih produk lokal, mengurangi limbah makanan, dan mendukung sistem pertanian berkelanjutan menjadi bagian dari solusi.


Menurut Dr. Vandana Shiva, aktivis lingkungan dan ahli pangan dari India, “Kesadaran akan hubungan manusia dengan alam adalah pondasi perubahan sistem pangan yang adil dan lestari” (Shiva, 2016).


Pendidikan lingkungan di sekolah dan kampanye publik harus terus diperkuat agar masyarakat semakin memahami betul bagaimana perubahan iklim dan pola konsumsi dapat mempengaruhi ketahanan pangan.


Ketahanan pangan di era krisis iklim bukan hanya soal produksi di ladang, tetapi bagaimana kita semua, sebagai petani, konsumen, dan pembuat kebijakan, menjaga bumi agar tetap subur dan lestari. Dengan sinergi antara teknologi, kebijakan yang berpihak, dan kesadaran sosial, kita bisa mengatasi tantangan ini.


Sebagaimana pesan Hari Lingkungan Hidup tahun ini: menjaga alam berarti menjaga masa depan pangan kita bersama.

______________

# _dari berbagai sumber_





Berita Purworejo

Counter Pengunjung