Kelompok Wanita Tani (KWT) \"Srikandi\" desa Puspo Berdayakan Ketela Pohon dengan Produksi Mocaf

By DINPPKP 11 Mar 2025, 08:06:09 WIB Penyuluhan
Kelompok Wanita Tani (KWT) \"Srikandi\" desa Puspo Berdayakan Ketela Pohon dengan Produksi Mocaf

Kelompok Wanita Tani (KWT) "Srikandi" desa Puspo Berdayakan Ketela Pohon dengan Produksi Mocaf 

______________

# CybersquadX BPP Bruno

# Bruno semakin menyala

______________

Puspo, 10 Maret 2025 – Ditengah tantangan harga ketela pohon yang anjlok hingga Rp 700 per kilogram dan bahkan sulit terjual, Kelompok Wanita Tani (KWT) Srikandi Puspo yang diketuai oleh Ibu Sulaemah tak tinggal diam. Mereka berinisiatif mengolah ketela menjadi tepung Modified Cassava Flour (Mocaf) sebagai solusi menyelamatkan hasil produksi dan tentunya meningkatkan nilai tambah komoditas lokal ketela pohon. 

 

Kegiatan ini diinisiasi oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Wibi desa Puspo Musti Widyaningrum, A.Md. dan mendapat dukungan penuh dari squad  PPL BPP Bruno yang dikomandani oleh Duwi Hartoto, S.ST. Meskipun sedang menjalani ibadah puasa, para anggota KWT tetap bersemangat mengikuti pelatihan pembuatan Mocaf yang berlangsung di Desa Puspo, Kecamatan Bruno. 

 

Menurut Musti Widyaningrum Desa Puspo dikenal sebagai salah satu daerah penghasil ketela pohon potensial, dengan luas lahan tanam mencapai 12 hektare dan produktivitas rata-rata 283 kuintal per hektare. Namun harga jual ketela segar yang sangat rendah membuat petani kesulitan memperoleh keuntungan. 

 

Beberapa petani sebelumnya telah mencoba mengolah ketela menjadi produk seperti gaplek dan tiwul. Meskipun gaplek dihargai Rp. 7000 per kilogram namun jumlah produksi masih terbatas. Melihat kondisi ini PPL Puspo merasa perlu mencarikan solusi yang lebih efektif salah satunya melalui pelatihan pembuatan tepung Mocaf yang memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan ketela segar.  Pengalaman studi tiru di Banjarnegara harga mocaf mencapai Rp. 3000 per 250 gr (Rp. 12.000 per kg).

 

Dalam pelatihan ini, Maryoto yang juga PPL dari Bruno sekaligus menjadi narasumber menjelaskan bahwa ketela memiliki banyak manfaat dalam berbagai sektor mulai dari pangan, pakan ternak, hingga industri. 

 

"Sebagai pangan, ketela dapat diolah menjadi berbagai jenis kudapan. Untuk pakan, ketela bisa dimanfaatkan baik dari daun maupun limbah kulitnya. Sementara di sektor industri, ketela digunakan sebagai bahan baku tapioka yang berguna dalam pembuatan lem, pencelupan tekstil, hingga produksi gula cair. Bahkan, ketela juga bisa menjadi bahan baku plastik ramah lingkungan yang dapat terurai dalam waktu tiga bulan," jelas Maryoto. 

 

Pelatihan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi petani di Desa Puspo untuk meningkatkan kesejahteraan mereka melalui diversifikasi produk berbasis ketela pohon. Dengan inovasi seperti Mocaf, para petani tidak hanya bisa menghindari harga jual ketela yang rendah, tetapi juga membuka peluang pasar yang lebih luas di industri pangan dan manufaktur.

______________





Berita Purworejo

Counter Pengunjung