- Kunjungan Study Komparatif Komisi B DPRD Kabupaten Cilacap
- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
Kelompok Wanita Tani (KWT) \"Srikandi\" desa Puspo Berdayakan Ketela Pohon dengan Produksi Mocaf

Kelompok Wanita Tani (KWT)
"Srikandi" desa Puspo Berdayakan Ketela Pohon dengan Produksi
Mocaf
______________
# CybersquadX BPP Bruno
# Bruno semakin menyala
______________
Puspo, 10 Maret 2025 – Ditengah
tantangan harga ketela pohon yang anjlok hingga Rp 700 per kilogram dan bahkan
sulit terjual, Kelompok Wanita Tani (KWT) Srikandi Puspo yang diketuai oleh Ibu
Sulaemah tak tinggal diam. Mereka berinisiatif mengolah ketela menjadi tepung
Modified Cassava Flour (Mocaf) sebagai solusi menyelamatkan hasil produksi dan
tentunya meningkatkan nilai tambah komoditas lokal ketela pohon.
Kegiatan ini diinisiasi oleh
Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Wibi desa Puspo Musti Widyaningrum, A.Md. dan
mendapat dukungan penuh dari squad PPL
BPP Bruno yang dikomandani oleh Duwi Hartoto, S.ST. Meskipun sedang menjalani
ibadah puasa, para anggota KWT tetap bersemangat mengikuti pelatihan pembuatan
Mocaf yang berlangsung di Desa Puspo, Kecamatan Bruno.
Menurut Musti Widyaningrum Desa
Puspo dikenal sebagai salah satu daerah penghasil ketela pohon potensial,
dengan luas lahan tanam mencapai 12 hektare dan produktivitas rata-rata 283
kuintal per hektare. Namun harga jual ketela segar yang sangat rendah membuat
petani kesulitan memperoleh keuntungan.
Beberapa petani sebelumnya telah
mencoba mengolah ketela menjadi produk seperti gaplek dan tiwul. Meskipun
gaplek dihargai Rp. 7000 per kilogram namun jumlah produksi masih terbatas.
Melihat kondisi ini PPL Puspo merasa perlu mencarikan solusi yang lebih efektif
salah satunya melalui pelatihan pembuatan tepung Mocaf yang memiliki nilai jual
lebih tinggi dibandingkan ketela segar.
Pengalaman studi tiru di Banjarnegara harga mocaf mencapai Rp. 3000 per
250 gr (Rp. 12.000 per kg).
Dalam pelatihan ini, Maryoto yang
juga PPL dari Bruno sekaligus menjadi narasumber menjelaskan bahwa ketela
memiliki banyak manfaat dalam berbagai sektor mulai dari pangan, pakan ternak,
hingga industri.
"Sebagai pangan, ketela
dapat diolah menjadi berbagai jenis kudapan. Untuk pakan, ketela bisa
dimanfaatkan baik dari daun maupun limbah kulitnya. Sementara di sektor
industri, ketela digunakan sebagai bahan baku tapioka yang berguna dalam
pembuatan lem, pencelupan tekstil, hingga produksi gula cair. Bahkan, ketela
juga bisa menjadi bahan baku plastik ramah lingkungan yang dapat terurai dalam
waktu tiga bulan," jelas Maryoto.
Pelatihan ini diharapkan menjadi
langkah awal bagi petani di Desa Puspo untuk meningkatkan kesejahteraan mereka
melalui diversifikasi produk berbasis ketela pohon. Dengan inovasi seperti
Mocaf, para petani tidak hanya bisa menghindari harga jual ketela yang rendah,
tetapi juga membuka peluang pasar yang lebih luas di industri pangan dan
manufaktur.
______________






