Jangan Remehkan Singkong! KWT Loning Buktiin, Dari Singkong Jadi Cuan Manis

By DINPPKP 19 Sep 2025, 12:52:37 WIB Penyuluhan
Jangan Remehkan Singkong! KWT Loning Buktiin, Dari Singkong Jadi Cuan Manis

Jangan Remehkan Singkong! KWT Loning Buktiin, Dari Singkong Jadi Cuan Manis

 

KEMIRI KEREN NEWS –– Suasana sekretariat KWT Kenanga, Desa Loning, Kecamatan Kemiri, pada Kamis (18/9) terasa berbeda. Hari itu ibu-ibu Kelompok Wanita Tani (KWT) Loning berkumpul bukan untuk rapat, tapi untuk belajar bikin jajanan kekinian dari bahan lokal kroket singkong dan talam ubi ungu.

Pelatihan ini menghadirkan narasumber Eny, praktisi kuliner yang sudah malang-melintang di dunia olahan pangan lokal. Selain itu, hadir juga perwakilan Kabid Pangan, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo, Hindry, Koordinator BPP Kecamatan Kemiri, Umul Khasunah, serta Ibu Ketua TP PKK Desa Loning yang ikut memberi dukungan penuh.

Pelatihan dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan keterampilan ibu-ibu anggota KWT dalam mengolah hasil pertanian lokal menjadi produk olahan bernilai ekonomi. Singkong dan ubi ungu yang selama ini hanya dikonsumsi sebagai pangan harian, diperkenalkan dalam bentuk olahan baru agar memiliki daya tarik lebih dan berpotensi menjadi produk unggulan desa.

Koordinator BPP Kecamatan Kemiri menekankan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata pendampingan kepada kelompok wanita tani. “Olahan pangan lokal bukan hanya soal makanan, tetapi juga soal kemandirian. Jika ibu-ibu bisa mengolah dengan baik, produk ini bisa dipasarkan dan membantu meningkatkan penghasilan keluarga,” jelasnya.

Perwakilan Kabid Pangan, Hindry, menegaskan bahwa singkong dan ubi ungu memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk unggulan desa. “Singkong dan ubi ungu bukan hanya makanan tradisional. Jika dikemas dan dipasarkan dengan baik, bisa menjadi produk bernilai tinggi. Inilah salah satu cara kita mendorong ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga,” paparnya.

Senada dengan itu, Ketua TP PKK Desa Loning juga memberikan apresiasi kepada KWT. “Kami bangga dengan ibu-ibu KWT Loning yang mau belajar dan terus bersemangat. Harapan kami, pelatihan ini tidak berhenti di sini saja, tapi berlanjut pada produksi nyata yang bisa dipasarkan. Kalau perlu, desa akan membantu memfasilitasi promosi produk,” katanya dengan penuh semangat.

Pelatihan dilakukan secara interaktif dan praktik langsung. Narasumber Eny menjelaskan secara detail mulai dari pemilihan bahan, teknik mengolah singkong agar tidak cepat basi, cara membuat adonan kroket dengan tekstur renyah, hingga meracik talam ubi ungu yang legit dan cantik secara tampilan. Peserta tidak hanya mendengarkan, tetapi juga mencoba mengolah sendiri dengan bimbingan narasumber.

“Dengan inovasi sederhana seperti ini, bahan pangan lokal bisa naik kelas. Jangan hanya dikonsumsi sehari-hari, tapi bisa juga jadi peluang usaha. Yang penting adalah konsistensi dalam menjaga kualitas,” ujar Eny dalam sesi praktek.

Kenapa harus belajar bikin olahan lokal? Karena singkong dan ubi ungu itu sebenarnya harta karun dapur desa. Selama ini seringnya cuma direbus atau digoreng, padahal kalau diolah jadi kroket atau talam bisa naik kelas jadi jajanan premium. “Kuncinya ada di kreativitas. Kalau kemasannya menarik dan rasanya enak, pasar pasti terbuka,” kata Eny sambil memandu peserta.

Bukan sekadar teori, para peserta langsung praktik. Ada yang sibuk mengulek singkong, ada yang fokus bikin adonan talam dengan santan dan gula, bahkan ada yang iseng menambahkan topping keju biar lebih modern. Suasana penuh tawa karena hasil buatan pertama tentu belum semuanya sempurna.

“Ternyata nggak susah, cuma butuh sabar. Kalau dilatih terus, bisa banget jadi usaha kecil-kecilan,” ujar salah satu peserta dengan semangat.

Hasil olahan yang dibuat pun dinilai enak, dengan harga jual terjangkau sekitar Rp2.000–3.000 per potong, sehingga cocok dijadikan peluang usaha rumahan.

Salah satu peserta, Bu Alifah, mengaku senang bisa belajar resep baru. “Ternyata gampang, rasanya enak, dan kalau dijual di pasar pasti laris,” ujarnya. Peserta lain, Bu Wati, menambahkan, “Modalnya kecil tapi bisa menambah penghasilan keluarga.”

Sementara itu, Bu Yatimah, mengaku terkejut dengan hasilnya. “Awalnya saya kira susah, ternyata gampang. Rasanya enak sekali, anak-anak di rumah pasti suka. Kalau dijual di pasar, pasti laris karena harganya juga terjangkau,” ujarnya sambil tersenyum.

Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan KWT Loning semakin terampil dalam mengolah bahan pangan lokal sehingga bisa menghadirkan produk pangan yang sehat, lezat, dan memiliki nilai jual. Produk seperti kroket singkong dan talam ubi ungu diharapkan mampu menjadi alternatif jajanan yang diminati pasar sekaligus memperkenalkan potensi desa ke masyarakat luas.

Pelatihan ini menjadi bukti bahwa dengan pendampingan yang tepat, pangan lokal bisa menjadi sumber kekuatan ekonomi keluarga sekaligus bagian dari ketahanan pangan nasional. Semoga.–





Berita Purworejo

Counter Pengunjung