Kearifan Alam Membentuk Budaya Ketahanan Pangan

By DINPPKP 25 Apr 2025, 11:16:28 WIB Penyuluhan

Kearifan Alam Membentuk Budaya Ketahanan Pangan

 (Feature Storytelling) 

______________

# Sutoyo : Penyuluh Pertanian, Pegiat Literasi dan Pemerhati Budaya Petani

# CybersquadX BPP Bruno

# Bruno Gasspooll on Fire 

______________

Bruno, 24 April 2023__Dibalik keindahan alam pegunungan yang membentang di Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, tersembunyi sebuah cerita budaya yang unik dan hangat: budaya menjamu tamu dengan makanan berat. Ini bukan sekadar sopan santun melainkan cerminan kearifan lokal yang dibentuk oleh alam dan diperkuat oleh nilai-nilai sosial masyarakat.


Wilayah Bruno yang didominasi oleh pegunungan dan jalan-jalan yang curam menuntut warganya untuk memiliki stamina dan daya tahan tinggi. Aktivitas harian seperti bertani di lereng, menempuh perjalanan kaki antar desa, hingga menghadapi cuaca pegunungan yang tak menentu, menjadikan kebutuhan energi harian masyarakat jauh lebih besar dibandingkan dengan mereka yang tinggal di dataran rendah. Maka tidak heran makanan berat berbasis karbohidrat tinggi, protein, dan hasil bumi lokal menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.


Menariknya budaya makan berat ini meluas bukan hanya untuk keluarganya sendiri tapi juga untuk siapa saja yang berkunjung — terutama para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). Hampir dapat dipastikan setiap kali PPL datang berkunjung ke desa mereka akan "dipaksa" makan. Bukan karena paksaan kasar melainkan karena adat memuliakan tamu yang begitu kuat dipegang oleh masyarakat Bruno. Makanan bukanlah sekadar suguhan tapi simbol penerimaan, penghargaan dan bahkan persaudaraan.


Akibatnya? Bagi PPL yang mencoba sesumbar sedang diet ketat maka bersiaplah untuk menghadapi tantangan yang serius. Sehari bisa makan berat dua hingga tiga kali — sebanyak jumlah kunjungan yang dilakukan. Tidak mengherankan bila ada anekdot jenaka di kalangan PPL Bruno: "RB — Rai Badhog." Sebuah istilah penuh canda tapi juga penuh makna: siapa pun yang sering turun ke desa-desa di pegunungan Bruno maka akan kembali dengan stempel "wajah pemakan berat atau simuka rakus".


Lucunya lagi fenomena ini menjadi siklus tahunan. Setelah sebulan berpuasa dan berat badan turun 2-5 kg, maka cukup seminggu di Bruno untuk kembali  menjadi naik 5-8 kg. Bukan karena tidak disiplin menjaga dietnya tetapi karena budaya makan berat di Bruno terlalu sulit untuk dihindari — terlalu hangat, terlalu ramah, dan terlalu lezat untuk dilewatkan.


Kisah ini bukan sekadar humor atau keluhan kecil. Ini adalah potret bagaimana kearifan alam memengaruhi budaya: medan berat menghasilkan masyarakat yang kuat, dan masyarakat yang kuat mengekspresikan kekuatannya lewat keramahan dalam bentuk makanan. Bagi para PPL ini adalah tantangan sekaligus kehormatan. Sebab dibalik setiap piring nasi dan lauk yang tersaji, ada cinta, kepercayaan, dan persaudaraan dari masyarakat pegunungan....wallohu alam bishowab.






Berita Purworejo

Counter Pengunjung