- Kunjungan Study Komparatif Komisi B DPRD Kabupaten Cilacap
- DKPP PURWOREJO PERKUAT KETAHANAN PANGAN MASYARAKAT MELALUI OPTIMALISASI RUMAH PANGAN KITA (RPK)
- RAT Koperasi SEMBADA DKPP Kabupaten Purworejo Tahun 2026
- KTNA Kecamatan Bruno Gelar Halal Bihalal Bersama Kelompok Tani Rukun Tani Gowong
- Genjot Produksi Cabai Rawit, Kunjungan Lapang di Gowong Optimistis Tembus 3,7 Ton
- Pertemuan Koordinasi dan Sosialisasi Pengembangan Kawasan Cabai Tahun Anggaran 2026
- SIDANG I KOMISI IRIGASI KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2026
- Anak Kambing Kurus Bawa ke Puskeswan, akan Kami Urus
- “PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN DI PASAR TRADISIONAL - DKPP PURWOREJO PASTIKAN BAHAN PANGAN BEBAS ZAT BERBAHAYA”
- PERCEPAT MODERNISASI IRIGASI, BBWS SERAYU OPAK GELAR RAKOR REHABILITASI DAERAH IRIGASI WADASLINTANG TIMUR
Jalan Usaha Tani di Lereng Curam Gunung Condong Bantu Mobilitas Petani

Jalan Usaha Tani di Lereng Curam Gunung Condong Bantu Mobilitas Petani
Perjuangan Tim PPL Bruno Menembus Lereng Tajam Demi Data Luas Tambah Tanam
_____________
# Sutoyo : Penyuluh Pertanian, Pegiat Literasi dan Pemerhati Pemberdayaan Petani
# CybersquadX BPP Bruno
#Bruno Gasspool on Fire
_____________
Bruno, 15 April 2025 – Akses jalan usaha tani di Desa Gunung Condong, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, terbukti menjadi solusi vital bagi petani yang beraktivitas di tengah medan berat. Meski berada pada kemiringan lebih dari 45° atau 100% , jalan setapak ini tetap menjadi tumpuan utama mobilitas warga baik untuk aktivitas sehari-hari sebagai petani maupun mengangkut hasil panen dari lereng ke rumah.
Kondisi seperti ini benar-benar dirasakan langsung oleh Tim Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Bruno saat melakukan kegiatan pengumpulan data Luas Tambah Tanam (LTT) di kawasan tersebut. Dikomandani oleh Koordinator BPP Bruno Duwi Hartoto, S.S.T, tim harus menembus jalur licin, sempit dan curam di tengah sawah terasering yang rawan longsor, terutama di musim penghujan seperti saat ini.
“Kami harus ekstra hati-hati. Jalan sempit, tanah licin, dan tanjakan tajam menjadi tantangan setiap jengkal perjalanan. Tetapi data LTT tetap harus didapat, karena data riil itu menjadi bagian dari tanggung jawab pelaporan” ujar Duwi.
Tampak foto dokumentasi menunjukkan medan yang menantang, namun tetap dilalui petani dengan berjalan kaki maupun menggunakan sepeda motor modifikasi.Mereka membawa alat pertanian, pupuk, hingga hasil panen, menjadikan jalan usaha tani sebagai denyut ekonomi desa di lereng pegunungan.
Jalan ini bukan sekadar infrastruktur penunjang, melainkan bagian dari ekosistem pertanian. Berkat keberadaannya, petani lebih mudah mengakses lahan, mempercepat proses tanam dan panen, serta menekan biaya distribusi. Dampaknya terasa langsung dalam peningkatan produktivitas dan efisiensi usaha tani.
Namun medan berat bukan hanya dialami petani. Bagi petugas teknis lapangan seperti penyuluh, pengumpulan data LTT di daerah pegunungan seperti ini mengandung risiko tinggi. Dimusim hujan bahaya terpeleset, jalan longsor, bahkan kehilangan sinyal komunikasi menjadi ancaman nyata. Meski demikian komitmen terhadap data dan pelayanan menjadi pendorong utama untuk terus melanjutkan tugas.
“Ini bukan sekadar mencatat angka. Ini bagian dari menjaga keberlanjutan pangan kita dari hulu,” pungkas Duwi.






