- Hari Terakhir Pelayanan Keswan di Bulan Suci Ramadhan INi
- Upaya Percepatan Penurunan Stunting di Wilayah Cangkrep Lor Kabupaten Purworejo
- Gerdal OPT Walangsangit di KT Semi Gintungan, Gebang
- Rakor Pemantapan Ketahana Pangan DKPP Bersama KADISHANPAN JATENG
- Meski Sedang Puasa, Pelayanan Keswan DKPP Tetap Berjalan
- Menjaga Keamanan Bahan Pangan Asal Hewan, DKPP Laksanakan Pengawasan
- KTNA Kecamatan Purworejo Perkuat Barisan: Susun Pengurus Baru dan Rencana Kerja Strategis 2026
- Antisipasi Kemarau Panjang, Krandegan Tambah Pompa Tenaga Surya 15 PK
- Dari Petak 2,5 Meter, Terbaca Potensi Panen Padi Petani Kedungpomahankulon
- Harga Bawang Merah Bikin Nangis? Tanam Sendiri di Pekarangan, Mengapa Tidak?
Investigasi Penyakit Lumphy Skin Disease (LSD) di Kabupaten Purworejo

Investigasi Penyakit Lumphy Skin Disease (LSD) di Kabupaten Purworejo
Pada hari Kamis, tanggal 05 Januari 2023 Tim Bidang Keswan dan Kesmavet Bersama dengan Tim dari Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates dan juga PPL Kecamatan Bagelan, Banyuurip serta Kemiri telah melakukan investigasi terhadap kasus penyakit Lumphy Skin Disease (LSD) di Kabupaten Purworejo.
LSD adalah Penyakit yang disebabkan oleh virus famili Poxvidae yang menyebabkan lesi / kerusakan pada kulit dan dapat menyebabkan kematian akibat infeksi sekunder. Penyakit ini dapat menyebar melalui serangga penghisap darah, seperti nyamuk dan lalat, sehingga rentan berdampak pada peternak rakyat. Kerugian ekonomi dapat disebabkan akibat diantaranya terjadi penurunan produksi susu dan dapat menyebabkan gangguan reproduksi pada sapi jantan maupun betina. LSD dikenal sebagai ancaman besar bagi ternak sapi dengan dampak substansial terhadap mata pencaharian dan ketahanan pangan, terutama bagi para peternak kecil. LSD termasuk dalam daftar penyakit OIE (Office International des Epizooties) yang memiliki potensi penyebaran yang cepat dan memiliki dampak yang signifikan untuk produktivitas dan perdagangan ternak sapi.
Penularan LSD dapat dipahami dengan gambar dibawah ini:

|
Penyebaran jarak jauh |
|
Penyebaran jarak pendek |

![]() |
|
Hewan tidak terinfeksi |
|
Hewan terinfeksi |
|
Caplak terinfeksi |
|
Nyamuk terinfeksi |
|
Lalat terinfeksi |
|
Virus LSD |
|
Jarum suntik |
|
Transportasi sapi jarak jauh |
Gejala klinis LSD dapat bervariasi mulai yang subklinis sampai dengan gejala yang sangat parah. Namun tidak ditemukan perbedaan virulensi antara strain LSD yang berbeda.
Gejala klinis yang dapat diamati adalah:
- Demam sampai dengan 41˚C
- Penurunan produksi susu pada sapi yang sedang laktasi
- Depresi, nafsu makan menurun dan berat badan menurun
- salivasi yang berlebihan
- Nodul-nodul dengan diameter 2-5 cm pada kulit, terutama pada kepala, leher, limb, ambing, alat genitalia, dan perineum dalam waktu 48 jam setelah tanda demam. Nodul-nodul ini circumscribed, keras, bulat dan meninggi, pada kulit, jaringan subkutan, bahkan otot.
- Nodul yang besar dapat nekrotik dan akhirnya fibrotic dan bertahan sampai dengan beberapa bulan (sitfasts); bekas luka dapat bertahan sampai sangat lama. Nodul-nodul yang kecil bisa saja sembuh tanpa menimbulkan dampak
- Miasis pada nodul dapat terjadi
- Sapi jantan bisa infertile secara temporal atau permanen
- Sapi bunting bisa abortus dan anestrus untuk beberapa bulan


Kerugian yang dialami :
- Hingga 45% dari kelompok ternak bisa terinfeksi dan tingkat mortalitas bisa mencapai 10%.
l emasiasi (kehilangan kondisi tubuh karena tidak mau makan);
l kehilangan produksi susu temporer atau permanen;
- penurunan atau kehilangan seluruhnya fertilitas pada sapi jantan dan sapi betina;
- keguguran; dan
l kerusakan kulit yang permanen
Pencegahan penyakit ini dapat dilakukan dengan Vaksinasi dan Pengendalian vector. Pengendalian vector dapat dilakukan dengan pengasapan (fogging), pemasangan pelindung pada kendang hewan, embatasan tempat berkembangbiak vektor, seperti sumber air, lumpur limbah dan kotoran kandang, dan memperbaiki drainase di peternakan.







