Investigasi Penyakit Lumphy Skin Disease (LSD) di Kabupaten Purworejo

By DINPPKP 30 Jan 2023, 13:07:12 WIB Peternakan dan Keswan
Investigasi Penyakit Lumphy Skin Disease (LSD) di Kabupaten Purworejo

Investigasi Penyakit Lumphy Skin Disease (LSD) di Kabupaten Purworejo

Pada hari Kamis, tanggal 05 Januari 2023 Tim Bidang Keswan dan Kesmavet Bersama dengan Tim dari Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates dan juga PPL Kecamatan Bagelan, Banyuurip serta Kemiri telah melakukan investigasi terhadap kasus penyakit Lumphy Skin Disease (LSD) di Kabupaten Purworejo.

LSD adalah Penyakit yang disebabkan oleh virus famili Poxvidae yang menyebabkan lesi / kerusakan pada kulit dan dapat menyebabkan kematian akibat infeksi sekunder. Penyakit ini dapat menyebar melalui serangga penghisap darah, seperti nyamuk dan lalat, sehingga rentan berdampak pada peternak rakyat. Kerugian ekonomi dapat disebabkan akibat diantaranya terjadi penurunan produksi susu dan dapat menyebabkan gangguan reproduksi pada sapi jantan maupun betina. LSD dikenal sebagai ancaman besar bagi ternak sapi dengan dampak substansial terhadap mata pencaharian dan ketahanan pangan, terutama bagi para peternak kecil. LSD termasuk dalam daftar penyakit OIE (Office International des Epizooties) yang memiliki potensi penyebaran yang cepat dan memiliki dampak yang signifikan untuk produktivitas dan perdagangan ternak sapi.

Penularan LSD dapat dipahami dengan gambar dibawah ini:

 

Penyebaran jarak jauh

Penyebaran jarak pendek

 

 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hewan tidak terinfeksi

Hewan terinfeksi

Caplak terinfeksi

Nyamuk terinfeksi

Lalat terinfeksi

Virus LSD

Jarum suntik

Transportasi sapi jarak jauh

 

                      

                                               

Gejala klinis LSD dapat bervariasi mulai yang subklinis sampai dengan gejala yang sangat parah. Namun tidak ditemukan perbedaan virulensi antara strain LSD yang berbeda.

Gejala klinis yang dapat diamati adalah:

  • Demam sampai dengan 41˚C
  • Penurunan produksi susu pada sapi yang sedang laktasi
  • Depresi, nafsu makan menurun dan berat badan menurun
  • salivasi yang berlebihan
  • Nodul-nodul dengan diameter 2-5 cm pada kulit, terutama pada kepala, leher, limb, ambing, alat genitalia, dan perineum dalam waktu 48 jam setelah tanda demam. Nodul-nodul ini circumscribed, keras, bulat dan meninggi, pada kulit, jaringan subkutan, bahkan otot.
  • Nodul yang besar dapat nekrotik dan akhirnya fibrotic dan bertahan sampai dengan beberapa bulan (sitfasts); bekas luka dapat bertahan sampai sangat lama. Nodul-nodul yang kecil bisa saja sembuh tanpa menimbulkan dampak
  • Miasis pada nodul dapat terjadi
  • Sapi jantan bisa infertile secara temporal atau permanen
  • Sapi bunting bisa abortus dan anestrus untuk beberapa bulan

Kerugian yang dialami :

  1. Hingga 45% dari kelompok ternak bisa terinfeksi dan tingkat mortalitas bisa mencapai 10%.

l emasiasi (kehilangan kondisi tubuh karena tidak mau makan);

l kehilangan produksi susu temporer atau permanen;

  1. penurunan atau kehilangan seluruhnya fertilitas pada sapi jantan dan sapi  betina;
  2. keguguran; dan

l kerusakan kulit yang permanen

 

Pencegahan penyakit ini dapat dilakukan dengan Vaksinasi dan Pengendalian vector. Pengendalian vector dapat dilakukan dengan pengasapan (fogging), pemasangan pelindung pada kendang hewan, embatasan tempat berkembangbiak vektor, seperti sumber air, lumpur limbah dan kotoran kandang, dan memperbaiki drainase di peternakan.

 

 

 

 

 

 





Berita Purworejo

Counter Pengunjung